Chapter 3 : Murid Baru
Enjoy reading!
Sherry Birkin's Point Of View
Aku bangun lebih awal dari biasanya karena hari ini aku harus menyiapkan perlengkapan untuk presentasi nanti di kampus. Aku ditugaskan untuk mempresentasikan rincian materi tentang sel oleh dosenku, Dr. Max William. Tadi malam, aku telah mensearching di Google dan menyusunnya dalam bentuk Powerpoint. Ini adalah tugas individu, jadi aku harus mengerjakannya sendiri.
Setelah menyiapkan file yang telah di print, aku berjalan menuju jemuran baju lalu mengambil handuk dan kemudian masuk ke kamar mandi. Kugantungkan handukku pada pengkail lalu kunyalakan showernya. Perlahan air hangat memancar dari dalam shower, membasahi sekujur tubuhku dengan lembut. Kunikmati tetesan air yang menerpa tubuhku dengan manja. Kubaluti tubuhku dengan sabun dan kugosokannya ke sekujur tubuhku secara perlahan, kemudian kubilas sampai bersih.
Beres mandi, aku langsung berpakain rapi dan siap-siap berangkat ke kampus. Aku menggenakan kemeja putih dengan rok hijau panjang mencapai tumitku. Karena aku tak pandai dalam hal berdan-dan, jadi aku hanya merias wajahku dengan pelembab muka secukupnya. Tak lama setelah itu, kulihat Candice telah tiba didepan rumahku dengan mobil abu-abunya yang mengkilap. Kami berdua berangkat ke kampus setelah sarapan terlebih dahulu.
Kami sampai di kampus pukul 07.30. Candice pamit padaku lalu pergi kekelasnya, begitu juga dengan aku. aku berjalan menuju pintu enterance dan masuk kedalam kelasku. Saat aku memasuki ruangan kelas, kulihat baru beberapa orang yang hadir.
Mungkinkah ini masih terlalu dini?
Aku mengeluarkan buku Biology dari dalam tasku lalu membacanya. Aku menghafal setiap kata dan istilah istilah penting yang biasa di sebut dengan 'kata kunci', kemudian mencatatnya ke dalam buku catatanku.
Ketika sedang asyik membaca, seorang pria berbadan tinggi, berambut hitam tebal dengan jas hitam dan matanya yang berwarna biru berkilauan berjalan melewatiku. Semua mata terjuju padanya seolah-olah terhipnotis oleh kedatangannya. Sejenak perhatianku teralihkan dan tertuju padanya. Dia cukup tampan. Bibir merah mudanya yang tipis, tersenyum padaku.
Oh, apa dia baru saja tersenyum padaku?
Ya...
Aku membalas senyumanya lalu berusaha mengalihkan perhatianku. Aku kembali membaca buku Biologiku. Namun, saat kulihat dia berjalan mendekatiku, aku terkejut dan menundukan kepalaku kemudian menutupnya dengan buku yang kupegang. Alih-alih berhenti, dia malah terus berjalan mendekatiku dan....
Sial, menjauh dariku! Jangan mendekat! Aku mohon.....
Jangan melihatnya Sherry! Jangan melihatnya!
Abaikan saja!
"Hai, apa aku boleh duduk disini?" tanyanya dengan sopan, sembari tersenyum manis.
Wow, aksenya itu! terdengar seperti.....
Aku benar-benar terkejut dan tak tahu harus berkata apa saat dia datang dan tiba-tiba saja menyapaku. Aksen italinya yang kental berpadu dengan aksen Amerika membuat suaranya terdengar unik.
"Ohh ya, t-tentu." jawabku, grogi karena tiba-tiba saja dia meminta ijin duduk dikursi yang bersebelahan denganku.
"Kau tidak keberatan, kan?" tanyanya lagi,
( Liam Hemsworth. 21 tahun Siswa baru di kelas Sherry yang populer karena ketampanannya )

"Terima kasih. Amm...namaku Liam, Liam Hemsworth. Aku murid baru dikampus ini, dan kau?" ujarnya sambil mengulurkan tangannya.
