Chapter 20 : Pesan Ancaman
————–—————————
🌸Karena cinta, duri pun menjadi mawar. Karena cinta pula, cuka menjelma menjadi anggur🌸
– Lathief Hawwary
—————————————
"Alfred, aku tidak tertarik pada kau maupun Chris dan aku tidak akan pernah tertarik pada kalian berdua. Ingat, kukatakan satu hal padamu, kau bukan siapa-siapa-ku. Tidak ada hubungan apapun diantara kita dan kau tidak berhak melarangku berbicara dengan siapa pun!" Bantah Sherry dengan ekpsresi marah.
Spontan, kotak obat di tangan kulempar ke arah balkoni dan kudengar suara kaca pecah bertaburan di lantai. Aku geram bukan main, wajahku memerah dan tanganku terkepal kuat seperti hendak meninju musuh ketika Sherry berani berkata seperti itu padaku.
Kuhantam keras meja di depanku berkali-kali hingga retak, meninggalkan noda merah di sekitar retakan kayu yang kupukul. Walaupun darah mengalir di tangan, aku terus meninju meja itu seperti tidak merasakan sakit. Kulihat, Sherry mulai menjaga jarak. Matanya tertutup, ketakutan.
Aku terdiam beberapa detik untuk menghela nafas. Kulihat tubuh Sherry bergetar dan matanya berair. Tak ingin membuatnya takut, aku memutuskan untuk pergi.
Aku membanting pintu kamarku sekeras mungkin. Lampu tidur, kursi, jendela, TV dan semua yang ada di kamar hancur menjadi target amukanku. Bahkan, kemeja yang kupakai pun kena imbasnya. Butiran kancing bajuku berjatuhan di lantai saat kusobek. Sambil terengah-engah menarik nafas, aku mencoba mengontrol emosi.
"Come osa parlarmi in quel modo... dopo quello che le ho fatto?!" gumamku pelan dengan nada geram.
(Beraninya dia berkata seperti itu padaku setelah apa yang aku lakukan untuknya?!)
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncullah Christoper dari balik pintu.
Belum sempat Chris menunjukkan batang hidungnya di hadapanku, aku sudah mengusirnya.
"Keluar!" Bentakku, mengayunkan tangan ke arah pintu.
"Aku mendengar suara berisik di kamar ini. Jadi aku penasaran ingin melihatnya." ucap Chris,
"Ow astaga! Kau lihat Alfred? kamar ini benar benar berantakan! Sepertinya seseorang telah mengobrak-abrik tempat ini." Chris berkata sambil melirik luka ditanganku.
Alih-alih mendengarkanku, Chris malah berjalan memasuki kamar dan duduk di ujung Spring bed.
Fuck! Kalau bukan temanku, pasti dia sudah kubunuh!
"Christoper apa kau tuli?" aku mengusap rambut dengan mata terpejam, muak terhadap sikapnya.
"Hmm... memangnya kau bilang apa?" tanya Chris, dengan muka datar.
"Oh astaga, beri aku kesabaran! Kubilang keluar! Jangan ganggu aku! Kau dengar?!" aku geram bukan main.
"Kau saja yang keluar. Aku ingin tidur di sini!"
Sumpah, kali ini aku akan menghabisinya! Aku tidak peduli ia teman atau musuh!
Beberapa detik kemudian, aku menyambar ujung baju Chris dan menyeretnya ke tembok.
"Cukup Christoper! Aku sudah muak dengan semua leluconmu!" Tanganku mencekik leher Chris dengan kuat. Darah di tanganku menodai bajunya dan ia merintih kesakitan.
"O–ok, ok, maafkan aku." Ucapnya terbata-bata. Melihatnya kesulitan bernafas, aku segera melepaskan cengkramanku.
"Uhh, sialan kau Alfred! Kau hampir saja membunuhku." Protes Chris, dengan nafas terengah-engah karena kekurangan oksigen.
"Aku sudah memperingatkanmu!"
"Aku tidak tahu kalau kau sedang marah." dalihnya. Padahal sudah jelas dari tadi aku mengusirnya dengan kasar.
Mataku membelalak, menatap Chris tajam.
"Tinggalkan aku sendiri, Chris!" perintahku, serius.
"A-ah, aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakan apa yang terjadi padamu!" lagi-lagi dia berani membantahku. Sialan kau Christoper!
Sepertinya aku harus memberinya pelajaran!
