Chapter 18 : Perasaan Dilematis


———————————————————

~Love is like the wind. I can't clearly see it but I can feel it~

"Cinta itu seperti angin, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas tapi aku bisa merasakannya"

              – William Shakespeare 
———————————————————







Alfred Muller's Point Of View







Kring-Kring...!


Bunyi telepon yang berdering nyaring di tengah rapat penting bersama Client Itali-ku tak kunjung berhenti. Sial, siapa yang berani menggangguku di saat sedang penting seperti ini? Dengan kesal, surat kontrak kerja di tangan kutaruh di meja. Sambil tersengal jengkel, aku menyuruh bawahanku mengangkatnya.

Baru beberapa detik telepon itu menempel di telinganya, bawahanku langsung melepasnya, wajahnya tampak terkejut, ia lalu menoleh ke arahku.





"Bos, Sherry sudah bangun!" seru anak buahku. 

Aku langsung meloncat dan menyambar gagang telepon itu darinya.

"Berikan padaku!" perintahku.

"Hallo, Sean, dimana dia...? Apa dia sudah keluar? Lekas beritahu aku!" Belum apa-apa, aku sudah menyerangnya dengan beberapa pertanyaan.

"Tenang tuan, kau tidak usah khawatir, dia baru saja terjaga dan masih di kamarnya. Tetapi sepertinya, tidak lama lagi dia akan keluar. Sebaiknya kau bergegas sekarang!"

"Ok, aku akan segera ke sana. Terus pantau dia dari CCTV, jangan sampai lengah!" Perintahku, tegas.

"Baik, tuan!"

Segera kututup telepon itu.

Aku menghela nafas lega, "Akhirnya...," ucapku, tersenyum girang, tidak sabar ingin segera menemui rembulan pemaluku itu. Akhir-akhir ini Sherry selalu menghindar dariku, tepatnya setelah ia menciumku di taman. Ia lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya sendirian. Aku pun tak tahu persis apa alasannya. Apakah gara-gara kejadian di taman waktu itu yang membuatnya menjadi sangat tertutup padaku atau ada hal lain yang ia benci dariku? Entahlah.... Yang jelas, aku sudah muak diabaikan!

"Signor Alfred, penso che tu abbia dimenticato di non aver finito di discutere il nostro contratto di cooperazione e la progettazione del programma in futuro," salah satu Client-ku yang berjas hitam dengan kecamata tebal memanggilku. Saking senangnya, aku jadi lupa kalau aku ini sedang rapat.

(Tuan Alfred, saya kira anda lupa bahwa kita belum selesai membahas kontrak kerjasama dan rencana bisnis kita kedepan)

"Guarda, ne parleremo più tardi. Per favore torna più tardi la sera, se sei ancora interessato a collaborare con me. Ora ho affari più importanti," jawabku enteng. 


(Dengarkita bicarakan ini nantiSilakan kembali lagi lain waktu pada malam hari, jika kalian masih tertarik berkoperasi denganku. Sekarang aku ada urusan yang lebih penting

Aku tidak peduli lagi dengan kontrak kerjasama yang mereka ajukan. Kalaupun mereka membatalkannya, aku tidak peduli. Seorang Alfred tidak pernah kekurangan Client. Yang paling penting menurutku saat ini adalah, Sherry. Ya, dia. 


"Oh sì, ancora una cosa, se metti in discussione la mia decisione, annullerò volentieri il nostro contratto di cooperazione." Aku berkata dengan serius. Mereka terdiam saling pandang, memasang ekspresi tak percaya, setelah mendengar pemaparanku barusan. Wajah mereka terlihat pasi, hendak membantah tapi urung.

(Oh ya, satu hal lagi, kalau kalian keberatan dengan keputusanku ini, dengan senang hati aku akan membatalkan kontrak kerjasama kita)

"N-no, signor Alfred, non ti dispiace affatto (T-tidak, Tuan Alfred, sama sekali tidak keberatan)," Sangkalnya, tersenyum getir seraya menggeleng kepala. Ia menoleh karibnya yang duduk di sebelah.

