Chapter 1 : Mobil Hitam Misterius


All right reserved. Hak Cipta Dilindungi Undang Undang. Barang siapa yang mengkopi atau mengambil sebagian atau seluruh isi dari cerita ini TANPA SEIZIN PENULIS akan di denda sebesar 50 Millyar.



Enjoy Reading......!





*****************************************



Sherry Birkin's Pont Of View




( Sherry Birkin. 18 tahun. Tokoh utama cerita yang baik hati )

"Sherry Birkin, bangun! Kalau tidak aku akan menyirammu dengan air panas!" suara teriakan keras itu terdengar oleh telingaku hingga membuatku terjaga. Perlahan selimut yang memeluk tubuhku dengan hangat terlepas. Dengan berat mata aku membuka mataku dan kulihat seseorang dengan rambut terurai panjang tengah berdiri di depan ranjangku.


Oh...ternya hanya Candice
Masih ngantuk, tidur lagi ahh.....


Aku mengerang kesal karena tidurku terganggu. Alih alih bangkit dari tempat tidur dan menyapa Candice, aku malah menyelimuti tubuhku dan kembali merebahkan badanku ke atas kasur. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.

"Apa-apaan kau ini!!?" teriakku, kaget. Aku tidak percaya apa yang telah dilakukan temanku saat dia berdiri dengan ember kosong yang di pegangnya dan tersenyum sambil memainkan bibirnya padaku. Dia baru saja menyiramku...

Sial....! Beraninya dia menyiramku! Menggangguku....! Ini adalah hari liburku, hari tidurku....


Gumamku dalam hati. Kalau saja dia bukan temanku, mungkin sudahku telan habis habis wanita itu. Tapi dia adalah teman baikku. Best friendku.


"Apa kau sudah gila, Candice!" teriakku padanya sambil memegang bajuku dan meraba-raba tempat tidurku yang basah.



( Candice Parker McGrillen. 20 tahun, teman dekat Sherry )

"Lihat apa yang telah kau lakukan?" teriakku lagi, kesal, kemudian menunjuk pada baju dan kasurku.
Dia malah mengerlingkan matanya dan tertawa padaku. Lalu berkata

"Ah, ayolah...! Kau adalah wanita termalas yang pernah kutemui. Hari ini cuacanya sangat cerah, bagaimana kalau kita pergi ke Mall untuk bersenang-senang?"

"Sudah berapa kali aku bilang, Candice, Aku tidak suka pergi ke mall?! Kau tahu? Ibuku sedang tidak punya uang dan aku harus berhemat."

"Oww, ayolah....kalau masalah uang, kau tak usah memikirkannya. Biar aku yang urus!"

"Maaf aku tidak bisa. Aku ada tugas kuliah yang harus dikerjakan sekarang." jawabku.
"Aku tidak ingin mendengar alasan apapun, kita tetap akan pergi ke Mall untuk belanja dan bersenang-senang, paham!?" paksanya, keras kepala.

"Teman baikku yang menyebalkan, aku bilang aku tidak bisa apa kau tak dengar? Apa aku harus menggunakan korek kuping untuk menghilangkan kotoran yang menyumbat telingamu?"

"Sherry, kumohon...kali ini saja, please.....! Kau bisa mengerjakannya sepulang dari Mall" bujuknya.

"Huuhhh....Iya, iya, iya terserah." aku mengalah.

Dasar, pengganggu..!

"Oke, mandi dulu sana! Baumu tidak enak dan Penampilanmu benar-benar berantakan!" ujarnya padaku, dengan gaya kocak-pinggang.


Aku membelalak padanya saat dia berdiri dan berkata dengan gayanya yang seksi.
Candice terlihat sangat sempurna di usianya yang sekarang. Matanya yang berwarna hijau berkilauan dan rambutnya yang hitam kecoklatan itu membuatnya tampak lebih elegan. Dia juga memiliki badan yang mulus dan seksi. Kulitnya yang putih dengan rambut yang agak keriting terurai panjang melalui lehernya. Ayahnya, Tuan Liam Parker memiliki perusahaan ternama di Lousiana ini. Dan Ibunya nyonya Haley Parker, memiliki toko butik di dekat rumahnya. Singkatnya, dia berasal dari keluarga yang terpandang, yang memiliki reputasi terhormat di kalangan masyarakat. Candice tinggal bersama orang tuannya dan juga Garry kakaknya. Dia selalu pergi ke tempat Gymnastic setiap hari untuk berolah raga. Dia selalu bersikeras mengajakku pergi ke tempat Gym tapi aku selalu menolaknya. Aku tidak terlalu suka berolah raga, disamping itu, ada hal lain yang lebih penting yang harus aku lakukan. Menurutku, Candice adalah sahabat baikku yang sempurna karena kecantikannya mampu membuat para lelaki tergila-gila.