"Cepat pergi sekarang juga atau kubunuh kau!!"
"Oh, Silahkan! Kau boleh membunuhku—satu-satunya temanmu yang peduli denganmu—jika kau mau," timpal Chris, membuatku sedikit menyesal telah mengencamnya.
Aku terdiam sejenak, menatap Chris lamat-lamat lalu memejamkan mata. Aku duduk di sofa dan mencoba menenangkan diri.
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi. Sherry semakin membenciku... Semua yang kulakukan selalu salah di matanya...." ungkapku, resah bercampur bingung.
"Ya, aku mengerti apa yang kau rasakan." Chris duduk di sampingku, "Bro, kau mau mendengar saranku?"
Aku lelah berdebat dengannya, jadi aku terpaksa mengangguk.
"Kalau kau ingin membuatnya jatuh hati padamu, kau harus menjadi sosok pria yang ia inginkan. Pertama, kau harus mengontrol emosimu dan sedikit bersabar, karena kalau tidak semua rencanamu akan gagal. Kedua, kau harus fokus pada kelemahannya, cari tahu apa yang membuat Sherry luluh dan manfaatkan itu untuk mendapatkan hatinya. Ketiga, ini yang paling penting, Sherry tidak menyukai lelaki kasar dan suka memaksa. Jadi, hilangkanlah kebiasaan 'bossy'-mu saat berada di dikatnya." papar Chris, panjang lebar.
Aku terdiam, mencerna baik-baik saran dari Chris. Apa yang dikatakannya memang logis dan aku sependapat dengannya. Setelah dipikirkan matang-matang, aku memutuskan untuk menerima sarannya.
"Baiklah, kuterima saranmu."
"Bagus. Jangan khawatir Alfred, aku akan membantumu." ucap Chris, menepuk bahuku, lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Temui Sherry di ruang tamu dan periksa luka di lututnya. Aku tak sengaja menariknya hingga ia jatuh. Oh, ya—" Aku berdiri, mengambil kunci mobil di lemari dan memberikannya pada Chris, "Ajak ia jalan-jalan ke manapun ia mau, belikan ia pakaian, perhiasan atau apapun yang bisa membuatnya senang. Dan yang terpenting, pastikan ia makan. Kalau ia menanyakanku, katakan saja aku pergi entah ke mana."
"Capito, capo!" ujar Chris, melambaikan tangan, kemudian berlalu dari hadapanku.
(Laksanakan, boss)
*******************************
"Tuan, ini Kopi Anda." ucap pelayanku lalu menaruh kopi itu di meja.
"Ok, kau boleh pergi."
Pelayan itu pamit dan meninggalkan ruanganku. Aku sibuk menatap layar komputer sambil sesekali mengepalkan tangan mendapati Sherry tertawa saat berbicara dengan Chris. Kurasa Chris telah berlebihan, tapi aku harus sedikit sabar. Ini bagian dari rencanaku.
Selain mengawasi Sherry dari CCTV, aku juga sibuk memeriksa beberapa pesan baru di E-mail yang tiba-tiba saja bermuculan di kotak masuk. Itu dari Client-ku. Mereka ingin mengundangku ke acara Grand-Opening perusahan pesawat jet barunya di hongkong.
"Hem... sayangnya aku sedang sibuk." Jemariku sibuk mengetik papan key-board, membalas pesan Client-ku dengan "Tidak akan datang, tidak tertarik".
Aku mendengar seseorang membunyikan bel pintu.
"Siapa?!"
"Aku, Chris." sahut Chris, dari luar kamar.
Aku mengambil Remote-control di sampingku dan menekan tombol open. Pintu kamar pun terbuka. Kulihat Chris berdiri di depan pintu dengan sebuah kotak bertanda plus (+) di tangannya.
"Ada apa?" tanyaku tanpa basa-basi, dengan wajah yang terfokus ke komputer.
"Ini," ujar Chris, memamerkan kotak itu, "Aku hanya ingin menyampaikan kotak obat ini—dari Sherry." Ia menyimpannya disampingku, "dia bilang, kau menghajar meja sampai remuk."
Aku menoleh tangan kananku, terdapat luka sobek yang masih berdarah dan memar di bagian ujung tulang metacarpal-ku.
Kontan, aku tersenyum karena dua alasan, senang dan lucu. Senang karena Sherry mengkhawatirkanku. Dan lucu karena aku tidak habis pikir mengapa aku tidak merasakan sakit sedikit pun.
