Chapter 10 : Hukuman









Sherry Birkin's Point Of View


....... : Sherry! Sherry! Sherry! Kau tidak apa-apa?

Kudengar seseorang memanggilku dan saat aku membuka mata, kulihat sosok seorang perempuan paruh baya tengah berdiri dihadapanku. Dia adalah ibuku. Kedua tangannya terikat oleh rantai besar, namun cukup baginya untuk bergerak.

Sherry : Ibu...?

Ibu : Ya, sayang, ini ibu. Kau tidak apa-apa?

Sherry : Aku baik-baik saja, bu.

Aku mencoba bangkit menuju tempat ibu namun langkahku terhenti oleh rantai besar yang mengikat tangan dan kakiku.

Sherry : Hah... Apa ini? Hah....rantai? Bu aku tersangkut!

Saat kulihat, ibuku juga terikat rantai besar, sama sepertiku. Aku melirik ke sekitarku, kulihat tempat ini sangat gelap dan kotor. Dengan bantuan sedikit cahaya yang terpancar dari atap sel, aku bisa melihat pagar besi berjejer di sampingku. Tunggu, itu bukan pagar besi.... Itu sel!

Sherry : Ibu ada apa ini? Kenapa kita dirantai? Aku tidak bisa bergerak!!

Ibu : Tenanglah nak! Kau akan baik-baik saja. Ibu janji.

Sherry : Bu, aku mau pulang! Aku tidak suka tempat ini. Disini gelap dan menyeramkan! 

Pintaku, sambil menangis.

Ibu : Tenang sayang, tanang! Kita akan baik-baik saja. Percayalah. Ingat yang pernah ibu bilang "Jangan takut dan jangan bersedih, kita tidak sendiri. Tuhan akan selalu bersama mereka yang senantiasa menyerunya.

Perkataan ibu cukup menenangkanku. Apa yang dikatakannya memang benar bahwasanya aku tidak sendirian. Aku harus kuat dan berani. Aku tidak boleh cengeng.

Sherry : Ngomong-ngomong, dimana kita, bu? Kenapa kita ada disini?

Ibu : Ibu juga tidak tahu kita diamana, sayang. Yang jelas, seseorang telah membawa kita ke tempat ini.

Sherry : Seseorang.....? Siapa?

Ibu : Dia........

Tiba tiba pintu sel terbuka dan dua orang laki-laki berbadan tegap tengah
berdiri di depan pintu sel.

Sherry : Siapa mereka, bu?

Ibu : Shuuuut.....! diamlah dan jangan berisik. Pejamkan matamu dan berdolah, maka kau akan baik-baik saja.


 Jawab ibu, singkat, menghiraukan pertanyaanku.

Aku melakukan apa yang ibu perintahkan dan langsung memejamkan mata. Di dalam hati, aku berdoa dan memohon perlindungan kepada tuhan.

Tak lama kemudian, aku mendengar suara langkah kaki berjalan memasuki sel. Langkah kaki itu semakin mendekat, membuat jantungku berdetak kencang, tak karuan. Kemudian suara itu terhenti, saat aku benar-benar yakin orang itu telah berada tepat di hadapanku. Aku tidak berani membuka mata karena aku teringat apa yang dikatakan ibu. Aku hanya terdiam membisu sambil terus memanjatkan do'a.

Aku merasakan kehadiran mereka di sampingku. Kudengar mereka melepas rantai ibu lalu menyeretnya keluar sel. Panik, aku langsung membuka mata dan mencari ibu.



Sherry : Ibu..! Ibu...! (kulihat ibuku sudah tidak ada)

........... : Ibumu harus pergi menemui ayahmu di alam baka! (kudengar seseorang bergumam dari kejauhan)

Sherry : Apa......? Siapa kau?! Tolong jangan bawa ibuku! Jangan sakiti dia!

.......... : Dia harus mati, sekarang juga!(jawabnya, tegas)

Sherry : Tidak, jangan bawa ibuku, kumohon....! Bawa saja aku! aku siap!

Ibu : Sherry sayang, dengar, kau harus tetap hidup. Jangan pernah menyerah apalagi putus asa, seberat apapun cobaan yang menimpamu. Maaf, ibu tidak bisa menemanimu lagi. Ibu menyayangimu, Sherry!

