Chapter 19 : Sherry Duculik!
_________________________
________________________
________________________
🌸"Sekiranya cinta dapat membuat seseorang bahagia, mengapa masih banyak orang yang merasa dirugikan oleh cinta?"🌸
_________________________
_________________________
Sherry Birkin's Point Of View
....the honored Mr. Alfred Muller, we have just been cleared to land at the SuperLimo Honolulu Airport in two hours later. Please make sure one last time, when the landing is going on, your seat belt is securely fastened. By then, the flight attendants will be passing around the cabin to make a final compliance check and pick up any remaining cups and glasses. Enjoy your flight sir. Thank you.
"Tuan Alfred Muller yang terhormat, kami baru saja diinformasikan untuk mendarat di bandara SuperLimo Honolulu, Hawaii. Pada saat pendaratan sedang berlangsung, tolong pastikan sabuk pengaman Anda terpasang dengan erat. Nanti para pramugari akan melewati kabin untuk melakukan pemeriksaan terakhir dan mengambil cangkir dan gelas yang tersisa. Selamat menikmati penerbangan Anda, Tuan. Terima kasih."
Sayup-sayup, terdengar suara yang menggema di telingaku. Aku pun sedikit terusik dan mencoba membuka mata.
"Kedengarannya seperti suara pilot di dalam pesawat," gumamku kepada diri sendiri.
"Itu memang suara pilot,"
"Ya, kau benar. Sepertinya terlalu banyak bermimpi membuatku berhalusinasi tinggi sampai mendengar suara pilot di dalam kamar segala," timpalku, tertawa sambil membelek, lalu kembali merebahkan badan tanpa menoleh siapa yang berbicara barusan.
"Kau tidak sedang bermimpi, Sherry. Kau memang sedang berada di dalam pesawat."
"Jangan membuatku tertawa! Kau pikir aku mampu membayar tiket pesawaaa....?" aku terhenti, teringat akan sesuatu,
Siapa laki-laki ini?
"Tunggu, siapa kau?!"
Penasaran, aku tergesa-gesa beranjak dari tempat tidur untuk memastikan orang itu dan seketika aku terdiam dengan mulut menganga saat mendapati seseorang yang tak ingin aku temui berdiri di depanku. Ya, kau benar. Alfred.
"A-alfred!? K-kenapa kau ada disini?"
"Ini kamarku. Apa aku salah berada di kamarku sendiri?"
Aku melirik kanan-kiri dan kudapati diriku berada di dalam sebuah kamar luas yang dipenuhi pernak-pernik megah, dengan cat dinding berwarna biru muda lengkap dengan dekorasi dan interior kamar yang serba megah bernuansa Itali. Kali ini desainnya sedikit berbeda dari kamar-kamar sebelumnya, terlihat agak klasik tapi tetap elegan.
"E... ini kamarmu?"
Alfred tersenyum menyeringai padaku.
"Oh, ya... tentu saja ini kamarnya," gumamku, "aku tahu ini kamarmu tapi... tapi...,"
"Tapi...?" Alfred mengulangi ucapanku sembari menatapku dengan bulu alis yang menyudut. Ia mulai mendekat dan duduk di sampingku.
"Tapi kenapa aku ada disini...?! Jangan bilang kau... Alfred aku bersumpah, aku tidak akan memaafka–"
"Ow, ow, ow tenang Sherry, tenang, ok?" ucap Alfred, beringsut mendekat. Aku merangkak mundur guna membuat celah diantara kita namun ia terus menyudutkanku dan akhirnya meraih bahuku,
"Kau baru bangun tidur dan kau langsung menuduhku yang tidak-tidak. Bukankah sudah kubilang, aku tidak akan menyakitimu dengan melakukan hal seperti itu, meski aku tahu aku sangat ingin melakukannya. Kau tahu, lebih baik aku tidak bercinta denganmu seumur hidup dari pada aku harus kehilanganmu," jelas Alfred dengan tatapan yang sangat meyakinkan. Matanya yang berbinar seolah memberiku isyarat untuk mempercayainya.
"Kau tidak berbohong kan? Kau yakin tidak melakukan apapun padaku saat aku tertidur?" tanyaku, tak percaya. Aku menepis tangan Alfred dari bahuku dan beranjak dari tempat tidur.
"Aku tidak melakukan apapun, Sherry. Aku hanya duduk di sofa sambil melihatmu tertidur. Itu saja." Alfred bediri dan berjalan menuju meja.
"Dasar orang aneh!" timpalku.
"Tapi syukurlah. Emm.... Maaf sudah menuduhmu yang tidak-tidak. Aku hanya... terperanjat saat melihatmu berada di kamarku. Lalu, kenapa aku ada di kamarmu? Seingatku semalam aku tidur di sofa."
Mengingat peristiwa semalam membuatku penuh tanda tanya. Pasalnya aku tidak ingat apa-apa.