Lihat, Alfred dia benar-benar mengkhawatirkanmu!
"Hemm.... aku tak menyangka ternyata Sherry peduli padamu... meski kau bilang dia sangat membencimu." tutur Chris, membuat senyum di bibirku semakin mengembang.
"Itu karena dia gadis baik dan— sangat polos." Aku tidak mau terlalu percaya diri karena hal ini.
Chris menolehku dan berkata, "Yeah, tapi bisa juga ada alasan lain,"
Aku juga berharap begitu!
"Baiklah, sekarang tinggalkan aku sendiri." aku memotong pembicaraan.
"Seriously? Seperti inikah caramu berterimakasih pada orang yang sudah membantumu? Oh, bung, setidaknya kau mengatakan 'terimakasih padaku'," keluh Chris, kesal.
Aku langsung membelalak pada Chris. Tak ingin kena amarahku lagi, Ia segera berlari ke luar sambil menggerutu.
*******************************
Seharian tanpa Sherry membuatku tersiksa. Aku tak tahan ingin segera menemuinya. Tak terbayang, bagaimana jadinya bila aku harus merasakan penderitaan itu seumur hidup. Aku lebih memilih mati.
Malam terasa lebih lama dan berakhir membosankan. Berkali-kali kucoba untuk memejamkan mata namun aku terus terjaga. Akhirnya aku tidak tidur sepanjang malam. Kualihkan rasa frustrasi tersebut dengan meminum 3 botol penuh wiski hingga terjatuh di lantai dan tak sadarkan diri.
Keesokannya, aku terbangun saat mentari menyapa pagi dengan sinar meronanya yang hangat. Kudapati diriku tergeletak di atas lantai. Tubuhku terasa pegal dan kepalaku pusing.
Tiba-tiba terdenger suara telefon berdering. Segera kuambil telefon genggam itu.
"Hallo?"
"Hallo boss. Ini dengan Agent Sean Paul, saat ini berlokasi di Paris, ijin melapor!"
"Hemm, katakan Agent Paul."
"Vincent D'onofrio telah beraliansi dengan pimpinan mafia Perancis, Adam Canover Fellieux, pemilik perusahaan senapan, parfum dan hotel terkenal. Saat ini mereka tengah melakukan kerjasama dalam proyek Bullet-Proof Mobile dan Smart Jacket yang akan diluncurkan pada tanggal 3 september mendatang. Selain itu, menurut bawahannya yang berhasil kusekap, mereka juga sedang menyiapkan pasukan jet untuk menyerang dan mengintai anggota kita. Kita harus segera menyusun rencana sebelum mereka berhasil melancarkan serangan itu, boss." tegas agent Sean Paul, menginformasikan sedetail mungkin.
"Bangsat! Kurang ajar kau Vincent!" umpatku, geram.
"Kerja bagus Sean Paul, akan kupastikan kau mendapat bonus Cash serta tambahan emas batang atas kerja kerasmu. Tak usah cemaskan hal itu, aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku akan mengadakan rapat besar malam ini untuk menyusun strategi baru. Sekarang bawa kemari tikus kecil yang kau sekap!" bicara soal misi, ia memang tidak pernah mengecewakanku.
"Sudah kuduga kau akan menyuruhku mengirimnya, boss. Tapi tenang, aku sudah mengutus agent Clara untuk mengantarnya. Mungkin beberapa jam lagi wanita itu akan sampai di Hawaii." ia berkata dengan percaya diri, "Dan jangan khawatir boss, dia masih bernafas." tambahnya.
"Bagus. Kau boleh lanjutkan penyelidikanmu. Beritahu aku tiap kali ada informasi penting. Dan ingat, jangan sampai mati!"
"Dimengerti, boss. Dan jangan khawatir, mereka tak kan bisa mendapatkan agen rahasia tak kasat mata yang bergerak di dalam bayangan sepertiku."
Aku menutup panggilan itu dan memanggil Chris untuk segera kembali ke Villa tanpa mengajak Sherry. Terlalu beresiko bila ia sampai tahu masalah ini.
5 menit kemudian Chris datang.
"Ada apa Alfred?" tanya Chris.
"Agent Sean Paul baru saja melapor bahwa Vincent telah beraliansi dengan pimpinan mafia Perancis dan mereka berencana untuk menyerang kita."
"Apa?" Chris terkejut, "Sialan kau Vincent!"