"Naturalmente torneremo più tardi. Comprendiamo che un grande uomo d'affari come te deve essere impegnato con varie cose." Ucap salah seorang Client-ku yang berbadan menggumpal seperti galon.

Bodyguard-nya yang duduk di sampingnya, menatapku dengan wajah sebal. Aku balas menatapnya sinis. Ia pun segera berpaling. Aku tidak takut oleh kacung kelas rendah seperti dia. Lagipula, selama ini aku tidak pernah merasa takut oleh siapapun. Para begundel yang mengawalku seribu kali lebih sangar dan garang kalau bicara soal tampang ketimbang para pecundang bawahannya itu. (Tentu saja kami akan kembali lagi, Tuan! Kami mengerti seorang pembisnis hebat seperti anda pasti disibukkan dengan banyak hal)

"Ottimo!" Jawabku, tersenyum puas dengan ekspresi wajah angkuh seperti biasa. (Bagus!)

Tak ada seorangpun yang berani membantahku. Tidak akan. Sekalipun ada, sudah kupastikan nyawanya melayang dalam hitungan detik. Itulah prinsip utama hidup yang kupakai untuk menguasai dunia.

"Kau," aku menunjuk Bodyguard-ku yang hampir seluruh tubuhnya ditutupi tato, "urus sisanya! Dan kau," aku menunjuk orang di sebelahnya, "suruh Christopher Funnary untuk segera menyiapkan pesawat sekaligus pilotnya karena tak lama lagi, kami akan terbang menuju Kaun'oa Beach." Tegasku, menatap mereka sinis.

"Kami? Maksudmu kita tuan.....?" celetuk bawahanku, tak mengerti.



Beraninya ia bertanya balik saat kuperintah?


Nampaknya kali ini ia beruntung, karena terakhir kali aku mendengar anak buahku yang berkata seperti itu sudah tewas di gudang bawah tanah dengan kepala terlepas dari tubuhnya.

"Tidak usah banyak tanya, atau kau kubunuh!! Mengerti?!" Pekikku, mengencam. Bawahanku yang lain menatapku dengan segan. Tak terkecuali tamu Client-ku yang dari tadi duduk mematung. Mereka semua tertunduk, tak ada yang berani berkomentar.

"Mengerti, bos!" Ia lekas mengangguk, sambil tergesa-gesa.

"Bagus." Aku menepuk bahu mereka berdua, lalu berjalan keluar meninggalkan ruang bisnis itu.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Hemmm.... akhirnya, strategi untuk mengelabui Sherry beres juga. Aku sangat yakin kalau rencana ini akan berjalan dengan mulus. Aku sudah tahu kelemahannya dan itu pula yang membuatku tak bisa berpaling darinya. Hati lembut dan penyayangnya merupakan kelebihan sekaligus kelemahan terbesarnya. Aku sangat bersyukur ia baik.

Makanan lezat khas Perancis, Pizza dan hidangan penutup sudah kusiapkan di lemari penghangat. Sengaja kutaruh di sana supaya tidak dingin. Sementara kue tar, brownies, cokelat hangat, minuman dan buah-buahan telah kusiapkan di meja di ruanganku. Aku mengambil semua makanan itu, menaruhnya di atas nampan besar lalu menentengnya keluar untuk dipersembahkan kepada Sherry.

"Hemm, kita lihat apakah dia sanggup menolak makanan selezat ini?" Bisikku, tersenyum jahat, tidak sabar ingin segera melihat Sherry. Dengan penuh semangat, aku melangkahkan kakiku menuju kamarnya.