"Heh," Alfred malah tertawa menjengkelkan. Tangannya meraih segelas susu di meja dan berbalik ke arahku. Diteguknya susu itu, "kau memang seperti mayat saat sedang tidur. Bunyi sirine mobil pemadam kebakaran pun tak mempan padamu. Tapi kurasa itu ada baiknya juga."
"Apa maksudmu? Bicara yang jelas Alfred! Katakan padaku kenapa aku ada disini?"
"Hmm... kau disini karena aku menginginkannya. Lagipula, saat ini kita sedang dalam perjalanan menuju Hawaii—ke pulau peribadiku. Kau dan aku akan berlibur disana selama beberapa hari tanpa ada seorang pun yang mengganggu," jelas Alfred dengan girang, seolah aku akan senang mendengarnya.
Mataku terbelalak dan jantungku seakan mau copot saat mendengar Alfred mengatakan Hawaii.
Apa dia sudah gila? Memangnya dia pikir dia siapa? Mengapa ia selalu bertindak seenaknya kepadaku?
"Apa kau bilang? Hawaii? Kau pasti bergurau!"
"Aku sama sekali tidak bergurau. Kuulangi lagi, aku—dan kau akan berlibur dan menghabiskan waktu beberapa hari di Hawaii."
Tubuhku mendadak lesu, tak bertenaga. Wajahku seketika memucat, seperti baru saja mendengar kabar buruk. Nafasku tersentak, bagaikan mendapat pukulan keras dan kini butiran hangat mulai menetes di pipiku.
"Tidak, ini tidak benar!" gumamku, sambil menatap Alfred kesal lalu berjalan keluar meninggalkan ia di kamar sendirian.
Baru selangkah keluar kamar, aku sudah dikejutkan dengan pemandangan interior ruangan yang cukup memukau, super canggih dan penuh gaya, persis seperti di dalam hotel ternama bahkan lebih bagus. Kulihat, sofa empuk berbentuk unik dengan meja kaca yang berdesain cantik. Diatasnya terdapat bunga tulip dan berbagai macam hidangan lezat yang menggugah selera makan. Di samping kiri, terdapat pula lemari cantik dengan TV yang ber-LCD cekung tipis di tengahnya, dan di sebelah kanan, terdapat lemari es, kamar mandi dan furniture lainnya. Ruangan yang hanya ada dalam fantasi kebanyakan orang. Aku tak habis pikir, berapa besar biaya penginapan untuk semalamnya? Pasti sangat mahal. Bicara soal gaya dan kemegahan, laki-laki itu sungguh diluar nalar manusia!
Saat sedang asyik menikmati suasana ruangan yang indahnya bukan main, mataku menemukan sesuatu yang lebih menarik. Ya jendela, aku suka melihat pemandangan luar jendela dan merasakan udara segar menerpa wajah.
Terdapat jendela dengan gorden cantik berwarna biru dongker di dekat sofa. Warna kesukaanku. Penasaran, aku menyingkap gorden itu dan saat aku berniat membukanya. Aku terhenti dan langsung terpukau oleh apa yang sedang kulihat. Oh tuhan aku pasti sedang menghayal. Kulihat gumpalan benda yang terlihat seperti kapas putih berpadu dengan langit berwarna biru cerah terhampar luas sejauh mata memandang. Benda itu tampak bergerak cepat seperti menjauh namun tiada habisnya dan terlihat sangat jelas di depan mata. Seperti gumpalan kabut, bukan, lebih tepatnya gumpalan marsmellow raksasa. Indah, sangat indah hingga membuatku beberapa kali meneteskan butiran hangat.
Ternyata dia tidak bercanda...
Aku selalu bermimpi melihat pemandangan seperti ini bersama keluargaku! Ibu... Kelsey....
"Kau menyukainya?" tanya Alfred.
Aku terdiam seolah tak mendengarnya, dengan pandangan masih menghadap ke luar jendala. Kuseka air mata yang dari tadi tak mau berhenti.
"Ketika melihat sesuatu langka yang cantik dan memesona, siapa pun pasti tertarik untuk memilikinya. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan sesuatu tersebut. Itulah yang kurasakan saat aku melihatmu."
Lagi-lagi aku tak menggubris perkataannya dan langsung bergegas menuju kamar.
"Sherry!"
Aku tak menyahut.
"Sherry!" seru Alfred, kembali memanggilku dan kali ini ia berlari menghampiriku.
"Jangan!" spontan, aku berbalik dan melepaskan tangannya yang menarikku.
"Sherry...."
"Jangan pernah memanggil nama itu lagi! Hanya sahabat dan keluargaku saja yang boleh memanggilku dengan sebutan itu!! Kau menghacurkan semua harapanku, merampas semua kebebasanku. Kau membuatku jauh––jauh, dan semakin menjauh dari keluarga dan orang-orang yang kucintai!"
