Chapter 4 : Pesan Dari Orang Asing



Hai Jangan lupa di vote, comment dan  dishare di Wattpad ya, jangan lupa di follow juga. Well, enjoy reading!


******************************************







Alfred Muller's Point Of View


Aku menatap wanita yang sedang berbaring lemas di sampingku. Wajahnya dipenuhi dengan keringat dan dia terlihat sangat kelelahan. Aku tersenyum menyeringai padanya.


Sebelumnya aku telah mengingatkan wanita itu agar tidak main-main dengan kejantananku. Tapi dia tidak mau mendengarkanku. Jadi aku memperkosanya secara kasar dan tanpa belas kasihan sedikitpun hingga dia menjerit kesakitan dan tak sadarkan diri.


Aku meliriknya dengan heran karena aku tidak ingat namanya sama sekali. Bukan karena aku tak menanyakannya, tetapi karena aku sibuk memikirkan gadis lain. Apa yang harus kuperbuat saat aku benar-benar terpesona oleh gadis yang berambut coklat itu. Dia telah membuatku gila sampai-sampai aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Memikirkan gadisku.
Sherry....


Oh tuhan!


Aku suka saat namanya terucap dari bibirku, membuatku ingin menyebutnya sepanjang hari. Aku masih ingat saat pertama kali aku bertemu dengannya. Dia memelukku dengan erat dan pipinya memerah.


Kemarin aku sengaja datang kekampus tempat dia belajar, hanya untuk menemuinya karena aku sudah tidak tahan ingin melihat senyumnya yang indah itu.
Dua hari yang lalu, agen pribadiku, Sean Paul menginformasikan bahwa salah satu saingan terberatku Vincent D'onofrio, telah menyadari obsesiku terhadap Sherry, gadis yang biasa kubuntuti. Aku tahu kalau dia ingin menghancurkanku melalui orang yang aku cintai.


Bajingan, kau Vincent!!
Awas kalau kau berani menyakitinya!!
Akan kuhancurkan kau hingga berkeping-keping!!


Untuk itu, aku menugaskan beberapa orang anak buahku untuk mengawasinya. Aku harus menjaganya agar dia aman. Aku tidak akan membiarkan seorangpun menyentuhnya.


Hari ini aku sedang berada di tempat kerjaku saat anak buahku memberitahukan bahwa Sherry dan temannya pergi berbelanja ke Supermarket. Tanpa basa-basi lagi, aku langsung menghentikan pekerjaanku dan segera bergegas menuju Supermarket hanya untuk melihatnya berganti-ganti pakaian. Aku melihat bagaimana dia beradu pendapat dengan temannya demi barang yang dia sukai. Dia terlihat sangat seksi di setiap baju yang ia genakan dan saat melihat bajunya menepel dengan pas di tubuhnya, hal itu membuatku tak tahan ingin segera menghampirinya dan memeluknya.


Aku benar benar sudah tidak waras!!
Sialan, gadis ini!


Pikiranku tiba tiba terganggu oleh suara Handphone-ku yang berbunyi. 
Aku mengangkatnya dan mendesah kesal karena itu adalah Christopher Funary, temanku yang sangat berisik dan menyebalkan.


"Hey, sobat!"


"Bicara langsung ke intinya!!" perintahku tegas,


"Bung, kau tidak perlu bersikap tegas begitu. Ini masih pagi, bro!" ujarnya, sedikit tersinggung karena perkataanku.


Aku mengerlingkan mataku saat mendengar suaranya karena dia selalu membuatku kesal.


"Ada apa kau menelfonku, Chris?" tanyaku tegas.


"Begini, agen Sean Paul baru saja menginformasikan bahwa Vincent D'onofrio akan menemui Charles Wiggins hari ini. Dia membicarakan soal urusan penting terkait bisnis dengannya yang belum tuntas. Ada kemungkina mereka sedang bersekongkol untuk mengancurkan kita!"


"Baiklah aku mengerti! Kita akan adakan rapat nanti malam terkait masalah ini!!" ujarku, lalu mematikan telefonnya.
Aku mengepalkan tanganku karena marah. Charles Wiggins, adalah satu-satunya orang yang saat ini ingin kubunuh dengan sadisnya. Bahkan sampai matipun aku tidak akan puas sebelum menghancurkan tubuhnya hingga berkeping-keping. Jika Vincent D'onofrio berniat mengunjungi Charles Wiggins, maka aku tahu apa yang dia rencanakan. Sherry...


Yah, dia berencana untuk menyakitinya, seperti yang telah dia lakukan terhadap keluargaku. Aku menggelengkan kepalaku guna menghilangkan pikiran buruk tentangnya. Aku harus bersikap tenang dan rapih jika aku ingin menyelamatkannya. Aku juga harus memperketat penjagaannya dan menambah beberapa orang bodyguard lagi untuk berjaga di sekitar rumahnya agar dia benar- benar aman.


Dia harus dibawa ke tempat yang lebih aman dan aku tahu dimana tempatnya.
Bersamaku. Ya, didalam pelukanku.


Ya, dengan begitu takkan ada seorangpun yang bisa menyakitinya ataupun mengambilnya dariku!
Kau akan aman bersamaku
Sherry!


******************************************

Sherry Birkin's Point Of View


"Sherry Birkin Bangun! Kau akan terlambat ke kampus!"