Sherry : Tidak, bu jangan pergi! Kalian tolong lepaskan ibuku! Lepaskan dia......!!!

Ibu : Ingatlah apa yang ibu bilang......maka kau akan baik-baik saja.....


Aku tidak kuasa lagi menahan tangis saat melihat ibu semakin menjauh dan akhirnya menghilang di ditengah kegelapan. Ini tidak mungkin terjadi! Tidak mungkin! Seseorang tolong ibuku!!

Sherry : Ibuuuuuuuu......!!


******************************************


Aku terbangun dengan mendadak. Kurasakan keringat dingin mulai membasahi keningku. Kucoba untuk menenangkan diri sejenak. Ternyata itu hanya sebuah mimpi. Mimpi yang barusan aku alami benar-benar membuat jantungku berdebar kencang. Mimpi yang terasa sangat nyata. Seketika, aku teringat ibuku.

Ibu....! Aku merindukanmu, bu!
Huh.....
Untunglah, itu tidak nyata.....

Gumamku dalam hati. Lega rasanya saat aku tahu itu hanya mimpi. Aku melirik ke sekelilingku, kudapati diriku berada di sebuah tempat yang gelap dan berdebu. Samar-samar tercium bau amis yang menyengat. Entah itu bau ikan.....atau darah, aku tidak begitu yakin karena aku tidak bisa melihat apapun. Singkatnya, tempat ini benar-benar tidak nyaman dan menyeramkan.

Aku mencoba untuk bangkit dan mencari sumber cahaya agar aku dapat keluar dari tempat ini. Namun langkahku terhenti ketika sesuatu mengikat kakiku. Aku tidak bisa bergerak. Tanganku kemudian meraih benda yang menyangkut di kakiku itu. Benda itu seperti sebuah besi melingkar yang tersambung panjang. Mungkin sebuah rantai. Ya, rantai.

Kemudian aku teringat mimpi tadi. Entah mengapa, aku merasa mimpi tadi menjadi sedikit nyata karena hal yang aku alami sekarang persis seperti mimpi tadi.

Sesaat kemudian, tiba-tiba lampu sel menyala dengan sendirinya, membuat mataku perih karena silau. Aku melirik ke sekelilingku. Sepertinya ini adalah sebuah sel. Kulihat tempat ini sangat kotor dan terdapat banyak bercakan darah di lantai. Pantas saja aku mencium bau amis tadi.

Darah.....? Tempat apa ini?

Saat aku melihat ke sekujur tubuhku, aku benar-benar tercengang. Betapa kagetnya saat aku menyadari ternyata aku hanya menggenakan celana dalam dan bra. Kedua tangan dan kakiku diikat dengan rantai besar.

Apa? Apa yang terjadi padaku? Apa yang telah mereka lakukan padaku?

Ya tuhan.... Ini benar-benar diluar dugaanku. Tega sekali dia melakukan ini padaku! Aku menangis histeris. Aku tidak bisa membayangkan apa yang telah mereka perbuat disaat aku tak sadarkan diri.

Tiba-tiba aku dikejutakan oleh suara tepuk tangan seseorang yang memecah kesunyian didalam sel. Mataku langsung tertuju ke arah suara berasal. Dari luar sel, tampak seorang laki-laki tengah berdiri mematung. Dia terlihat tidak asing bagiku. Dia menggenakan kemeja putih dengan jas hitam lengkap dengan dasi dan kaca mata.  Penampilannya terlihat sangat mencolok.

Siapa dia.....?

Alfred-kah?

Dia mengeluarkan sebuah kartu lalu menggesekannya pada detector pintu. Seketika itu puntu sel terbuka dan masuklah pria itu. Ternyata dugaanku benar, dia adalah Alfred.

Lagi lagi dia!


"Halo sayang! Apa kau merindukanku?" ujarnya, mengejekku, sambil melepas kecamatanya.


"Merindukanmu? Apa kau bercanda? Aku lebih baik membusuk di tempat ini dari pada aku harus merindukanmu!" timpalku.
Mendengar responku yang kurang berkenan dihatinya, mata Alfred menyudut dan keningnya mulai berkerut, menimbulakan rasa takut kembali menghantuiku.