"Maafkan aku Sherry. Aku... aku tak bermaksud menyakitimu."
"Aku membencimu, Alfred." gumamku, pelan, lalu bergegas meninggalkannya berdiri mematung ditengah ruangan.
________________________
"....Selamat datang di bandara SuperLimo Honolulu, Tuan Alfred Muller. Waktu setempat pukul 12.00 P.M. dengan suhu 20°c. Atas nama Internasional American Airlines dan segenap kru yang bertugas, kami ucapkan terimakasih sudah bergabung dengan kami pada perjalanan kali ini. Kami tidak sabar melihat anda dalam penerbangan berikutnya. Semoga perjalanan anda menyenangkan...!"
Alfred menengokku yang dari tadi tak bersuara. Matanya menatapku iba.
"Setelah kita selesai berlibur di Hawai, aku berjanji akan membawamu pulang, Sherry. Jangan khawatir," ucapnya pelan, "bergembiralah, aku tidak tega melihatmu sedih seperti itu." Alfred menghapus air mataku dengan lembut lalu menggenggam tanganku untuk bergegas ke luar ruangan. Aku hanya diam, membiarkan ia berbuat sesukanya. Rasanya bibir ini tak berselara untuk berbicara selama aku masih melihatnya di hadapanku.
Kami berjalan melewati lorong pesawat. Kulihat, terdapat beberapa kursi megah yang berjejer. Anehnya tidak ada satu penumpang pun disana.
Aku sempat ingin melontarkan pertanyaan pada Alfred, namun tiba-tiba aku mengurungkan niatku.
Aku ini sedang marah !
"Bawa bagasi dan barang-barangku ke luar!" perintah Alfred kepada 2 orang bodyguard yang tengah berjaga di mulut pintu Exit.
"Baik tuan."
Alfred kembali menggenggam tanganku dan menuntunku keluar pintu Exit.
Tak jauh dari pesawat, tampak seseorang dengan mantel hitam tengah berdiri di tengah Airport. Pria itu melambaikan tangan pada kami. Tidak, lebih tepatnya pada Alfred. Kami berjalan menuju Airport.
(Airport)
Suasana di dalam Airport sungguh berbeda. Meskipun dikerumuni banyak orang, udaranya terasa sejuk karena di setiap ruang tunggu dan tempat duduk, telah disediakan AC. Alfred menggenggam tanganku erat-erat, tangan kanannya menarik pingganggku dengan posesifnya, seolah tak mengijinkan siapa pun mendekatiku.
(Airport)
Suasana di dalam Airport sungguh berbeda. Meskipun dikerumuni banyak orang, udaranya terasa sejuk karena di setiap ruang tunggu dan tempat duduk, telah disediakan AC. Alfred menggenggam tanganku erat-erat, tangan kanannya menarik pingganggku dengan posesifnya, seolah tak mengijinkan siapa pun mendekatiku.
"Hei... coba tebak siapa yang datang? Alfred! Wow! Bagaimana kabarmu sobat?" teriak pria itu dengan riang sambil menyalami Alfred. Ia tampak senang dengan kunjungan Alfred, sayangnya Alfred tidak se-antusias temannya itu. Alfred hanya membalas sapaan temannya dengan ekspresi dingin dan wajah yang datar.
Sungguh tidak sopan!
"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan pulau nya? Sudah kau pastikan tak ada seorang pun disana?"
"Oh... Bung, ternyata kau masih menyebalkan seperti biasa, kau bahkan tidak menanyakan keadaanku! Teman macam apa kau ini?!" gerutu pria itu, "tapi ya sudahlah. Oh tunggu, ini gadis yang kau bicarakan itu? Oh tuhan, dia benar-benar malaikat."
Bulu alis Alfred mengerut mendengar kata-kata temannya barusan.
"Hai cantik, maaf aku menghiraukanmu. Boleh aku tahu namamu?" ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya padaku.
Tepat sebelum tangan pria itu menyalami tanganku, Alfred menarikku kebelang dan menepis tangan temannya dengan keras.
"Kuperingatkan! Jangan berani-berani menyentuhnya!" tegas Alfred, geram.
"W-whoa... Santai bro! Tenang! Aku tak ada maksud apa pun! Aku hanya ingin berkenalan dengannya, Ok? Tidak apa-apa kan, nona?" ia melirikku.
Aku mengangguk.
"Lihat? dia sendiri tidak keberatan."
Alfred menatap temannya kesal. Ia mengepal tangannya, menahan emosi.
"Hai, namaku Christoper Funnary, teman pria menyebalkan itu. Kau boleh panggil aku Chris. Dan kau pasti Sherry, ya kan?" Tanya orang yang bernama Chris itu dengan ramah. Melihat cara dan gayanya berbicara, Chris sepertinya tipe pria humoris dan mudah akrab.
"Ya, aku Sherry, Sherry Birkin."