Dan mengenai aku...?
Yah, seperti itulah.


Aku memiliki rambut panjang berwarna coklat yang mencapai bahu dengan mata hitam keemasan dan tubuh yang ramping. Kupikir tubuhku tidak seseksi Candice yang di idam-idamkan oleh kebanyakan wanita dan menjadi pujaan hati para pria.
Setelah selesai mandi, aku kembali ke kamar untuk mengganti baju. Aku menggenakan baju blus biru dengan rok panjang berwarna hijau yang menjangkau tumitku. Aku tidak terlalu ahli dalam hal berdan-dan. Hanya sedikit make-up dan maskara sudah cukup untuk merias wajahku. Aku mengambil sepatu highheels yang dibeli Candice sebulan yang lalu. Dia selalu membelikanku barang ataupun kebutuhan pokok lainnya di saat keluargaku sedang tidak punya uang. Namun saat aku hendak membayarnya kembali, dia selalu menolaknya dengan alasan "kau lebih membutuhkannya daripada aku".

Yahh, dia adalah sahabat baikku.
Kemudian kami berangkat dengan mengendarai mobil milik Candice.


******************************************


Sesampainya di Mall......


"Sherry, lihat pria itu! Dia benar-benar tampan!" bisiknya, sambil menunjuk pada seorang pria tampan yang sedang duduk di dekat lift.

Aku menarik tangan Candice untuk beralih ke tempat lain dan mengerlingkan mataku pada pria itu dengan sinis.

"Hey, tunggu! apa kau sudah gila? Kau bersikap seperti itu terhadap pria setampan dia?" serunya heran, tak percaya atas apa yang telah aku lakukan.

"Candice, aku tidak tertarik terhadap pria sombong seperti dia. Kau tahu? Mereka itu egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Percaya padaku, dia pasti akan meninggalkanmu setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan." paparku dengan jelas.

"Jangan menuduh orang sembarangan! Sherry, kau telah berusia 18 tahun lebih dan kau masih saja menunggu seseorang datang menjeputmu. Jika kau ingin mempunyai pacar, maka kau harus membuka matamu lebar-lebar dan mulai berkencan!"

Bla, bla, bla.....
Aku tak habis pikir, kenapa aku memiliki teman yang cerewet dan menyebalkan seperti dia?

Argh....tapi setidaknya dia baik dan mengerti aku.

"Terserah kau saja!" ucapku, mengalah. Berdebat dengannya hanya akan membuat uratku mengencang. Dia adalah tipe gadis keras kepala, begitu juga aku.

Kami telah mencoba berbagai macam baju dan sepatu. Candice bersikeras membayar semua baju yang aku beli namun aku menolaknya. Dia sudah sering membayar belanjaanku, dan kali ini aku masih punya uang, walaupun sedikit. Kukira cukup untuk membayarnya. Namun saat melihat total tagihan yang harus kubayar, mulutku menganga. Ya tuhan....!! Mahal sekali! Aku menggigit bibirku kemudian melirik ke arah Candice. Dia hanya tertawa saat melihatku kaget akan harga baju tersebut.
"Ada masalah sayang?" tanyanya, tertawa kecil, aku tahu ia memojokanku.

"Uangku tidam cukup." jawabku, malu.
Dia tersenyum padaku lalu menyerahkan beberapa lembar uang pada penjaga kasir itu. Setelah mengemas semua belanjaan, kami pun bergegas menuju mobil Candice yang diparkir di dekat pohon bersampingan dengan mobil-mobil lainnya.
Sepanjang jalan, aku mendengarnya berceloteh tentang pria tadi. Namun, aku tak menghiraukannya. Mataku beralih pada sebuah mobil hitam yang terparkir bersebelahan dengan mobil Candice. Entah mengapa, rasanya aku pernah melihat mobil itu, tapi dimana?