Sesaat kemudian aku sudah berada di depan kamar Sherry. Kulihat, pintu kamarnya bergerak-gerak dan sedikit terbuka. Aku langsung bersembunyi di balik pilar besar. Kurapatkan tubuhku pada tiang itu. Ukuranya yang lebar mampu menutupi tubuhku. Kucoba untuk mengatur nafasku agar ia tidak mendengarnya. Pintu itu itu pun kembali tertutup, dan tibalah saatnya, saat yang kutunggu-tunggu dari kemarin, Sherry akhirnya keluar dari kamarnya. Spontan, tubuhku bergerak secara otomatis bagaikan potongan besi yang ditarik magnet, menghampirinya. Akhirnya, setelah penantian panjang, aku bisa melihatnya. Aku penasaran apa yang akan Sherry katakan setelah ia melihatku.

Sherry, vengo per te!

(Aku datang untukmu)

_______________________________________



Sherry Birkin's Point Of View








Beberapa jam sebelumnya ....


Langit mulai memerah. Perlahan, mentari menghilang di ufuk timur. Sinar kuningnya menyorot sekelebat, seolah berpamitan padaku. Aku yang berdiri depan bingkai jendela, menatapnya dengan takjub. Indah bukan main.


Di batas cakrawala, senja mulai menyingsing, membungkus alam semesta dengan gelap gulita. Meski sang penguasa siang sudah tumbang, aku tetap berdiam di tempat, memandang langit yang kini mulai gelap. Aku menarik nafas, sedikit sedih karena tidak ingin momen itu cepat selesai. Sembari mendesah kecewa, aku menutup jendela dan gorden lalu berbalik menuju tempat tidur.


Kubaringkan badanku di atas benda empuk yang halus sambil menatap langit-langit. Ukirannya yang berliku-liku terlihat unik dan menghipnotis, hingga setelah beberapa menit menikmatinya, terdengar bunyi perut menggeliat dengan keras, menagihku untuk segera memenuhi jatahnya. Ya, aku baru ingat, ternyata aku belum menyentuh makanan dari tadi pagi. Aku sibuk mengurung diri di kamar seharian. Biasanya Alfred mengantarkan makanan untukku. Mungkin kali ini ia bosan karena kuacuhkan terus. Namun saat aku menoleh pintu kamar, oh, yeah......aku telah mengganjalnya dengan lemari.


Oh, cerdas Sherry...!
Pantas saja ia tidak bisa masuk!


Perutku semakin berbunyi nyaring. Kali ini disusul dengan rasa mulas yang menyembelit, membuatku terpingkal-pingkal kesakitan.


"Awww....sakit sekali!" Aku merintih kesakitan, memegang perut.


Aku bergegas menuju lemari es, membukanya, dan tiba-tiba terjelingar keras saat mendapati tak ada makanan sedikitpun di dalamnya. Aku langsung tercekat, dadaku mengempis, seperti ada yang terrenggutkan, wajahku melongo, menatap datar sebotol air di depanku. 


Apa? Hanya ada sebotol air mineral? 

Yang benar saja!




Aku mendengus kesal, menyambar botol itu, lalu meneguknya. Aneh. Seingatku, aku sudah menjejal kulkas dengan berbagai macam makanan kemarin pagi untuk persediaan hari ini. Kemana perginya semua makanan itu?


Aku tertegun keheranan, keningku berkerut, memikirkan sesuatu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Atau jangan-jangan ada yang menyelinap ke kamar saat aku sedang terlelap dan ia merampas semua makanan itu? Sial...!


Tenang Sherry, tenang, ini bukan apa-apa. Kau kuat! Kau pasti bisa melewati semua ini. Lagipula, kau tidak akan mati biarpun tidak makan seharian.


Gerutuku dalam hati. Aku memutuskan untuk diam di kamar, melawan rasa lapar. Kendatipun perutku meronta-ronta kelaparan, kupikir itu lebih baik dari pada harus keluar, bertemu dengan Alfred. Tidak! Kau pikir untuk apa aku susah payah mendorong meja berat itu? Repot-repot mengganjal pintu? Semua itu kulakukan supaya monster jelek itu tidak bisa menggangguku lagi.