"Nama yang bagus," Chris memujiku.
"Terimakasih, namamu juga tidak kalah bagus. Bagaimana kau bisa tahu namaku?" tanyaku.
"Ohh sebenarnya aku sudah tahu tentangmu saat di mansion, tetapi Boss possessif yang menyebalkan itu tidak mengijinkan aku untuk bertemu denganmu langsung." Ujar Chris sambil menunjuk Alfred. Alfred pun terusik.
Aku sedikit tertawa mendengar perkataan Chris. Ia seperti sengaja menyindir orang yang ada di belakangku, dan sekarang aku mendengar ia menggeram.
"Christoper! Sekali lagi kau berbicara seperti itu, kuhajar kau!" ancam Alfred. Namun Chris tak menghiraukannya.
Kami berdua melanjutkan obrolan kami.
"Senang bertemu denganmu." ucapku.
"Oh, begitu juga denganku. Merupakan sebuah kehormatan bisa bertemu dengan orang secantikmu, sayang."
Mataku tiba-tiba membeliak saat ia mengucapkan kata 'Sayang'.
"Christoper!! Dia punya nama! Jangan panggil dia dengan sebutan itu!" teriak Alfred, menatap Chris tajam.
Lagi-lagi Chris mengacuhkannya.
"Terimakasih." balasku. Entah mengapa aku seperti menikmati berbincang dengan Chris.
"Sungguh, kau benar-benar cantik dan baik. Aku jadi iri kau—"
"Christoper!" Bentak Alfred dengan suara yang menggeram keras. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Ok, ok, aku hanya bercanda, dia milikmu bung, puas? Ya ampun, kau tidak perlu bertingkah possessif seperti itu, bro! Kita ini teman, kan? Benar-benar menyebalkan!" Chris tertawa kecil melihat kelakuan Alfred yang kekanak-kanakan. Alfred menatapnya tajam, masih memasang wajah kesal.
"Diam!" bentak Alfred, dengan wajah jengkel.
Aku sedikit terkejut melihat pertikaian mereka berdua, seolah tak percaya dengan apa yang kulihat ini, mengingat ini adalah pertama kalinya aku melihat ada seseorang yang berani membuat Alfred jengkel dan merasa dipermainkan. Melihat Alfred mengomeli temannya yang iseng membuatku menggigit bibirku sekuat mungkin untuk menahan tawa.
"Kita pergi sekarang!" ujar Alfred, sambil menarik tanganku.
"Baiklah, sampai ketemu lagi nanti, sayang. " ucap Chris, membuat muka Alfred semakin terbakar. Ia mempererat genggaman tangannya dan kami pun berjalan dengan tergesa-gesa.
"Ti amo," teriaknya, lagi-lagi ia terus mengetes kesabaran Alfred.
(Aku mencintaimu)
Aku tak sempat membalasnya karena Alfred menarikku dengan cepat dan mebawaku berjalan setengah berlari.
________________________
Alfred tak banyak bicara sepanjang perjalanan. Ia hanya terdiam dengan wajah kesal. Aku justru malah senang. Hampir sepanjang perjalanan aku tertawa dan Alfred langsung menancab gas, meningkatkan kecepatan mobil yang ia kemudi saat ia memergokiku senyum-senyum sendiri.
Sesampainya di Villa Alfred, Hawaii.....
Kami tiba di depan gerbang Villa raksasa milik Alfred. Dari luar, tampak jelas villa itu berarsitektur megah dan eksotis dengan struktur bangunan bernuansa Itali. Gerbang itu dijaga dua orang begundal berbadan kekar yang dipenuhi tato. Siapa lagi kalau bukan bodyguardnya.
Aku melirik Alfred. Kulihat ia masih memasang wajah kesal. Alfred keluar dari mobil, menyerahkan kunci mobil kepada salah satu penjaga gerbang itu sementara aku menunggu di dalam.
"Parcheggia l'auto nel garage!" (Parkirkan mobilnya di dalam garasi!)
Alfred kembali menghampiriku. Ia membuka pintu mobil di sampingku dan menarikku keluar. Aku hendak memprotesnya tapi tak berani setelah melihat wajah marahnya.
Alfred mengeluarkan sebuah kartu dan menggesekannya ke dalam mesin yang menempel di pinggir gerbang. Gerbang pun terbuka, ia lalu menuntunku ke dalam dengan terburu-buru.
Aku tak sempat melihat-lihat halaman depan villa yang luas dipenuhi bunga, dan kolam renang yang di pinggirnya terdapat hiasan unik karena Alfred menarik tanganku dan membuatku berjalan dengan tergesa-gesa. Semakin lama kekangannya semakin kuat dan terasa sakit.
"Alfred... a-apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau bertingkah kasar?" tanyaku,
Alfred seolah tak mendengar dan terus berjalan sambil menarik tanganku.