"Oh, am....a-aku....Sherry Birkin. Senang bertemu denganmu Liam!" jawabku gugup. Aku tersenyum kecil padanya lalu meraih tangannya untuk bersalaman.
"Sherry Birkin? Hey aku suka nama itu! Nama yang bagus!" ujarnya, sambil tersenyum, "Senang bertemu denganmu juga, Sherry!"
"Terima kasih." pipiku tiba-tiba saja memerah.
Gaya bicaranya dan aksen italinya yang kental membuat suaranya terdengar seksi. Selain itu, wajahnya yang manis dan badannya yang tegap dengan mata yang berwarna biru berkilauan juga membuatnya terlihat sangat tampan.
Apa? Seksi? Tampan? Argkh.....
Tunggu, tunggu, tunggu apa yang kau pikiran Sherry?
Setelah dia duduk di sampingku aku hanya terdiam membeku. Aku mengalihkan pandanganku kesamping, kulihat semua teman sekelasku menatapku dengan sinis.
Ow, astaga...!
"Amm....a-aku....aku harus ke kamar mandi dulu. Sampai nanti!" ucapku. Aku membuat alasan agar aku bisa menjuah darinya.
"Ya...silahkan." ucapnya, tersenyum.
Aku berlari menuju pintu kamar mandi dan menutupnya rapat-rapat. Aku sangat malu saat teman temanku mulai menatapku. Aku tidak biasa duduk berdampingan dengan laki-laki, terutama dia. Aku selalu menjauh dan membuang muka saat ada laki-laki yang mendekatiku atau mengajakku jalan.
Setelah agak tenang, aku kembali ke kelas. Tak lama setelah itu, dosenku Dr. Max william pun tiba di kelas.
(Dr. Max William, Dosen Sherry di kampus)
(Dr. Max William, Dosen Sherry di kampus)

"Selamat pagi semuanya!" sapanya,
"Selamat pagi, pak" jawab seisi kelasku, serempak.
"Sebagaimana yang telah kita sepakati, hari ini kalian akan mempresentasikan materi yang telah aku berikan. Untuk itu, silahkan siapkan terlebih dahulu alat-alat yang diperlukan dalam persentasi dan ambil nomor urut presentasinya di mejaku!" tegasnya.
Aku mengambil nomor urutku dan didalamnya tertulis angka 3.
Oh nomor tiga? Terlalu awal...!
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya giliranku tiba.
"Nomor urut 3, silahkan maju kedepan!"
Aku mengambil file ku lalu berjalan kedepan melewati meja-meja yang berjajar. Saat aku hendak memulai presentasiku, aku melihat Liam menatapku dengan tatapan yang membuatku tidak nyaman. Aku menutup mataku dan menghela nafas dalam dalam.
Abaikan dia Sherry!
Pikirku, kemudian memulai presentasiku.
"Amm....baiklah semuanya, Selamat pagi...! disini saya akan mempresentasikan beberapa materi tentang sel. Sel adalah satuan unit terkecil dari mahluk hidup yang terdiri dari organ-organ khusus didalamnya yang disebut 'Organella' dengan berbagai fungsi yang berbeda-beda. Semua Organella ini hidup mengapung di dalam sebuah cairan yang mirim seperti Jelly. Bagian sell yang paling penting adalah Nukleus karena berperan dalam mengontrol semua kegiatan yang terjadi di dalam sell." paparku, dengan nada rendah. Kucoba untuk tetap tenang agar tidak gugup.
Semua perhatian teman sekelasku seketika beralih padaku saat aku mulai memaparkan materi. Mereka mulai memperhatikanku dengan antusias. Aku berbicara didepan kelas selama 10 menit. Kubuat penjelasanku sesingkat munkin agar cepat selesai karena aku sudah tidak tahan melihat Liam menatapku terus-menerus. Tatapannya itu membuatku tidak nyaman. Aku kembali ke tempatku lalu duduk disampingnya.
30 menit kemudian, bell berbunyi menandakan waktu istirahat. Kumasukan bukuku kedalam tas lalu berjalan keluar kelas. Aku menunggu Candice diluar namun dia tidak muncul juga. Kami selalu pergi ke kantin berbarengan.