Kedengarannya seperti hal yang sepele alasanku memutuskan untuk mengurung diri di kamar, tapi menurutku tidaklah demikian. Terlebih saat mendapati sikap Alfred yang semakin "ganjil" dan irrasional tatakala bertemu denganku. Entah itu tatapan anehnya ketika ia menatapku seperti singa lapar yang hendak menerkam mangsanya, atau senyumnya yang terlihat menyindirku seolah-olah ia tahu sesuatu tentang aku, atau mungkin perlakuannya yang sangat berlebihan, atau pula karena kejadian di taman dua minggu berselang saat aku TIDAK SENGAJA menciumnya...? 


Sudah kuduga, itu merupakan kesalahan terbesar yang pernah kulakukan di dalam hidupku.



Andai saja waktu bisa diputar ulang, aku tidak akan melakukan hal bodoh semacam itu!


Jam demi jam berlalu. Jarum pendeknya kini sudah bergeser ke angka 11. Sudah hampir tengah malam, tandanya aku harus segera merebahkan badan di balik dekapan selimut hangat. Namun aku masih tetap terjaga. Rasa kantuk tak kunjung menjemput setelah beberapa kali aku memejamkan mata. Akhirnya aku bangkit, duduk menyandar ke kepala ranjang sembari memegang perut yang dari tadi tidak mau diam.


Aku berpikir sejenak, mencoba menemukan solusi yang tepat. Aku tidak mungkin mengendap-endap ke luar mengambil makanan. Itu terlalu beresiko. Kalau sampai Alfred melihat aku tengah berkeliaran di luar, apalagi kalau ia tahu aku mencoba menyelundupkan makanan, tidak hanya 'benar-benar' kehilangan muka, semua rencana yang telah kusiasati sedemikian cerdik itu akan sia-sia pula. Jadi sudah pasti itu bukan solusi yang tepat melainkan MASALAH besar.


Tapi tunggu, bukannya ini sudah malam? Bisa jadi Alfred sudah terlelap di kamarnya....


Aku menoleh jam dinding. Kulihat, jarum pendeknya kini menunjuk angka 12 sedang jarum panjangnya menunjuk angka 6.


Ayo Sherry....ini kesempatan emas untukmu!


Pikiran itu terus menghantuiku, menghasutku untuk keluar kamar. Lama-kelamaan, aku pun penasaran dan langsung meloncat dari ranjang, berlari kecil menuju pintu. Namun setelah dicermati kembali, langkahku terhenti.


Apa mungkin Alfred sedang tidur di kamarnya sekarang? Bagaimana kalau ia memergokiku saat menyelundupkan makanan di dapur? Membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup, apalagi mengalaminya. Tidak, tidak, aku tidak mau ambil risiko. Keputusanku sudah bulat, aku tidak akan keluar! Titik! Tidak ada koma!


Aku mengurungkan niatku, kembali memanjat tempat tidur.


Tapi aku sudah tidak tahan, perutku benar-benar keroncongan...sampai kapan aku akan menunggu?


Lagi-lagi aku beranjak dan kembali menghampiri pintu dengan penuh percaya diri. Sesaat kemudian perasaan optimis itu sirna dan aku mulai diselimuti ketakutan yang memicuku urung, akhirnya aku ragu dan kembali berbaring di atas ranjang. Aku terjebak dalam dimensi ambivalen, mondar-mandir ke sana ke mari tanpa tujuan yang jelas, berkutat antara ranjang dan pintu, bagaikan orang linglung. Akhirnya aku berhenti dan mendengus kesal.


"Uffff BAIK....! Lupakan soal Alfred! Malam ini aku akan menyelinap keluar, mengambil makanan di dapur! Keputusan selesai!" Ujarku kesal.


Aku merintih tak kuat, gigigiku menggertak-gertak, tubuhku tertatih-tatih saat mendorong meja berat itu ke samping. Tenagaku terkuras habis, demikian pula dengan tubuhku, yang mendadak loyo setelah mendorong benda yang beratnya melebihi berat badanku sendiri. Tak apalah, lagipula, ini adalah pengorbanan untuk memulihkan energiku.