"Alfred... kumohon kau menyakiti tanganku...," rintihku, saat ia mencengkeram tanganku terlalu keras.
Hingga saat menaikki tangga, aku terpeleset dan kakiku berdarah tergores ujung keramik yang tajam. Barulah Alfred berhenti menarikku. Ia menggendongku ke dalam Villa saat melihat kakiku berdarah.
Ia lalu menaruhku di atas sofa dan menyuruh pembantu di villa mengambil box berisi obat-obatan dan alat medis lainnya. Ia segera mengobatiku.
"M—maaf, sungguh maafkan aku Sherry." ucapnya, sambil meniup-niup halus luka yang telah diperban.
Aku membalasnya dengan mengangguk.
"Kau terlihat sangat marah saat aku berbicara dengan temanmu tadi. Kenapa? Memangnya ada yang salah?" tanyaku mencoba memancing Alfred.
"Lupakan soal itu. Aku sungguh tak ingin membahasnya!" jawab Alfred, memalingkan muka.
"Please...,"
"Kau tahu? Aku tak habis pikir, kenapa kau masih menanyakan alasanku marah padamu! Bukankah seharusnya sudah jelas?"
"Salahmu sendiri kenapa kau memilih gadis bodoh yang ber-IQ rendah sepertiku!"
Alfred mengusap rambutnya sambil memejamkan mata. Ia lalu mengusap kedua pipiku, "Kau tidak bodoh ok, jangan berkata seperti itu lagi. Aku—aku marah karena kau lebih memilih berbicara dengan Chris daripada aku. Saat kau bilang kau membenciku dan kau memutuskan untuk diam, tapi tiba-tiba kau tertarik berbicara dengan Chris, aku merasa dikhianati. Itu berarti aku tidak menarik bagimu—aku juga kesal kau terlalu akrab dengannya."
"Alfred, aku tidak tertarik pada kau maupun Chris dan aku tidak akan pernah tertarik pada kalian berdua. Ingat, kukatakan satu hal padamu, kau bukan siapa-siapaku. Tidak ada hubungan apapun diantara kita dan kau tidak berhak melarangku untuk berbicara dengan siapa pun!"
Alfred melempar kotak obat yang dipegangnya ke jendela sampai kaca jendela pecah dan Ia memukul-mukul meja di depanku dengan keras untuk melampiaskan amarahnya hingga kulihat darah mengucur dari tanganya. Aku memejamkan mata karena shocked. Aku bahkan tak berani melihat wajahnya yang saat itu tengah membara. Kesal, Alfred pun langsung pergi meninggalkanku di ruang tamu sendirian.
Dua jam berlalu dan Alfred tak kunjung menemuiku. Mungkin ia masih marah padaku. Aku masih duduk merenung di sofa. Aku tak menyesali perkataanku padanya karena apa yang kukatakan memang benar. Aku hanya ingin ia mengerti kalau cinta tidak bisa dipaksakan dan ia berfikir untuk merelakan aku. Aku tidak bisa terus menerus menuruti apa yang ia mau. Aku tidak bisa dipaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginanku. Aku manusia, bukan robot yang tidak memiliki perasaan. Aku ingin hidup bebas bersama keluargaku, ibu, Kelsey dan Candice tanpa ancaman dan kekangan. Aku sangat merindukan mereka.
"Hai Sherry!" suara itu menyadarkanku dari lamunan panjang.
Aku menoleh ke belakang.
"Oh hai... Chris?" aku menjawab sapaannya, yang malah terdengar seperti bertanya. kulihat ia mendekat dan duduk di sampingku.
"Ya, ini aku, Chris. Senang kau masih mengingatku," kelakarnya, membuatku tertawa kecil.
"Kita baru bertemu beberapa jam yang lalu, mana mungkin aku lupa,"
"Bagaimana dengan kakimu? Alfred bilang kakimu terluka," tanya Chris.
"Ahh tidak, —tidak apa-apa, hanya tergores kecil. Lagipula, Alfred sudah mengobatinya,"
"Syukurlah. Beritahu aku kalau lukanya masi—" aku memotong pembicaraan Chris.
"Jangan khawatir! Luka semacam ini tidak ada apa-apanya. Aku akan baik-baik saja," Chris menatapku aneh dan tersenyum,
"Jadi... kau bicara dengan Alfred?" aku sedikit canggung ketika menyinggung soal Alfred. Aku tidak ingin Chris berasumsi aku mengkhawatirkannya.
"Ya, kami mengobrol sebentar, setelah itu, dia langsung pergi entah kemana."
"Oh..." aku mengangguk, seolah tak menyadari bahwa aku dan dia terlibat pertengkaran, "lalu dimana dia sekarang?"
"Hemm, aku tidak tahu. Tapi kalau kau mau, aku bisa mengantarmu mencarinya."
"Tidak perlu. Aku tidak ingin mengganggunya." Sanggahku.