Tiba-tiba seseorang datang dan meletakkan kursi di dalam sel, kemudian dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Alfred berjalan memasuki sel dan duduk dikursi itu. Matanya menatapku dari atas kebawah. Sial, aku tidak melakukan apa-apa, tanganku terikat dan aku tidak bisa bergerak. Aku membiarkannya menatapku yang hanya menggenakan CD dan BRA ini. Aku menutup mataku guna menahan rasa malu dan kubiarkan air mata mengalir dengan derasnya.


"Sebaiknya kau jaga mulutmu sayang, sebelum aku meledakkan peluru didalamnya!" Ancamnya.


"Silahlan lakukan! Aku senang sekali akhirnya kau berencana membunuhku." jawabku, ketus dan berusaha untuk mengendalikan emosi yang sempat tak terkontrol itu. Aku tahu, seharusnya aku tidak banyak mengoceh pada orang yang sebentar lagi akan melenyapkanku.


"Bagaimana mungkin membunuhmu dapat membuatku senang, sayang?" tanyanya, heran. Keningnya berkerut, pertanda dia tidak sependapat denganku.


"Setidaknya, jika aku mati, aku tidak harus berhadapan denganmu lagi!" ujarku, dengan percaya diri.


Alfred menggertakkan giginya karena kesal. Dia mulai mendekatiku dan membungkukan badannya sampai kami saling berhadapan. Matanya yang keemasan memancarkan aura negatif yang berbahaya, membuat hatiku berdebar kencang. Alfred mengulurkan tangannya dan mendaratkannya di pipi kananku. Dia mengelus-elus pipiku.


"Sherry, dengar, jika aku ingin menghancurkan seseorang, membunuhnya secara langsung tanpa menyiksanya terlebih dahulu bukanlah keputusan yang akan kubuat. Itu terlalu singkat, sayang. Aku akan membuat orang itu sangat tersiksa dan menderita hingga dia benar-benar berharap aku segera mengakhiri hidupnya." ucapnya, dingin. Terlintas ekspresi sadis di wajahnya. Sumpah, perkataannya membuatku merinding. Dia benar-benar bukan manusia, dia adalah iblis kejam! Ingin rasanya aku menjauh sejauh mungkin agar dia tidak bisa menemukanku. Mungkin dengan begitu aku bisa hidup tenang dan damai.


"Jadi, kau berniat menyakitiku?" tanyaku.
Alfred tersenyum, kemudian dia menatapku. 


"Aku tidak menginginkan ini terjadi, Sherry. Aku sama sekali tidak berniat untuk menyakitimu. Tapi kau sendiri yang membuatku melakukan ini. Aku sudah memperingatkanmu dan kau malah tak mendengarkanku. Kukira kau harus dihukum agar lain kali kau akan berfikir dua kali dengan siapa kau berbicara." jawabnya.


"Tega sekali kau melakukan ini padaku. Aku berharap aku tidak pernah bertemu denganmu!! Dasar kau sakit!" teriakku, kesal.


"Hhmmm....rupanya kau belum mengerti apa yang baru saja aku katakan. Baiklah." ujarnya, sambil menggelengkan kepala
Dia mengambil handphone dari saku celananya dan menempelkan telepon itu pada telinganya. Aku berharap dia tidak memerintahkan anak buahnya untuk menyakiti keluargaku. Tidak, oh tuhan jangan......! Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika dia melakukan itu.


"portami la tarantola, ora." (bawakan aku tarantula itu, sekarang.) ucapnya, dengan lembut, lalu menutup telefon tersebut. Walaupun dia berbicara menggunakan bahasa asing, aku tetap mendengarkan percakapannya. Aku mencoba menangkap apa yang dia ucapkan, namun aku sama sekali tak mengerti.


Setelah selesai menelefon anak buahnya, dia berjalan ke arahku namun dia tidak melihat wajahku. Pandangannya mengarah ke luar sel, mungkin dia sedang menunggu seseorang. Aku mulai penasaran, kira-kira apa yang akan dia lakukan?