"Baiklah, kau pasti bisa Sherry!...ini sangat mudah! Fokus dan konsentrasi!" Bisikku pelan seraya menghembuskan nafas, berusaha memantapkan tekad. Sudah seperti hendak lomba saja layaknya.


"Awas kalau kau sampai berani menampakkan wajah jelekmu Alfred!"


Kerekeeeet...!


Pintu berbunyi saat kubuka pelan.
Untuk memastikan tidak ada orang di luar, aku mengintip dari balik pintu. Kulihat, tidak ada seorang pun di luar. Yes, aman! Aku langsung berjinjit keluar.


"Selamat malam, Sherry."


Spontan, jantungku mendadak tercengang hebat, seperti hendak copot, mulutku menganga lebar dan lidahku kelu tidak bisa berkata-kata, mendapati Alfred tengah berdiri mematung, menyapaku di balik pintu dengan nampan besar yang dipenuhi makanan ditangannya.


"Oh tidak, tidak... A-A-Alfred...?!" aku menggelengkan kepala berkali-kali. Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku saat melihat sesosok pria berbadan tinggi sedang berdiri di hadapanku, itu pun dengan terbata-bata. Sungguh, aku benar-benar kesulitan bernapas. Nafasku seakan tercekat dan aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. 


"Ya, Sherry, ini aku. Alfred. Kau seperti baru saja melihat hantu,"


Oh ya kau benar, aku baru saja melihat monster yang berkamuflase menjadi manusia, ia bahkan lebih menakutkan dari hantu!
Ya tuhan, apa salahku? Mengapa ini selalu terjadi kepadaku? Sial, sial, sial, siaaal...!

Keluh batinku.


Tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku hanya terdiam lesu menatapnya.


"Seburuk itukah tampangku?"

"Sherry?" seru Alfred, saat mendapatiku tak menyahut sama sekali.

"E... em.... em... kau... apa yang kau lakukan di sini?" Aku malah bertanya balik, menghiraukan pertanyaannya.

"Sherry, Kau belum menjawab pertanyaanku."

"Kau sendiri belum menjawab pertanyaanku." Jawabku ketus.

"Emm, baiklah, lupakan soal itu." Alfred tertawa kecil, matanya terfokus padaku. Ia berjalan mendekat dan berhenti beberapa sentimeter dariku.

"Aku membawakan makanan untukmu, lihat," diangkatnya nampan raksasa berisi makanan itu.


Aku terdiam menelan ludah, melihat hidangan lezat yang ia bawa. Kulihat, banyak sekali makanan di atas nampan itu. Daging, roti isi, susu, steak, pizza, buah-buahan dan ohh.... aku tidak sanggup menyebutkannya satu-persatu, semua makanan itu benar-benar membuatku semakin keroncongan.


Aku menepis pipiku dan membuang semua keinginan itu jauh-jauh. Kau tahu mengapa? seorang Sherry bukanlah wanita yang bisa dirayu oleh makanan murahan seperti itu!


"Terimakasih, tapi maaf, aku tidak lapar!" sangkalku, singkat, lalu berbalik memasuki kamar. Dengan sigap, Alfred menghadangku di depan pintu.

"Sherry, kumohon, jangan menyiksa dirimu seperti itu! Aku tahu sejak pagi kau belum makan. Tadi pagi, aku mencoba masuk ke kamarmu, tetapi pintunya sulit sekali dibuka, padahal kuncinya sudah kubuka dengan kunci serep. Lalau aku berasumsi kau sedang tidak ingin diganggu, jadi aku memutuskan untuk menunggu di luar saja."

Aku menolehnya.


"Sebentar, sejak kapan kau berada di sini? M-maksudku, menungguku di luar sini?" Tanyaku tiba-tiba, penasaran.


"Itu tidak penting, Sherry! Yang paling penting sekarang adalah kau lekas makan. Ayo, aku tidak ingin kau sakit."