"Kau tahu? Kita baru saja bertemu tapi keakraban kita mengalahkan hubungan Alfred denganmu yang sudah jauh lebih dulu mengenalmu," ujar Chris.
Aku membalasnya dengan senyuman kecil.
"Aku mengerti apa yang kau rasakan, Ia memang menyebalkan dan possessif. Aku juga tidak membenarkan semua tindakannya, termasuk tindakan merampas kebebasanmu. Tapi, ini pertama kalinya aku melihat Alfred sangat tertarik dan peduli kepada seseorang, selain keluarganya. Aku tidak pernah melihat ia begitu protektif kepada siapapun kecuali padamu. Jadi kumohon, pahami dan buatlah dia senang, buatlah dia percaya padamu, aku yakin suatu saat Alfred akan membiarkanmu menemui keluargamu."
"Kalau kau datang ke sini untuk membelanya, aku lebih memilih sendiran," ucapku, memasang wajah kecewa. Sebenarnya aku sudah tahu kemana arah pembicaraannya dan aku menyesal tidak menyelanya.
"Ok, ok, maaf, aku hanya ingin kau tahu bahwa Alfred tak seburuk yang kau kira."
"Aku tahu kau mengatakan itu karena kau temannya. Dia beruntung, punya teman baik sepertimu."
"Asumsimu keliru, Sherry. Alasan rasionalku membelanya karena 'aku jauh lebih mengenalnya' dari pada kau," bantah Chris. Ia terus membela temannya itu.
"Terserah kau saja." aku memilih mengalah dan menutup topik pembicaraan.
"Hem, ok. Sebagai teman, sudah seharusnya aku membelanya. Ngomong-ngomong, apa kau lapar?"
"Tidak, terimakasih." jawabku singkat. Padahal jujur, aku lapar sekali.
"Sherry, kau tahu? Walaupun aku baru mengenalmu, aku tahu kau berbohong." Chris menolehku dan menatapku lamat-lamat. Wajahnya tampak serius.
"Sungguh, aku tidak lapar. Kau tidak usah repot-repot mebawakan makanan untukku."
Aku memperbaiki posisi duduku dan bersandar ke sofa.
"Baiklah, beritahu aku kalau kau butuh sesuatu. Kau tahu kita ini teman. Aku pergi dulu."
"Ok. Emm.... Chris?"
"Ya?" ia berbalik dan menolehku.
"Kau tidak keberatan kan memberikan kotak obat ini kepada Alfred. Tadi sebelum pergi, dia sempat memukul meja sampai tangannya terluka."
"Tentu tidak, Sherry. Kau tahu? Kau tak perlu mengkhawatirkan si brengsek itu. Luka semacam itu tidak akan membunuhnya," ucap Chris, sambil mengambil box obat dari tanganku.
Aku terkejut dan tertawa kecil mendengar jawaban teman Alfred yang kukira tak akan pernah memojokannya, mengingat beberapa menit yang lalu ia mati-matian membelanya.
15 menit kemudian, Chris kembali, membawa meja yang dipenuhi makanan. Awalnya aku menolak, tetapi setelah ia bersi keras memaksa, akhirnya aku mengalah. Kami pun menyantap makanan itu bersama.
________________________
________________________
Hari mulai sore. Setelah puas menelusuri seisi villa yang tampk seperti istana, yaitu bangunan klasik kerajaan eropa yang dipadukan dengan arsitektur modern ala Itali lengkap dengan fasilitas mewah seperti kolam renang, kebun bunga, halaman yang luas dll, Chris mengajakku jalan-jalan mengelilingi hutan buatan di daerah Hawaii. Kami juga mengunjungi wisata alam dan makanan lokal khas daerah sana. Aku benar-benar menikmati perjalanan ini, ditambah, sifat Chris yang selalu menghibur membuatku tertawa lepas melupakan semua permasalahan yang selama ini membebaniku.
Di sisi lain, Alfred belum menampakkan batang hidungnya di hadapanku semenjak pertengkaran tadi.
Lupakan tentang Alfred, Sherry!
Dia selalu menyakitimu dan membuatmu sedih!
Benar. Untuk apa aku memikirkannya? Pria itu kan menyebalkan. Ini adalah momen yang tepat untukku bersenang-senang. Bukankah Alfred sendiri yang menyuruhku untuk bersenang-senang walaupun tanpa kehadirannya? Yups.
"Nona apa kau mau membeli bunga?" teriak seorang perempuan mungil yang menjual bunga di pinggir jalan saat kami berjalan melewatinya menuju tempat mobil kami terparkir.
"Oh, tentu saja!" jawabku, sambil menarik tangan Chris.
"Sherry, tidak. Untuk apa kau melakukan itu?" Chris menatapku heran.
"Shuut! Jangan banyak tanya, ikuti saja!" perintahku. Aku berjalan mendekati gadis kecil itu ditemani Chris yang mengekor dibelakangku.