Aku langsung memerintahkan Chris mengabari ketua group mafia bawahanku yang ditempatkan secara terpisah di beberapa negara adidaya yang meliputi 3 benua yaitu Benua Asia, Eropa dan Amerika untuk segera berkumpul di Hawaii, tepatnya di pulau Oahu. Malam ini juga, kami akan mengadakan rapat besar-besaran di basement untuk menyusun rencana guna mengantisipasi ancaman dari Vincent dan sekutu barunya sekaligus membentuk strategi untuk melancarkan serangan balasan.
"Selesai. Aku sudah memberitahu masing-masing pimpinan grup mafia kita yang ada di seluruh kawasan Eropa dan Amerika untuk segera berkumpul di markas pusat hawaii. Tapi, untuk kawasan Asia, khususnya anggota cabang yang berlokasi di Korea, kemungkinan besar mereka akan sampai besok pagi dikarnakan jaraknya yang lumayan jauh." jelas Chris, jemarinya sibuk mengetik Key-board laptop.
"Bagus, sekarang suruh para pelayan menyiapkan jamuan makanan untuk rapat malam. Kita tidak perlu menunggu delegasi dari Korea," aku mengambil buku berjudul 'Martial Arts Strategies' dan membukanya, "Oh, dan bawa Sherry kemari." tambahku lagi, melanjutkan membaca halaman pertama.
"Baiklah. Aku akan menjemputnya sekarang." Chris bergegas menuju pintu dan menghentikan langkahnya, "Alfred, kurasa kita harus memulai operasi patroli di sekitar Villa untuk memperketat penjagaan," kata Chris sebelum menghilang di balik pintu.
"Ide bagus. Akan kuurus!"
Beberapa saat kemudian Chris kembali dengan wajah pucat. Betapa geramanya aku ketika Chris mengatakan Sherry menghilang, bukan karena melarikan diri melainkan diculik. Amarahku memuncak saat Chris memperlihatkan baju Sherry yang berlumuran darah. Buku di tangan kulempar ke luar jendala dan aku berlari menerjang Chris, mendaratkan pukulan keras tepat di wajahnya hingga ia babakbelur. Itu balasan akibat lalai menjaganya.
Saat itu juga aku mulai mengerahkan agen pengintai dan pasukanku untuk melacak jejak Sherry dan penyusup bajingan yang membawanya. Mereka akhirnya menemukan 3 orang mayat penjaga gerbang yang disembunyikan di dalam semak-semak dengan luka sayat di bagian leher dan organ vital lainnya.
Kuperiksa rekaman CCTV yang dipasang hampir di seluruh area villa, namun anehnya tak ada satupun penyusup yang terdeteksi. Mungkinkah mereka menghancurkan kamera pengintai itu di beberapa titik? Padahal ukurannya sangat kecil dan diletakkan secara tersembunyi, mustahil mereka bisa menemukannya.
"Sial! Sial! Saaaal...! Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." aku memukul-mukul tembok. Emosi bercampur cemas menghantui pikiranku.
"Tenang Alfred, kita pasti akan mendapatkan Sherry kembali. Kau harus sabar. Semua pasukan kita sedang berusaha melacak keberadaannya. Aku yakin Sherry belum jauh dari sini."
*******************************
"Selamat datang di Villa-ku, kawan-kawan. Seperti yang kalian ketahui, saat ini kita sedang menghadapi masalah besar." aku berdiri di podium, menyambut anggota mafiaku.
Sekitar 300 orang yang merupakan pimpinan group masing-masing cabang telah hadir di markasku, berseragam kompak jas hitam dan kemeja putih. Mereka duduk berjejer rapi sambil mendengarkanku berbicara.
Di samping kanan, terdapat 120 pimpinan mafia dari wilayah Amerika, sedangkan di samping kiri, sekitat 180 pimpinan mafia yang bercabang di wilayah eropa telah memenuhi isi ruangan.
"Pertama, Vincent telah bersekongkol dengan Pimpinan mafia Perancis, salah satu pemilik perusahaan persenjataan, parfum dan hotel terkenal di dunia. Kedua, seseorang telah menculik kekasihku, calon ratu mafia kalian! Kita belum menemukan informasi terkait jejak atau pun persembunyian mereka. Mereka sama sekali tidak meninggalkan jejak. Kita harus mencari tahu apakah Vincent ada hubungannya dengan penculikan ini." Semua mata tertuju padaku, mereka mendengarkan ucapanku dengan seksama.