"Alfred, kumohon.....katakan padaku, sejak kapan kau menunggu di luar?" Pintaku. Perasaanku mulai cemas saat melihat wajahnya yang memucat. Ia juga tampak sangat kelelahan. Kemeja putihnya yang lusuh basah dipenuhi keringat.


"Sejak pagi. Aku menunggumu di luar sini sejak pagi tadi dan ketahuilah....sedetikpun aku tidak bisa memejamkan mata karena aku terlalu sibuk menghawatirkanmu, Sherry."


"Oh....ya tuhan....pria ini benar-benar gila! Kenapa kau lakukan itu? Bukankah seharusnya kau mengetuk pintu atau memanggilku?!" Sergahku, tercengang. Aku tidak habis pikir ternyata masih ada orang yang lebih gila dari pada orang gila.


"Aku tidak punya pilihan lain mengingat kau begitu membenciku. Aku tidak mau membuatmu merasa terganggu karena kehadiranku. Aku hanya berharap kau keluar, jadi aku bisa menyerahkan makanan ini tanpa harus mengganggu waktumu." Ia berkata dengan nada rendah yang mengundang haru. Matanya menatapku dengan tatapan yang redup, menyiratkan betapa pilunya ia.


Aku terdiam kaku, tertunduk lesu, memadang jemari kakiku. Rasa sedih menyelungkup hatiku, menghilangkan banyak rasa dan selera, termasuk selera untuk mengacuhkan Alfred yang sebelumnya menggebu-gebu. Suasana tiba-tiba hening. Hanya hembusan angin malam yang terdengar. Dan jam dinding yang berdetak di ruang tengah.


"Alfred, ini tidak seperti yang kau pikirkan....aku....aku hanya...," Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Mengatakan 'aku tidak menginginkanmu' hanya akan membuat hatinya semakin tersayat.


"Hanya membenciku...?" Ia menyimpulkan.


"Tidak.... bukan itu maksudku." Aku menggeleng, menatapnya dengan iba. 

Mataku terpejam dan aku menghela nafas dalam-dalam. Tidak terasa air mata mengalir di pipiku. Aku menoleh ke samping, menyeka air mata.



"Lalu apa, huh?" Tanyanya, menuntut jawaban.


"Aku tidak tahu." Aku hanya menggeleng, dilema antara harus berterus terang atau tidak. Jujur, aku tidak ingin menyakiti siapapun, termasuk Alfred, sekalipun ia monster kejam yang menculikku.


"Hemph, kurasa aku tahu jawabannya...." Alfred membuang muka, matanya merah berair, "tapi setidaknya aku bisa memastikan kau memakan sesuatu malam ini," ucapnya, dengan nada rendah.


Alfred kembali menolehku, ia menatapku lamat-lamat. Mendadak nampan yang dipegangnya bergoyang-goyang. Kulihat tubuhnya gemetar seperti menggigil, wajahnya semakin pucat. Aku tahu ia pasti kelelahan setelah berjam-jam menunggu di luar. Aku mengambil nampan yang dipegangnya dan kutaruhnya di lantai. Aku berjinjit lalu menempelkan tanganku pada keningnya. Ya tuhan, suhu tubuhnya tinggi. Segera kuletakkan tanganku di lehernya. Sama saja, seluruh tubuhnya terasa panas. Kurasa ia terkena demam. Seketika perasaan bersalah mulai menyelimutiku.


"Hei, jangan menatapku dengan tatapan sedih seperti itu. Aku tidak apa-apa." Ucapnya, disertai tawa mecil. Kali ini suaranya terdengar parau.


Aku terdiam, mengamatinya beberapa detik, lalu bergegas ke dalam kamar. Beberapa menit kemudian, aku kembali dengan mantel dan handuk hangat di tangan.


"Kukira kau akan langsung mengunci pintu lagi." Alfred kembali berkomentar.


"Aku tidak sejahat itu."


Aku maju beberapa langkah hingga jarak kami sangat dekat.