"Hei, mau kekantin bareng?" ucap seorang lelaki dari belakangku sambil menepuk bahuku. Aku menoleh ke belakang.
D-dia....!
Saat aku membalikan badanku, aku sedikit terkejut, ternya itu adalah Liam.
"H-hai...! Amm...maaf aku tidak bisa. A-aku sedang menunggu temanku." jawabku,
"Sepertinya temanmu tidak akan datang. Bagaimana kalau kau pergi bersamaku saja?" ajaknya, penuh harap.
"Hhmmm....Ya....baiklah." ujarku. Karena aku tak tahu harus menjawab apa lagi, akhirnya aku mengiyakan ajakannya.
"Ngomong ngomong, aku suka presentasimu tadi. Singkat padat dan jelas!" pujinya,
"Terima kasih." jawabku, singkat. Aneh sekali, dia selalu menatapku dengan tatapan yang tak wajar ditunjukan pada seorang teman. Segera kupaling wajahku darinya dan mulai berjalan. Sepanjang jalan, semua mata tertuju pada kami berdua, terutama teman-teman perempuanku. Tatapannya yang sinis itu terlihat seolah-olah mereka cemburu padaku. Sebenarnya aku tidak mau ke kantin bareng Liam, tapi aku juga tidak mau membuatnya tersinggung. Aku terpaksa mengiyakan ajakannya.
"Ohh ini dia...! Sherry! Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau ada di sini. Dan ohh...." serunya, terhenti saat matanya melirik pada Liam yang sedang duduk disampingku. Matanya berkedip pada Liam yang disambutnya dengan senyuman.
Ogkh....!
Dasar gadis centil!
"Maaf......aku sudah menunggumu cukup lama, kukira kau tidak akan datang, jadi....aku....aku pergi saja. Dan ohh, Candice perkenalkan, ini Liam teman baruku. Dia adalah murid baru di kelasku. Dan Liam, ini Candice, teman baikku yang paling cantik." seruku, sambil mengedipkan mata pada Candice disertai dengan tawa kecil.
"Oh hai, namaku Liam Hemsworth, senang bertemu denganmu!" sapanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Hai, aku Candice Parker McGrillen, Senang bertemu denganmu juga Liam." jawab Candice, menyalami tangannya.
"Baiklah, aku akan memesan makanannya" ucapku, menyela pembicaraan mereka, "Tuan, sebelah sini!" aku melambaikan tanganku pada pelayan yang sedang berdiri di depan kasir. Dia datang menghampiri kami, "Saya pesan jus dan sandwhich isi daging. Kalian mau pesan apa?" aku melirik ke arah mereka berdua.
"Aku sama denganmu saja!" jawab Liam
Argkh...apa yang salah dengan orang ini!
Gerutuku dalam hati.
"Aku pesan sandwhich dengan mayonise dan jus coklat dengan toping marshmellow!" ujar Candice,
"Baiklah, silahkan tunggu sebentar. Pesenan anda akan datang dalam waktu 5 menit." ucap pelayan tersebut, lalu pergi.
Aku melihat Candice mengerlingkan matanya padaku saat Liam menatapku.
"Sherry, kelihatannya dia menyukaimu! Kenapa kau tidak mengajaknya jalan? Dia cukup tampan!" bisiknya padaku.
Dasar gadis centil!
Matanya selalu saja jelalatan setiap kali melihat pria tampan.
"Diam! Dasar centil! Nanti dia dengar!Dia jelas bukan tipeku!" bisikku, dengan pelan.
Liam hanya tersenyum meliahat tingkah laku Candice saat mengerlingkan matanya padaku. Mungkin dia sudah tahu apa maksudnya. Aku terdiam karena malu dan pipiku mulai memerah. Sungguh, kedatangan Candice malah membuat rasa maluku bertambah.
Lima menit menunggu, pelayan itu akhirnya datang dengan makanan di atas baki yang dipegangnya. Kami pun mulai makan.
"Jadi....darimana asalmu? Kenapa kau pindah kesini?" tanya Candice, mengawali pembicaraan.