Mungkin hanya perasaanmu saja Sherry.


Pikirku dalam hati. Aku memang belum pernah bertemu dengan orang yang mengendarai mobil itu. Tapi mobilnya....ya, aku pernah melihatnya beberapa kali, dan selalu berpindah pindah. Seperti.....


Apa mungkin dia membuntutiku?
Tidak mungkin!


Aku menutup mataku berharap agar mobil itu lekas pergi, namun begitu kubuka kembali mataku, mobil itu masih berada di sana. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Candice. Kudengar dia sedang berbicara tentang ikan hiu, entahlah.... mungkin sebuah film atau semacamnya. Kami berdua memang suka menonton film dirumahku. Khususnya film horor, itu sudah menjadi favorit kami.


Aku mencoba untuk tidak panik dan bersikap tenang seperti biasa. Namun rasa takut yang timbul didalam pikiranku semakin menjadi-jadi. Aku baru sadar bahwa mobil itu sudah membuntutiku kemanapun aku pergi selama dua minggu, ke Mall, ke kampus, ke rumah Candice, dan ke tempat tempat yang biasa aku kunjungi. Awalnya aku berpikir kalau mobil itu tak sengaja diparkirkan didekatku, namun lama-kelamaan aku curiga karena mobil itu selalu terparkir tak jauh dariku, seolah-olah sedang mengawasiku.


"Candice, lihat! Itu adalah mobil yang kuceritakan padamu beberapa hari yang lalu. Mobil itu selalu membuntutiku kemanapun aku pergi." bisikku padanya, sambil menunjuk mobil yang terparkir tak jauh dari mobilnya. Matanya langsung tertuju pada mobil itu dan menatapnya dengan curiga.

"Sherry, kurasa itu hanya perasaanmu saja. Memangnya siapa yang membuntutimu? Kau kan tidak punya musuh ataupun pengagum rahasia." paparnya dengan jelas.
Aku mempertimbangkan kata katanya. Itu benar, aku memang tidak pernah mempunyai musuh atau mantan kekasih yang gila atau psychopath. Aku bukanlah gadis yang populer. Saat aku sedang duduk di bangku SMA, aku tidak populer sama sekali dan aku juga tidak pernah bertengkar dengan siapapun hingga dia menyimpan dendam padaku. Ada banyak ribuan gadis cantik di L.A. ini dan itu tidak mungkin sekali kalau orang itu sedang menargetkanku.


"Candice, bagaimana kalau kita pergi ke restaurant, perutku sudah mulai keroncongan." tanyaku, mengalihkan topik pembicaraan.


"Baiklah, sayang. Perutku juga sudah meronta-ronta kelaparan." jawabnya, agak berlebihan.


Kami berdua makan di sebuah restaurant yang bersebrangan dengan Mall. Kudengar Candice terus saja berceloteh tentang orang tuanya yang bertengkar dengan kakaknya Garry saat dia tertangkap basah sedang telanjang-telanjangan dengan seorang wanita di kamarnya. Aku mencoba untuk tertawa saat melihat tingkahnya yang lucu, namun pikiranku masih tertuju pada mobil itu. Mungkinkah aku sedang berhalusinasi atau memang benar aku sedang dibuntuti seseorang? Entahlah......


Setelah merasa kenyang, kami berdua memutuskan untuk pulang. Ibuku pasti sudah pulang kerja. Dia bekerja pada sebuah klinik kecil sementara aku dan adikku selalu membantunya menjelang akhir pekan. Karena menjadi orang tua tunggal, ibuku harus bekerja banting tulang setiap hari. Aku selalu sibuk dengan kuliahku sedangkan adikku Kelsey masih kecil. Aku selalu menyempatkan diri untuk membantu ibu. Dia selalu bekerja hingga larut malam hanya untuk menghidupi kami dan pendidikan kami. Dan karena ayahku.....ya...ayahku, aku tak ingin membahasnya. Dia telah meninggalkan kami sejak 18 tahun yang lalu dan aku tidak tahu apa alasannya.


******************************************


"Sampai besok, Candice! Terima kasih banyak untuk belanjaannya!! Lain kali kau tak perlu mentraktirku!" ucapku, sambil keluar dari mobil.

"Sampai besok! Sama-sama, cantik. Baiklah, bye!" ujarnya, tersenyum.