"Menunduklah!" Perintahku, singkat dengan nada pelan.


Alfred menatapku aneh, hendak membantah namun urung. Ia menuruti apa yang kuperintahkan tanpa menanyakan alasannya. Kupakaikan mantel hangat itu di tubuhnya dan kuletakkan handuk hangat di dahinya, "tanganmu!" Ucapku, Alfred mengangguk, mengerti apa yang kumaksud, lalu mengulurkan tangannya, "peganglah jangan sampai jatuh! agar kau tidak kedinginan."


"Terimakasih," ucapnya, senang. Senyumnya mengembang.

"Simpan senyumanmu itu! Aku melakukan ini karena aku tidak tega melihatmu kedinginan," tukasku, ketus.

Senyum manisnya yang ia persembahkan padaku tadi kini memudar. Ia menatapku datar, tanpa ekspresi.

"Aku tahu." Alfred mengerlingkan mata.


Keheningan kembali mengitari kami. Setelah beberapa menit, Alfred memberanikan diri angkat bicara.

"Hei, Sherry, kau harus makan."

"Aku tidak lapar," jawabku singkat, tak ingin dan tak berniat memperpanjang obrolan dengannya.

"Sherry ayolah....aku tahu kau berbohong,"

"Kau tidak dengar? Aku bilang aku tidak lapar!"

"Sherry....,"

"Alfred, bergegaslah! Tubuhmu lemas, kau butuh istirahat!"

"Aku tidak akan pergi sebelum kau menghabiskan makanan itu." Tegasku.

"Kau pasti bergurau, aku.....," Tiba-tiba kalimatku terputus oleh bunyi perutku yang menggerutu dengan keras.


Sayang sekali, masalah perut memang tidak bisa diajak kompromi! Di saat saat seperti ini, dia malah buka kartu.
Ahh...sial! Aku ketahuan berbohong


Alfred mendongak, menatapku curiga. Aku cepat-cepat memalingkan wajah. Ingin rasanya aku berlari sekencang mungkin, bersembunyi di balik dinding besar atau apapun itu dimana Alfred tidak bisa melihatku.


"Hemph.... aku mengerti," Alfred tertawa kecil, tangannya menyilang di atas dada, mengangguk-angguk menilikku, "A quanto pare il mio piccolo gatto è timido,"" (Rupanya kucing kecilku pemalu) ia berjalan mengambil baki makanan.


Aku menggigit bibir, mencoba menghindari tatapan matanya.


"Jangan khawatir, aku akan menyimpan makanan ini di kamarmu." Ujarnya, kemudian berlalu dari hadapanku, meninggalkanku sendiri di depan mulut pintu sambil menahan rasa malu.


Bebera saat kemudian, Alfred kembali dan menuntunku ke kamar. Aku hanya terdiam kaku, wajahku pasi, lidahku kelu. Aku tidak ingin memperburuk suasana dengan mengoceh ataupun mengomentarinya.


"Makanlah, kau pasti lapar," perintah Alfred, sambil menyuruhku duduk.

"Aku akan menunggu di luar," tambahnya lagi lalu bergegas menuju pintu.

"Kau boleh tinggal jika kau mau."


Alfred yang sudah berada di mulut pintu menolehku.

"Sungguh?" tanya Alfred, memastikan apa yang didengarnya benar.

"Ya."

"Baiklah kalau begitu. Terimakasih!" ucapnya lalu duduk di sofa sampingku.

Tanpa basa-basi lagi aku melahap makanan di meja satu-persatu. Pizza, Beef Burguignon, Cassoulet, dan makanan lainnya ludes kusantap. Sesekali aku melirik Alfred. Dan saat aku melihatnya, ia sedang tersenyum melihatku. Dasar aneh!


"Kau lapar?" tanyaku, pelan, walau sebenarnya aku tidak ingin menawarinya. Entah mengapa, aku merasa iba melihat Alfred yang dari tadi terus menontonku.