"Aku berasal dari Itali. Ayahku menyerahkan bisnis perusahaannya yang berada di A.S. padaku. Dia tidak bisa menangani semua perusahaan yang ia pegang sekaligus. Jadi dia memintaku untuk mengelolanya. Tapi sebelum itu, aku harus tamat kuliah dulu." jelasnya.
"Ohh begitu. Pantas saja aksenmu mirip dengan orang itali." ujarnya, sambil mengunyah makanannya.
"Ya, itu karena aku asli orang itali"
Yaah sudah jelas dari caranya berbicara dan aksennya yang kental khas itali
"Itu masuk akal." jawab Candice, kembali mengunyah makanannya.
"Kau sendiri dari mana?" tanya Liam,
"Aku berasal dari Luxamburg. Aku dan keluargaku pindah ke L.A. dua tahun yang lalu. Ayahku menjalankan bisnis permesinan disana dan kebetulan sekali saat itu dia mendapatkan Client di L.A. Jadi kami pindah kesini."
"L.A. tidak begitu buruk. Kukira aku tidak akan nyaman tinggal disini. tapi ternyata L.A. tidak seburuk yang kubayangkan" jawabnya, tersenyum.
Aku hanya mendengarkan percakapan mereka berdua. Beruntung sekali Candice mengajaknya bicara karena aku tidak mau bicara dengannya, bukan karena membencinya, hanya saja aku tidak terbiasa berbicara dengan laki-laki.
"Dan kau, Sherry?" Liam mengalihkan pembicaraannya padaku. Sial, aku senang karena tidak ikut terlibat dalam percakapan mereka, namun akhirnya Liam bertanya juga padaku.
Kenapa dia melirikku segala?
Jangan melihatku!!
"Aku? Ohh ya....amm...aku dilahirkan di London, tepatnya dia Humburg. Dan....aku pindah ke L.A. bersama ibuku karena urusan keluarga"
"Urusan keluarga apa?" dia mengulang kata kataku.
"Maaf! Aku tidak bisa memberitahumu...Itu terlalu pribadi" jawabku, sambil menyeringai.
"Oh Ya, kau benar, maaf, aku...aku seharusnya tidak..." dia belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Tidak apa-apa" jawabku, memotong perkataannya.
"Rupanya kau asli orang inggris. Tapi mengapa aksenmu inggris Amerika?"
"Mungkin karena terlalu lama di A.S." jawabku, mengalihkan pandanganku kembali ke makananku.
"Boleh kudengar aksen britismu? Dari dulu aku ingin sekali belajar aksen british, tapi sayangnya tidak semudah yang kubayangkan."
"Ya, aku juga mau mendengar aksen britismu. Aku bahkan tidak ingat kau berasal dari London" sela Candice, menengahi pembicaraan.
"Ahh...y-yah baiklah. Ini dia..." aku mencoba menarik nafasku dan memposisikan bibirku "Ahem...Nama sa..." belum sempat aku menyelsaikan kalimatku, tiba tiba seorang pria berbadan tinggi, berambut pirang dengan kemeja dan dasi lengkap dengan jasnya yang hitam, kira-kira usianya sekitar 25-an lebih berjalan melewati meja kami, dan dia tak sengaja menabrak Liam sehingga makanan yang dibawanya tumpah menimpa baju Liam. Seketika bajunya kotor dipenuhi dengan cairan kopi dan saos.
"Uppsss! Maaf, aku tidak sengaja!!" ucap pria itu, dingin. Alih-alih membersihkan saos dan kopi yang dia tumpahkan pada Liam, dia malah berjalan tanpa memperdulikan apa yang telah ia lakukan.
"Sialan! Hey! Apa-apaan ini!!?" teriak Liam kesal. Namun pria itu tetap berjalan melanjutkan langkahnya seolah-olah tak mendegar teriakannya.
"Oww... Bajumu kotor! Biar kubersihkan!" seru Candice, mengusap saos yang menempel pada baju Liam dengan tissue.
"Terima kasih!" jawabnya,
"Hey Tuan, kau sadar apa yang telah kau lakukan?!" teriakku.
Lagi-lagi dia terus berjalan tanpa mendengarkan perkataanku.