Aku merasa iba melihat gadis seusianya berjualan di pinggir jalan beralaskan tikar. Ia berteriak menawar-nawarkan bunga layu dengan pot usang yang dijejerkan di tepi jalan raya. Memangnya siapa yang mau membelinya?
"Wah... bunganya bagus sekali!" pujiku, seraya menyentuh kelopak bunga yang sudah terkulay layu, "berapa harga semua bunganya?"
"Hemm satu, dua, tiga... lima..., oh semuanya $15 nona." dengan semangat, anak itu mulai menghitung.
"Hanya $15? Memangnya berapa harga satu potnya?"
Ia kembali menghitung menggunakan jemarinya yang mungil.
"$15 nona."
Chris tertawa terbahak-bahak mendengar gadis mungil itu.
"Bisnis berkembang!" Ejek Chris.
"DIAM!!" tegasku, menyenggol tangan Chris. Chris mengangguk, meberiku tanda ia tidak akan berkomentar lagi.
Menurutku wajar saja bila anak seusianya belum bisa menghitung mengingat anak itu masih terlalu kecil, bahkan terlalu kecil untuk berjualan.
"Oh begitu. Baiklah, aku beli semuanya ya."
Aku memberinya $100. Anak itu bahkan tidak menghitung jumlah uang yang kuberikan tetapi ia langsung memasukannya ke dalam tasnya. Mungkin ia pikir itu memang $15.
"Kalau boleh tahu, kenapa kau menjual bunga sendirian, dimana orang tuamu?" tanyaku, sambil mengusap rambutnya. Tubuhnya yang mungil membuatku harus berjongkok sebelum meraihnya.
"Ibuku sedang sakit di rumah dan ia perlu obat, tapi kami tidak punya uang untuk berobat ke rumah sakit. Jadi, aku menjual bunga ini. Maaf, aku harus membawa ibu ke rumahsakit!" jawab anak itu lalu berlari terbirit-birit.
"Terimakasih sudah membeli bunganya!" kudengar ia berteriak dari kejauhan.
Aku melihat anak kecil tangguh itu menjauh lalu menghilang di kaki langit. Tak terasa air mata mengalir di pipiku secara perlahan.
"Kau dengar apa yang dikatakan anak itu?" tanyaku.
"Ya aku mendengarnya. Dia adalah pahlawan kecil yang tangguh. Aku tidak pernah berfikir seorang anak kecil akan melakukan hal sehebat itu."
"Anak itu mengingatkan aku dan Kelsey yang selalu membantu ibu sepulang dari kampus. Tapi sayang, sekarang aku tidak bisa berbakti kepada orang tuaku. Aku hanya berharap mereka baik-baik saja."
"Aku yakin, suatu saat nanti Alfred pasti akan mengijinkanmu mengunjungi keluargamu."
"Aku tidak yakin itu akan terjadi,"
"Uh-uh, kau salah Sherry, yang harus kau lakukan adalah meraih kepercayaan Alfred. Buat Alfred percaya dan yakin kalau kau tidak akan melarikan diri. Dengan begitu, aku yakin, dia pasti akan mengijinkanmu."
Aku menarik nafas dalam-dalam.
"Kita lihat saja nanti,"
Aku tidak terlalu yakin apa yang dikatakan Chris benar.
"Lain kali, akan kusempatkan untuk menengok ibumu," Chris berhenti di depan mobil lalu membukakan pintunya, "beritahu saja aku jika kau ingin menitipkan pesan."
"Sungguh? Kuanggap itu sebuah janji. Ingat, laki-laki tidak pernah menarik kembali kata-katanya."
"Jangan khawatir, aku bukan tipe pria yang suka bersilat lidah di hadapan perempuan!" jawab Chris, sembari memasuki mobil dan mulai menancab gas.
Aku menoleh Chris.
"Baiklah," ucapku sembari menyeka air mata, "sekarang aku percaya."
——————————–
Malam berakhir membosankan. Aku hampir tidak bisa tidur. Ada sedikit perasaan bersalah yang mengangguku sepanjang malam karena sampai sekarang Alfred belum juga menemuiku. Jujur saja, aku sedikit khawatir padanya.
Untuk menghilangkan rasa bosan, aku ditemani Chris menonton film DVD dan keesokan harinya, ia menemaniku jalan-jalan di pantai. Sedangkan Alfred, aku tidak tahu ia dimana dan aku memutuskan untuk tidak mempedulikannya.
Saat kami sedang berjalan di mulut pantai, Chris tiba-tiba mendapat panggilan mendadak dan ia harus kembali ke Villa.
"Kau tidak keberatan aku tinggal sebentar?"
"Tentu saja tidak. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
"Kau yakin?" tanya Chris,
"Kau pikir aku anak kecil? Aku tidak apa-apa, sungguh."