Tiba-tiba muncul seorang lelaki diluar sel. Kulihat laki-laki itu menggenakan baju serba hitam, persis seperti kulitnya. Laki-laki itu menyerahkan sebuah kotak kepada Alfred yang kemudian diambilnya, lalu mereka berdua berjalan memasuki sel.
"Rimuovi le cravatte e sdraiati! Non dimenticare di legare di nuovo gambe e braccia!" (Lepaskan ikatannya dan baringkan badannya! Jangan lupa ikat kembali kaki dan tangannya!) kudengarkan Alfred kembali bersua dibaluti dengan aksennya yang merdu. Sungguh, aku tertarik mendengar aksennya yang lembut dan keren itu, namun saat aku menyadari kelakuan orangnya, pikiranku berhenti mengaguminya.


Dia adalah monster Sherry, camkan itu baik-baik!


Lelaki itu kemudian melepaskan rantai yang mengikat tangan dan kakiku. Aku menjerit dan berusaha melepaskan diri darinya namun dengan sigap lelaki itu menggenggam tanganku dengan kuat dan menyeretku ke atas meja. Tanganku kesakitan karena pria itu mengepalnya terlalu keras. Dia kembali mengikat kedua tangan dan kakiku. Kali ini dia mengikatku dalam keadaan berbaring terlentang.
Saat hendak menangis, aku teringat kata-kata ibu tadi dalam mimpi. Dia mengingatkanku untuk tidak menyerah.


Kau harus kuat Sherry, jangan terlihat lemah dihadapannya! Kau pasti bisa melewati semua cobaan ini!


Aku meresa seolah-olah ibuku membisikan kata-kata itu kedalam telingaku. Kata-kata yang membuat semangatku kembali menguatkanku.


Semoga tuhan melindungiku....


Setelah pria itu selesai mengikatku, tiba-tiba Alfred mengeluarkan pistol dari dalam sakunya lalu mengarahkannya tepat di bagian kepala anak buahnya. Suara tembakkan pun terdengar memecah kesunyian dan lelaki itu seketika tewas tersungkur ke atas lantai dengan tubuh berlumuran darah.


"Kau menyakiti tangan gadisku, dasar bajingan!" ujarnya, kesal, sambil menendang kepalanya ke pinggir sel.
Mataku tercengang dan mulutku menganga. Akupun tidak tahu apa yang harus kukatakan.


Ya tuhan.....Tega sekali dia menghabisi anak buahnya sendiri! Benar-benar kejam!


Aku benar-benar tidak habis pikir apa yang ada dalam fikirannya. Dia benar-benar sudah tidak waras. Teman sendiri dia habisi.


"Huh.....kau lihat, sayang? Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu." ujarnya, dingin, sambil meniup ujung pistol yang dipegangnya.


"K-kenapa k-kau me-membunuhnya? Bukankah dia itu bawahanmu?" karena panik, aku berbicara dengan terbata-bata. Aku sangat kaget menyaksikan seseorang terbunuh di depan mataku sendiri. Itu membuatku ngeri.


"Sherry, sekalipun dia adikku, jika dia melukai orang yang kucintai, dia pasti akan menderita."


Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku hanya terdiam membisu dan pasrah.


Alfred terdiam sejenak namun matanya tak berhenti menatapku. Akhirnya dia mengambil kotak hitam yang dibawa anak buahnya tadi. Tangannya meraih isi kotak itu dan saat kulihat benda hidup yang merayap di telapak tangannya, aku tercengang. Mulutku menganga dan tubuhku menggigil. Itu.... Itu adalah tarantula! Mahluk kecil yang mengerikan! Mataku mulai berair, membuat penglihatanku kabur.




"Kau tahu apa ini, sayang?" tanyanya, sambil mendekatkan mahluk mengerikan itu padaku. Alfred bertanya seolah-olah aku ini dungu.


"Itu......tarantula?" ujarku, akhirnya berhasil mengucapkan kata itu setelah berhenti beberapa saat.


"Ini bukan sekedar tarantula, sayang, tapi ini adalah obat penenang." Alfred terhenti, membiarkan perkataannya tercerna,  "Dan bukan sekedar obat penenang biasa, tapi ini adalah obat penenang spesial yang dijual khusus untukku. Kau tahu apa yang membuatnya sangat spesial?" aku hanya menganggukan kepala, sambil meneteskan air mata.