"Jangan lupa untuk menjemputku besok pagi, aku tidak ingin telat pergi ke kampus!" seruku.

"Tentu saja, sayang." jawabnya, lalu memelukku. Aku menunggu diluar sampai mobilnya tak terlihat. Kulihat mobil ibuku sudah terparkir di garasi. Dia sudah pulang. Bibirku tersenyum seketika karena akhirnya kami akan menghabiskan waktu bersama.

Saat aku berbalik hendak masuk ke rumahku, tiba-tiba aku melihat mobil hitam yang sama yang tadi kulihat di Mall, terparkir jauh di sebrang jalan. Ada rasa penasaran yang terlintas di benaku begitu aku menatap mobil itu lebih dekat, apakah orang itu benar benar sedang membuntutiku? Atau itu hanya perasaanku saja? Tanpa berpikir panjang aku langsung menghampiri mobil itu untuk memastikan siapa orang yang ada di dalam mobil itu. Namun, ketika aku sudah berada tepat di depannya, tiba-tiba saja mobil tersebut melaju kencang dengan kecepatan penuh menjauh dariku. Hingga dalam hitungan menit, mobil itu sudah menghilang.


Haahhh?? Ada apa dengan mobil itu...? Aneh sekali..!


Aku mengangkat bahuku, heran dan sekaligus bingung, siapa orang itu? Aneh sekali! Kenapa mobil itu tiba-tiba saja ngebut? Tanpa memperdulikannya lagi aku langsung bergegas menuju rumahku.
Setelah berada dirumah, aku di sambut dengan aroma pizza yang lezat. Satu-satunya orang yang dapat menghidupkan suasana rumah, seperti rumah kita yang dulu adalah ibuku.






(Ethany Berkin. 40 tahun, Ibu kandung Sherry )

"Hai, bu. Sore." sapaku, sambil memeluknya.

Ibuku tersenyum padaku.

"Hai, Selamat sore, sayang. Bagaimana dengan belanjanya? Apa kau senang?" tanyanya.

"Tentu saja, bu. Siapa yang tidak suka belanja? Walaupun ada, sudah pasti itu langka." jawabku dengan semangat, namun sebenarnya aku suka bohong.


Sebenarnya aku tidak terlalu menikmatinya karena ada beberapa alasan. Tapi...sudahlah lupakan saja!


Setelah menyantap pizza, aku bercerita tentang perjalananku dengan Candice tadi. Kemudian pikiranku beralih pada mobil hitam yang selalu membuntutiku. Tadinya aku ingin memberitahu ibu, tapi aku tidak mau membuatnya khawatir. Bisa-bisa dia melarangku bermain di luar rumah lagi. Dan aku tak mau hal itu terjadi. Aku menanyakan tentang pekerjaannya dan dahiku mulai mengerut saat mendengar dia akan melamar pekerjaan lagi.

"Tidak! Aku tidak akan membiarkan ibu bekerja selama itu." jawabku, tudak setuju.

"Tapi sayang, ibu harus! Kalau ibu tidak bekerja siapa yang akan membiayaimu dan Kelsey?"




( Kelsey Tiffany Birkin. 5 tahun, adik kandung Sherry )

Kelsey adalah adikku. Dia 13 tahun lebih muda dariku. Dia adalah anak yang sangat ceria yang pernah kutemui. Kami terbiasa berterngkar, bermain, bersenag-senang, dan saling menyayangi satu sama lain. Tapi sekarang Kelsey sedang berada dalam perjalanan study tour selama dua minggu, jadi hanya aku dan ibu yang berada dirumah.

"Bu, aku tidak bisa menyaksikan ibu bekerja banting tulang hingga larut malam. Ibu sudah bekerja cukup lama, dan sekarang ibu akan memperpanjang lagi jam kerjamu. Dengar, pagi-pagi ibu mengambil tumpukan pakain kemudian ibu harus pergi ke peternakan paman Ben untuk memerah sapi lalu pergi ke klinik. Aku tidak bisa menjadi anak durhaka yang tega membiarkan ibunya bekerja keras seorang diri sedangkan aku dan Kelsey....menikmati hasil kerja kerasmu." jawabku, dengan sedih.

Ibuku terdiam sejenak.

"Kau tahu? Ibu beruntung memiliki anak sebaik dirimu." ujarnya tersenyum.

"Aku bukan anak yang baik. Maksudku, tidak cukup baik."