"Boss, bukankah kau memiliki agen yang sedang memata-matai Vincent?" tanya Peter Morningstar, salah satu penguasa anggota mafia kawasam amerika, tepatnya di kota Texas yang merupakan bawahanku.
"Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Terakhir kali Sean Paul melapor, ia tidak menyinggung soal penculikan."
"Bagaimana dengan agent-agent yang lain boss? Sudah adakah yang melapor?" sela Alexander Fatto, pimpinan cabang eropa khususnya di kota Roma.
"Aku benci mengantakannya, tapi sampai saat ini, belum ada laporan dari mereka terkait keberadaan Sherry."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, boss?" tanya bawahanku Marcus, pimpinan cabang Texas.
"Tenang, aku sudah menyusun rencana. Kita akan membentuk 4 tim, dimana setiap tim memiliki misi dan fungsi masing-masing. Pertama, tim pemburu, bertugas untuk melacak keberadaan Sherry dan markas musuh. Kedua, tim pengintai, bertugas untuk mengorek segala informasi terkait musuh—tim pengintai akan berkerja sama dengan tim pemburu serta melaporkan informasi yang didapat kepada tim perencana strategi.
Ketiga, tim penyerang, bertugas untuk melakukan serangan dan bergerak dibawah instruksi dari tim perencana taktik dan strategi. Keempat, tim pembuat strategi, bertugas untuk merancang strategi tempur serta mengatur formasi serangan pasukan. Selebihnya akan dijelaskan oleh rekanku." paparku panjang lebar seraya memainkan layar monitor agar mereka bisa melihatnya dengan jelas.
"Chris!" seruku, menunjuknya untuk maju ke depan.
Chris berdiri di samping layar monitor, menghadap ke semua orang.
"Baik semuanya, aku akan menjelaskan bagaimana teknisi rencana kita untuk memblokade dan melakukan serangan balasan terhadap musuh."
"Tetapi sebelum itu, kita harus melakukan analisa kekuatan, baik itu analisa kekuatan kita maupun musuh. Hal itu sangat berguna dalam menyusun strategi kita nanti."
"Kita akan gunakan analisis S.W.O.T., Strength (kelebihan), Weakness (kelemahan, Opportunity (peluang), Threat (ancaman). Group mafia kita memiliki jangkauan area yang luas mencakup 3 benua yaitu Amerika, Asia dan Eropa. Di benua amerika, kita memiliki 100 cabang, di benua Asia, kita hanya memiliki 3 cabang : Korea, Cina dan Jepang. Terakhir di eropa, kita memiliki 20 cabang. Masing-masing cabang berjumlah 500 anggota. Jadi, total pasukan kita berjumlah 61.500 orang."
"Untuk alat tempur darat, kita memiliki 1.000 tank baja, 10.000 pesawat jet dan 50.000 stock senapan dan amunisi."
"Wow, cukup fantastis. Dengan jumlah pasukan dan alat tempur sebanyak itu kita—" ucapan Alexander Moretto terpotong oleh perempuan asing yang tiba-tiba datang di tengah jalannya rapat.
"Itu belum cukup!—mengingat jumlah total musuh kita diperkirakan mencapai 50.000 pasukan. Selain itu, mereka memiliki Bullet-Proof Mobile (mobil tahan peluru), Automatic Combat Robots (robot tempur otomatis) dan Smart Jacket (jaket pintar) yang dapat memancarkan sinyal detektor untuk melacak musuh," jelas seorang wanita dengan gaun merah yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, mengalihkan pandangan semua orang.
(Agen Clara)
(Agen Clara)
"Siapa kau?!" tanya Chris, mengerutkan bulu alis. Kami memang belum pernah bertemu dengan wanita itu.
"Kau.... kau agent yang Paul kirim?"
"Ya Boss, agen Clara Robinson, asisten Sean Paul," tuturnya, menyapaku dengan sebutan Boss.
aku mengangguk.
"Sekarang, dimana tikus kecil itu?" tanyaku pada perempuan yang memperkenalkan dirinya sebagai Clara.
"Dia di luar."
"Bawa dia kemari!" ucapku.
Agent yang bernama Clara itu menghilang di balik pintu dan kembali menyeret seorang laki-laki yang sekujur tubuhnya diikat. Seketika sorak-sorai anggota mafia yang hadir memenuhi seisi ruangan, saat bawahan Vincent diseret ke tengah lantai.