"Siapa orang itu?" tanya Candice,
"Aku tidak tahu. Dia aneh sekali!" jawabku, menggeleng kepala.
Tiba tiba Liam berlari menuju pria itu. Aku mencoba untuk menghentikannya.
"L-Liam jangan!" perintahku, kemudian dia menatapku.
"Tidak apa-apa, bajingan seperti dia itu harus diberi pelajaran!!" ucapnya dengan tegas.
"Liam, kurasa ini bukan ide yang bagus" sela Candice, memegang tangan Liam.
Dasar Candice!
"Jangan khuawatir! Tunggu di sini!" perintahnya, melepaskan tangan Candice dengan perlahan lalu berlari menuju pria yang sedang berjalan didepannya.
Dia menarik tangan pria itu dari belakang dengan kasar kemudian memukulnya. Refleks, pria itu menangkis pukulan Liam yang menghantam tepat di bagian wajahnya dengan tangannya yang kuat lalu melakukan serangan balik. Pria itu menghajar pipi Liam dengan kencang sehingga dia tersungkur ke atas meja dan akhirnya jatuh ke lantai.
"Argkhh....!" serunya, kesakitan,
"Kau, masih harus banyak berlatih, bung!" ucapnya, tertawa kecil memojokannya.
"Persetan denganmu!!" teriak Liam, geram dan marah.
"Sialan! beraninya kau berkata seperti itu padaku! Sudah kubilang aku tidak sengaja!" bentaknya,
"Oh tuhan...! Liam, kau tidak apa-apa?" tanya Candice, aku dan dia membantunya berdiri.
"Aku tidak apa-apa!"
"Hidungmu berdarah! Ya ampuun...!"
eruku, kaget kemudian mengambil tissue dari dalam tas lalu mengusap darah yang mengalir dari bibirnya. Kemudian mataku beralih pada orang itu, "Begitukah cara anda meminta maaf setelah semua yang anda lakukan?"
eruku, kaget kemudian mengambil tissue dari dalam tas lalu mengusap darah yang mengalir dari bibirnya. Kemudian mataku beralih pada orang itu, "Begitukah cara anda meminta maaf setelah semua yang anda lakukan?"
"Minta maaf ? Apa aku tidak salah dengar?" jawabnya, mengangkat alis matanya.
"Sepertinya kau tidak tahu dengan siapa kau berbicara nona!!" jawabnya dengan suara geram, lalu mengerlingkan matanya padaku.
Ohh....Dia menyebalkan!
Aku tidak menyangka ada orang seperti itu di dunia
Aku tidak menyangka ada orang seperti itu di dunia
"Apa saya harus peduli?? Tuan, Saya tidak peduli siapa anda, sekalipun anda orang terhormat, boss atau semacamnya. Tapi anda telah berlaku tidak sopan terhadap teman saya!!" ucapku dengan tegas dan lantang.
Suaraku cukup menarik perhatian para siswa yang tengah makan dikantin. Mereka mulai menatap kami.
Suaraku cukup menarik perhatian para siswa yang tengah makan dikantin. Mereka mulai menatap kami.
Dia menatapku dengan tajam tanpa menghiraukan apa yang baru saja kukatakan. Tatapannya dingin dan jahat. Rasa takut kemudian muncul setelah kulihat bagaimana mata mata itu menatapku. Dia seolah-olah ingin menerkaku. Segera kupalingkan wajahku dan menjauh darinya.
"Hem..." gumamnya, puas melihatku ketakutan. Dia malah tertawa kecil, lalu kembali menatap Liam, "kau, berurusan dengan orang yang salah, bung!" ucapnya, mengencam.
"Kau akan menyesal telah berurusan denganku, tikus kecil!!" tegasnya lagi, kemudian berlalu dari hadapan kami saat melihat dua orang Security datang menghampiri kami. Orang-orang mulai berdatangan menghampiri kami.
Aku mengamati laki-laki itu lalu teringat kepada sesuatu. Aku merasa aku pernah melihat orang itu sebelumnya. Namun entah dimana...
Mungkin didalam mimpi?
Orgkh...tidak, jangan sampai!!