"Obat penenang ini mampu melumpuhkan ototmu berjam-jam" rasa takut kemudian muncul melalui urat nadiku saat mendengar perkataannya. "Tapi tenang saja, racunnya tidak akan melumpuhkan otot di bagian tulang igamu, ataupun bagian wajahmu, sehingga kau masih bisa berbicara, bernafas dan menggerakan kepalamu, tapi tidak dengan tubuhmu." ujarnya, setelah melihat ekpresi wajahku yang ketakutan.


"K-kenapa k-kau men-gatakan hal ini padaku?" sebenarnya aku tahu betul apa yang akan dia lakukan, namu aku berharap itu tidak akan pernah terjadi.
"Aku akan melumpuhkanmu menggunakan tarantula ini, sayang. Aku akan memberimu pelajaran karena kau telah berani macam-macam denganku." tegasnya, serius.


Dia mulai meletakkan tarantula itu diatas perutku dan aku menjerit ketakutan.
"Akh......! Tidak, tidak, tidak! Alfred, tolong jangan lakukan itu! Kumohon....!" jeritku histeris. Nampaknya teriakkanku masuk kedalam telinga yang tuli, seakan-akan dia tidak mendengarku sama sekali.


Tarantula itu merayap dari lubang pusarku menuju ke arah payudaraku. Aku menjerit setengah mati karena ketakutan. Ingin rasanya aku menangis, sekencang-kencangnya! berlari dan menjauh darinya.


Aku membencimu Alfred! Aku benar-benar membencimu!


"Oh Sherry! Semua ini tidak akan terjadi jika kau mematuhiku. Baiklah, kurasa ujian pertama telah selesai. Kita lihat apakah mau mampu bertahan di ujian yang kedua." ujarnya, tersenyum puas. Dia mengambil tarantula itu dan kembali memasukannya ke dalam kotak.
Apa? Ujian pertama? Jadi dia pikir ini adalah lelucon semata yang dia buat hanya untuk menghiburnya?


"Alfred, bunuh aku! Bunuh aku sekarang juga! Aku lebih baik mati dari pada harus melihat wajahmu!!" emosi yang bercampur dengan kekesalanku menyatu dan akhirnya membeludak bagaikan gunung meletus yang menyemburkan lahar.


"Aku membencimu Alfred!! Aku sangat membencimuuuu!!! Aku bersumpah, aku akan membencimu seumur hidupku! Aku akan membencimu!!" kemarahanku sudah tak bisa kutahan lagi dan aku tidak peduli lagi apa yang akan dia lakukan padaku. Aku sudah tidak tahan dengan sikapnya.


"Hhmmm..... Itu bukan jawaban yang kuharapkan." ucapnya, kecewa. Kulihat tangannya terkepal dan keningnya berkerut. Setelah 30 detik terdiam, Alfred akhirnya beranjak dari tempat duduknya. Dia mengambil handphone-nya dan mulai menelfon anak buahnya, "Paul Castellano, portami Veleno!" (Paul Castellano, Bawakan aku Veleno) ucapnya, singkat.


"OK. signore" (Baik, tuan)


"E assicurati che l'animale non sia tossico!" (Dan pastikan hewan itu tidak beracun!)


"pronto, signore." (Siap, tuan.)


"Ti aspetterò per 2 minuti e ricordati di non fare tardi! tranne se sei stanco della vita." (Akan kutunggu kau selama 2 menit dan ingat jangan sampai terlambat! kecuali jika kau bosan hidup)


Satu menit kemudian anak buahnya datang dengan kotak hitam ditangannya. Alfred segera menghampiri pria itu. Dia memberikan kotak itu kepada Alfred dan berlalu dari hadapannya. Alfred kembali mendekatiku dan menyimpan kotak hitam itu disampingku. Dia membuka kotak itu dan muncullah binatang yang paling aku takuti.


Kalajengking!


******************************************


Author's Note




Jangan lupa dishare, di komen, dan di vote ceritanya ya. Beritahu aku pendapat kalian mengenai cerita yang ke 10 ini. 

Selamat membaca!!

Break a leg!

Salam pemuda penuh imaginasi!!!



Comments

Popular Posts