"Heh, aku tak percaya dia memutuskan untuk menyewa asisten perempuan. Yang benar saja!"
"Jika aku jadi kau, aku tidak akan melihat buku dari sampulnya." timpal perempuan itu, sambil melempar anak buah Vincent ke arahku.
"Oh, itu membuatku takut!" ejek Chris.
"Baiklah, perhatian Semuanya!" teriakku, tiba-tiba suasana menjadi hening kembali. Tak ada yang berani bersuara, kecuali jam dinding yang berdetak. Semua mata kembali tertuju padaku.
"Sebelum kita memulai peperangan, ada baiknya kita melakukan ritual—seperti biasa. Dan sekarang, kita punya tikus kecil ini. Kemenangan ada di depan mata. Kita lihat, apa yang dia sembunyikan."
Sorak-sorai kembali memenuhi seisi ruangan. Aku menyeret bajingan itu ke tembok. Wajahnya babak belur, dipenuhi luka memar. Sebelum melontarkan pertanyaan, aku menghantam kelopak matanya dengan keras dan butiran merah mulai menetas di wajahnya. Ia menjerit kesakitan.
Dua jam berlalu, namun kami tidak menemukan informasi apa pun dari si brengsek ini. Hingga sampai kucabik-cabik pun, ia tidak mengatakan sepatah kata pun terkait penculikan Sherry. Sepertinya Vincent memang bukan dalang dari semua ini. Lalu siapa?
Mungkinkah musuhku yang lain?
Aku kembali menelefon agen Sean Paul. Untungnya kali ini ponselnya aktif. Namun, tepat seperti dugaanku, agen Sean Paul menegaskan bahwa Vincent tidak ada hubungannya dengan penculikan Sherry. Saat di acara konferensi dengan pimpinan mafia Perancis, mereka tidak menyinggung soal Sharry.
Bedebah sialan! Lalu siapa ?
Di tengah kegundahanku, salah satu agenku tiba-tiba menghubungiku. Menurut laporan darinya, pimpinan gang mafia yang bernama Liam Hemsworth Knightwell-lah yang bertanggung jawab atas penculikan Sherry.
Salah seorang anggota cabang yang berlokasi di Roma angkat bicara. Ia bilang, Liam Hemsworth adalah pimpinan mafia baru, anak dari Alesandro Flavio Knightwell yang telah kubunuh karena menolak berafiliasi denganku 3 tahun yang lalu.
Dan sekarang anaknya mencoba balas dendam? Bangsat! Kenapa aku tidak masalah itu!?
Rencana pun sedikit berubah seiring dengan diketahuinya musuh baru. Aku membagi dua setiap tim yang telah dibentuk, ada yang menargetkan Vincent dan Liam. Setelah semua persiapan selesai kami mulai beroperasi sesuai rencana.
Derap langkah kaki memenuhi villa. Tim pengintai, pemburu, penyerang dan pengatur rencana sudah siap mengambil posisi masing-masing. Setiap tim terdiri dari 50 orang anggota medis dan dikomandoi oleh 1 orang ketua. Dan untuk anggota mafia yang masih berada di wilayah cabang diinstruksikan untuk berkumpul di titik destinasi sesuai tim.
Aku dan Chris berdiri mengomandoi tim penyusun rencana yang bertugas mengatur formasi pasukan. Saat sedang sibuk mendengarkan penjelasan Marco, ahli filsafat dan strategi, aku mendapatkan pesan rahasia yang berisi foto sherry yang berlumuran darah dan tulisan :
"Jika kau ingin Sherry selamat, pastikan tak seorang pun mengikutimu. Jika kau berani membawa anak buahmu, maka katakanlah selamat tinggal kepada Sherry kecil yang malang ini!"
To be continued...
______________________________
Hope you guys like it, jangan lupa follow terus ceritanya voting di watpad and stay tune!
Bene, non dimenticare di supportarmi! Ti amo miei lettori!
arrivederci per ora!
(Dukung terus ya, love you so my readers! Bye bye for now!)
______________________________
Hope you guys like it, jangan lupa follow terus ceritanya voting di watpad and stay tune!
Bene, non dimenticare di supportarmi! Ti amo miei lettori!
arrivederci per ora!
(Dukung terus ya, love you so my readers! Bye bye for now!)




Comments
Post a Comment