Aku mengkerutkan dahiku dan menutup mataku, berusaha untuk mengingatnya. Namun sepertinya aku benar-benar sudah lupa. Aku tidak mengingat apa-apa terkait orang itu.
"Hey, ada apa?" tanya Candice, khuwatir.
"Tidak ada apa-apa, lupakan saja!"
"Kau yakin?" tanyanya, dahinya berkerut tak percaya.
"Ya. Tiadak ada apa-apa" jawabku, meyakinkannya.
Perhatianku beralih pada Liam yang sedang duduk di kursi karena kesakitan. Terdapat luka memar di pipi dan hidungnya.
"Kau tak apa?" tanyaku, khawatir.
"Aku baik-baik saja. Ini hanya luka biasa!" walaupun dia berkata demikian, aku tahu betul kalau dia sangat kesakitan.
"Biasa apanya? Kau terluka! Lihat! Pipimu memar kena pukul!" seru Candice,
"Lukanya tidak terlalu sakit. Jadi, kau tak perlu khawatir." jawabnya.
"Oke" jawabnya, singkat.
Kami kembali ke kelas setelah bell berbunyi. Candice pamit padaku lalu pergi kekelasnya. Aku dan Liam masuk ke kelas berbarengan karena kami berada di kelas yang sama.
Aku kembali mengikuti pelajaran seperti biasanya sampai selesai. Setelah jam pelajaran habis, aku diantar pulang oleh Candice dengan mengendarai mobilnya.
Ketika aku hendak memasuki mobil, aku melihat mobil hitam yang selalu membuntutiku terparkir di sebrang jalan. Aku tidak bisa melihat orang yang menyetir mobil itu karena kacanya berwarna hitam pekat sehingga tak tembus pandang. Kupalingkan wajahku lalu masuk ke dalam mobil Candice. Saat berada didalam, aku kembali menatap mobil itu. Aneh sekali.
Siapa dia sebenarnya?
Tenang Sherry, tenang!
Mungkin, mobil itu sama dengan yang kulihat kemarin....
Aku harus Positif thinking!
Sesampainya di rumah, aku langsung memasuki kamarku. Kulihat Kelsey dan ibu sedang menyiapkan makan malam di dapur. Kelsey baru pulang study tour kemarin. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum padanya. Dia membawakan aku susu dan sandwhich. Aku mengambilanya dari piring lalu memakannya dengan lahap.
Kelsey keluar dari kamarku dengan membawa piring kotor. Kini tinggalah aku sendiri didalam kamarku yang ukurannya tidak terlalu besar. Aku menatap ke luar jendela dan melihat sebuah bayangan yang menyerupai seorang laki-laki, sedang mengawasiku dari kejauhan. Aku menggosok mataku berkali-kali untuk memastikan bahwa yang kulihat itu benar benar nyata, dan memang itu jelas terlihat nyata. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena terlalu jauh, tapi aku yakin sekali itu adalah bayangan orang. Atau mungkin.....
Ahh....!! ini pasti akibat terlalu banyak menonoton film horor!!
Sungguh, aku harus berhenti menonton film horor!
Dengan sigap, aku menutup gordeng jendela rapat-rapat. Aku mulai gelisah dan takut. Aku takut kalau-kalau itu adalah orang yang ingin menyakitiku. Karena takut sendirian, aku memanggil Kelsey dan memintanya untuk tidur bersamaku. Dia hanya tertawa saat meliahatku ketakutan. Tak lama kemudian, mataku tertutup dengan sendirinya dan aku mulai tertidur pulas.
******************************************
Author's Note
Kepada para pembaca yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik, saya minta bantuannya buat di share, di komen dan di voting di Wattpad ya ceritanya .....biar banyak referensi lagi๐๐. Saya sangat mengharapkan dukungan dari kalian semua. Saya juga mau minta pendapat kalian tentang cerita yang ketiga ini. Kritik, saran dan komentar yang membangun sangat saya harapkan, kok, jadi tenang aja. Mohon maaf bila banyak kalimat yang rancu atau tidak efektif. Terima kasih sudah membaca cerita saya. Salam pemuda penuh imajinasi ๐๐✌!!!





Comments
Post a Comment