"Baiklah, tunggu di sini dan jangan pergi kemana-mana, ok?! Aku harus kembali ke Villa untuk mengurus sesuatu. Aku akan segera kembali!"
"Siap, kapten!" jawabku sambil tertawa. Ia benar-benar memperlakukanku seperti anak kecil.
Chris berlari menuju arah Villa dan menghilang di sudut pantai.
Jarak dari Pantai ke Villa sekitar 500 M, tidak terlalu jauh. Aku menunggu di tepi pantai sambil bermain pasir. Pagi ini, langit tampak cerah, biru merona. Matahari pun tidak terlalu menyengat. Angin berhembus sepoi-sepoi dan ombak laut menerjang-nerjang dengan pelan. Aku berdiri, memandang laut biru yang terhampar luas sejauh mata memandang. Sungguh luar biasa. Baru pertama kali aku melihat pemandangan pantai yang sangat indah. Aku berharap, suatu saat nanti aku bisa mengajak ibu dan Kelsey ke sini.
"Hallo nona manis!"
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara laki-laki tak dikenal yang menyapaku dari belakang.
"Hallo! M—maaf, apa saya mengenal Anda Tuan?" tanyaku, sopan, seraya mengerutkan bulu alis.
Laki-laki itu berbadan kekar dipenuhi tato. Wajahnya juga dipenuhi goresan dan kepalanya tak berambut. Terdapat tiga tindik di wajahnya. Penampilannya membuatku takut.
"Aku heran kenapa dia meninggalkanmu sendirian di alam terbuka seperti ini. Tidakkah dia berfikir kalau nyawa kucing kesayangannya ini dapat terancam?" orang itu malah menjawab yang aneh-aneh.
Kucing? Apa maksudnya? Dia pikir aku kucing?
"Maaf, saya tidak mengerti apa maksud Anda berbicara seperti itu. Saya rasa Anda salah orang." ujarku sambil beranjak pergi. Perasaanku mulai tidak enak saat melihat tatapan orang itu, ia seperti berniat jahat padaku. Jadi aku memutuskan untuk kembali ke Villa.
Namun saaat aku berbalik, tiba-tiba sudah ada empat orang asing di depanku. Masing-masing dari mereka memikul senjata tajam di pundaknya. Mereka semua tampak tidak bersahabat. Aku mulai cemas dan ketakutan. Aku mundur beberapa langkah dan menabrak pria botak tadi hingga aku terjatuh.
"S–siapa kalian?" aku merangkak menjauh dari orang-orang aneh itu.
"Heh, kelihatannya si bajingan Alfred tidak mengatakan apa pun padamu soal kita," ujar laki-laki botak dengan muka penuh sayat.
"Apa maksudmu? D–dari mana kau tahu Alfred?"
"Tentu saja kami tahu. Dia adalah musuh bebuyutan kami!" jawab salah satu dari mereka.
Mataku terbuka lebar saat dia menyebut Alfred sebagai musuh terbesarnya. Itu berarti aku dalam masalah besar.
"Wah, wah, wah... lihat siapa ini? Boss pasti akan senang jika kita membawanya." ujar laki-laki dengan kecamata dan jas hitam yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Itu tidak ada hubungannya denganku!" jelasku.
"Oh yeah? Kita lihat saja nanti!" ujar pria dengan kecamata hitam itu. Sepertinya dia adalah kaptennya karena dari semua begundal-begundal itu, dialah yang paling berbeda.
"Prendila!" (ringkus dia!) ucapnya, memberi isyarat kari-karibnya untuk mulai beraksi, membuatku benar-benar panik.
"Tidak, tidak...! Menjauh dariku! Chrriiiiis...! Alfreeed, seseorang... Kumohon tolong ak–" aku berteriak minta tolong saat pereman-pereman itu mendekat.
Aku mencoba melarikan diri ke villa, namun dalam sekejap mereka mulai mengepungku dari berbagai sudut, mencegahku kabur. Kemudian seseorang menarik pinggangku dari belakang, membut jantungku berdegup semakin tak terkendali.
"Tidak, tidak.... kumohon lepaskan aku...." aku berusaha melepaskan diri dari cengkraman orang itu.
"Shuutttt.... tenang, jangan takut, kami tidak menggigit. Ha...ha....ha..." ejeknya, tergelak puas diikuti oleh rekan-rekannya.
Perjuanganku kandas ketika seseorang menyekapku dari belakang dengan tiba-tiba dan menyuntikan sesuatu pada leherku. Beberapa detik kemudian penglihatanku mulai kabur dan tubuhku lemas.
"Hehe... Sei morto, Alfred" (Mati kau Alfred)
To be continued....
________________________
Hope you guys like it!
Vote di wattpad, komen dan follow terus ya
Bye bye for now!
________________________
Hope you guys like it!
Vote di wattpad, komen dan follow terus ya
Bye bye for now!








Comments
Post a Comment