"Semua orang tua pasti bahagia memiliki anak sepertimu!" timpalnya, tersenyum bahagia.

"Jangan berlebihan, bu! Kau membuatku malu." pipiku memerah saat mendengar ibu mengutarakan kalimat itu.

"Ah-ha, benarkah anak ibu malu?" jawabnya, sambil mengedipkan mata.

"Bagaimana keadaan Kelsey? Apa dia menikmati study tournya?" tanyaku, mengalihkan topik pembicaraan.

"Ya, tentu saja. Dia malah lebih menganggapnya pergi piknik." ibuku tersenyum.

Aku mengikutinya dengan tawa kembali.
Kami menonton TV bersama sebentar. Lalu beberapa saat kemudian aku merasa mataku berat dan menutup dengan sendirinya.

Kemudian aku kembali terjaga dan menguap.

"Baiklah bu, kurasa aku akan tidur sekarang. Hari ini sangat melelahkan sekali."

Ibuku tak menyahut sama sekali. Saat kutahu dia tidak meresponku aku meliriknya dan kudapati dia sudah tertudur pulas. Aku tertwa. Dia bekerja melebihi kapasitasnya. Tiga pekerjaan dia kerjakan sekaligus tentu saja di usianya yang sekarang ini dapat membuat tubuhnya mudah lelah. Aku tahu ibuku sangat sedih walaupun dia tidak pernah menunjukannya padaku. Aku bisa merasakannya melalui suara dengkurannya yang keras. Dia selalu berpura-pura ceria dan tegar dan mencoba menghiburku dan menguatkanku saat aku sedang sedih atau frustasi. Tapi aku sangat tahu ibuku. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia sangat sedih. Ingin rasanya aku memeluk ibu, tapi sekarang dia harus istirahat. Begitu juga denganku. Aku dan Kelsey telah bersikeras menyarankan ibu agar mulai mencari pendamping hidupnya yang baru, namun dia selalu menjawab 'tidak'. Hampir dua kali ibu berhasil namun hubungannya hanya bertahan sampai dua minggu.

Kelsey mengira itu adalah kesalahan kami berdua karena terlalu memaksanya. Mungkin ibu masih mencintai ayah. Sebenarnya aku tahu apa alasan ibu tidak menikah lagi, tapi aku tidak bisa memberitahu adikku karena dia masih kecil. Aku terpaksa menyembunyikan hal ini darinya.

Karena tak ingin membangunkannya, aku langsung mematikan TV dan perlahan menyelimuti ibuku dengan selimut.
Aku bergegas menuju piring piring kotar yang menumpuk di atas meja lalu mencucinya satu-persatu. Aku berusaha agar tidak berisik saat mencucinya agar ibuku tidak terbangun. Aku tidak mau mengganggunya. Ketika sudah selesai, aku langsung masuk ke kamarku.

Aku mandi dulu sebentar, lalu berjalan menghampiri tempat tidurku. Saat itu jam telah menunjukan pukul 23.30 pm. Aku merebahkan badanku ke atas kasur lalu memejamkan mataku sejenak, berusaha untuk tidur. Entah mengapa, setalah beberapa menit memejamkan mata, aku masih saja terjaga. Lalu aku mulai memikirkan mobil hitam misterius yang tadi terparkir di jalan.


Kenapa mobil itu selalu ada di mana-mana? Apakah itu hanya sebuah halusinasi? Atau memang ada orang yang sedang mengikutiku? Apa aku akan diculik? Atau dia akan mencoba mencelakaiku? Atau bahkan membunuhku?


Entah mengapa, aku mulai merasa bahwa diriku sedang terancam.
Oh tuhan.....!


Sherry kau sudah berlebihan!
Gumamku dalam hati.
Sungguh, kurasa aku harus berhenti menonton film horor !!


******************************************


Author's Note


Gimana ceritanya?? Seru gak?
Karakternya pasti oke, ya? Orang aku udah kasih gambaran mengenai karakter-karakternya 😁👌
Ini adalah pertamakalinya saya membuat novel, jadi mohon maaf bila kalian menemukan banyak kesalahan 🙏😊😋. Terima kasih telah membaca. Jangan lupa komen, share dan voting ya.....salam pemuda penuh imajinasi 👊👊✌!!!

Comments

Post a Comment

Popular Posts