"Tidak, aku tidak lapar. Lagipula, makanan itu sengaja kupesan khusus untukmu."

Aku mengambil piring di rak dan meletakkannya di meja dekat Alfred.
"Kau pikir hanya kau yang bisa menyuruhku makan. Aku pun bisa! Sekarang makanlah! Aku tahu kau juga lapar."


Alfred tertawa kecil. Ia tersenyum senang, kali ini senyumnya mengembang. Ia menyingsing mantelnya dan duduk di sebelahku lalu mulai menyantap makanan yang sudah kusiapkan di piring. Namun, belum sempat Alfred menghabiskan makanan itu, ia sudah tertidur pulas dengan kepala menyandar ke atas meja.


Aku yang baru beres mencuci tangan menatapnya dari wastafel. Alfred pasti sangat kecapaian sampai terlelap di atas meja seperti itu. Ia tertidur pulas, wajahnya tampak damai, tergolek lunglai di atas meja. Jujur saja, wanita dari belahan dunia manapun tidak akan bisa mengelak ketika mereka dipintai pendapat tentang Alfred. Sudah pasti mereka mengiyakan bahwa Alfred memang memiliki wajah yang sangat tampan. Aku sendiri benci mengakuinya. Meski begitu, bukan berarti aku menyukainya. Tidak! Aku hanya berfikir, terkadang hidup memang tidak adil! Mengapa Tuhan harus menciptakan makhluk yang jahat sesempurna itu? Mengapa ketentuan sempurna itu tidak Ia jatahkan kepada makhluknya yang berhati baik saja? Ahh... menyebalkan!


Aku tertatih-tatih mengangkat tangan Alfred yang besar dan membantunya berjalan menuju tempat tidur. Kubaringkan badannya di atas kasur dan kuselimutinya dengan selimut halus. Aku menghela nafas dalam-dalam, "Malam ini aku akan tidur di sofa," gumamku.


Ketika aku berbalik dan hendak berjalan menuju sofa, tiba-tiba Alfred menarik tanganku dan aku pun terjatuh ke atas kasur menimpa tubuhnya. Ia mulai menelungkupiku dan memelukku layaknya guling. Pelukannya erat sekali tapi tidak sampai menyakitiku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan diri dari pelukannya, namun usahaku sia-sia. Aku mulai panik dan ketakutan. Kucoba mendorong tangannya sekali lagi, dan untunglah, kali ini cengkeramannya terlepas. Aku cepat-cepat beranjak, menjauh dari ranjang. Aku mengusap-usap sekujur tubuhku seperti ada debu yang menempel di baju. Aku menggerutu, kesal karena ulah Alfred barusan. Kulihat ia masih memejamkan mata.


"Hampir saja.... Dasar aneh!" gumamku, kesal.


Aku mulai merebahkan diri di sofa, membiarkan alam bawah sadar mengambil alih ragaku untuk beberapa jam ke depan. Sebelum aku jatuh terlelap, aku sempat bertanya-tanya kepada diri sendiri, 'salahkah bila aku tidak bisa membenci orang yang ingin kubenci?'. Hahh... hidup ini memang melelahkan.



——————————————————

There you go again!

Hello my beloved readers, gimana kabarnya?

Maaf sudah membuat kalian menunggu lama, ya kalian tahu sendiri lah yang namanya mahasiswa pasti banyak ini itu, tugas lah, santuy2, hangout bareng temen, kencan sama pacar dan ya masih banyak lagi jadi ya ke-pending lagi ke-pending lagi ceritanya. Sorry ya.


Tapi sebagai gantinya, dan spesial juga buat kalian gue udah siapin tuh cerita yang panjang karena gue tau kalo kalian (para cewe) emang demen Ama yang panjang panjang, katanya biar tahan lama gitu. Hehe. Bener gak sih? Bodi ahh.

just intermezzo.

I hope you guys like it, ciao!

Best regards, jangan lupa follow up account wattpad saya, kommen dan voting!

Comments

Popular Posts