Aku merintih saat ibuku memangilku dari bawah. Aku mengabaikannya dan menarik selimutku untuk menutupi telingaku agar suaranya tidak terlalu terdengar. Aku mendengar ibu memangilku dua kali dan kali ini dia berteriak.


"Sherry Birkin! Jika kau tidak mau bangun dan turun ke bawah, maka Ibu sendiri yang akan menyeretmu!!"


Mataku terbuka saat mendengar suara marah ibu yang berasal dari dapur. Ketika dia memanggil dengan nama lengkap kami, itu artinya dia berhenti menjadi baik dan berubah menjadi ibu galak yang menyeramkam.


Sambil mengeluarkan suara rintihan, aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan memasuki kamar mandi. Setelah mandi dengan air panas sebentar, aku menggenakan baju putih dengan rok hitam yang sederhana. Aku lebih suka menggenakan setelan yang sederhana. Aku tidak memiliki baju-baju mewah untuk pamer, sekalipun aku punya, aku bukan tipe orang yang suka pamer. Aku bukan berasal dari keluarga yang kaya raya jadi aku tidak peduli akan baju yang kugenakan.


Aku tersenyum saat melihat bayanganku di dalam cermin. Kulihat Baju yang kugenakan cocok dengan warna kulitku yang putih dan badanku yang ramping. Setelah meriasi wajahku dengan make-up secukupnya, aku berjalan menuruni tangga dan bergegas menuju dapur.


Sesampainya di dapur, aku mencium aroma manis Pancake yang memenuhi lubang hidungku dan perutku mulai meronta-ronta karena kelaparan.


"Pagi bu!" sapaku sambil mencium pipinya.


"Pagi, sayang!" jawab ibuku.


"Candice sebentar lagi datang. Ibu mungkin masih bekerja saat kau pulang nanti. Jadi jangan lupa membeli makanan di jalan"


"Baiklah. Oh ya, bu amm....karena sekarang hari sabtu, sepertinya....aku pulang agak telat hari ini. Tuan Anderson menyuruhku untuk membantu Susan di Cafe karena kemungkinan akan ada banyak pelanggan yang datang menjelang akhir pekan."
Ibuku berpikir sejenak lalu berkata


"Oke, sayang. Asalkan tidak terlalu telat." dia mengingatkanku. Aku mengambil makanan yang ada di meja lalu memakannya.


"Akan kuusahakan bu." ucapku disertai dengan senyuman.


Aku baru saja akan selesai makan ketika Candice mengirim pesan lewat telefon.


"Hey, aku sudah di depan rumahmu"

Aku membalasnya.

"Aku datang"

Aku menghabiskan rotiku dan bangkit dari duduku.


"Bu! Candice sudah ada di sini! Aku harus pergi sekarang! Dah, bu! Aku menyayangimu!" seruku mencium pipi ibuku lalu berlari menuju pintu.


"Dah sayang! Bilang pada Candice jangan kebut-kebutan!!" teriak ibu.


"Siap! Laksanakan!" jawabku, meniru suara tentara.

Aku menutup pintu di belakangku lalu masuk ke mobil Candice.

"Selamat pagi cantik!" sapaku, menyeringai pada temanku yang tampak cantik seperti biasanya.


Dia tidak langsung menyahut sapaanku karena pada saat itu, dia sedang melihat keluar kaca lalu menatap sebuah mobil yang diparkir di sebrang jalan. "Oh, hey Sherry! selamat pagi! Sudah siap berangkat?"


"Ya, aku siap. Tunggu! ada apa denganmu? Kau seperti menghawatirkan sesuatu?" tanyaku, heran.


"Lihat! Sebelah sana!!" perintahnya, menunjuk pada sebuah mobil hitam yang mewah, "Bukankah itu mobil yang selalu kau bicarakan? Kenapa mobil itu ada disini?"


Wajahku pucat saat melihat mobil itu.
Itu adalah mobil hitam misterius yang selalu membuntutiku kemanapun aku pergi. Mobil itu selalu terparkir di tempat yang sama dan agak menjaga jarak dariku. Jantungku berdetak kencang setiap kali kutatap mobil itu. Aku sangat yakin kalau mobil itu memang sedang mengikutiku.
"Lupakan mobil itu! ayo kita berangkat sebelum terlambat! Mungkin itu hanya mobilnya yang sama." dia menganggukan kepala dan mulai menghidupkan mesinnya.


"Ya, aku sudah dengar itu kemarin!"
Aku mencoba menenangkan diri sepanjang perjalanan namun sepertinya pikiranku menolaknya. Aku masih saja melirik keluar jendela untuk memerikasa kalau-kalau mobil itu mengikutiku. Merasa sedang diikuti membuatku gugup dan takut. Aku bukan orang yang suka mencari perhatian para lelaki. Aku adalah tipe gadis pendiam dan penyendiri. Aku selau menjauh saat ada lelaki yang mendekatiku dan sekarang aku sedang dibuntuti oleh mobil hitam misterius, rasanya aku ingin berlari ke puncak gunung yang paling tinggi agar mobil itu tidak bisa mengikutiku lagi. Aku hanya berharap siapapun orang itu, kuharap dia bosan dan berhenti mengikutiku.


"Hey, sampai kapan kau akan bengong terus? Ini sudah lima menit dan kau masih saja duduk di dalam mobil menghawatirkan bagaimana dunia akan berakhir!" ujarnya, sambil mengerlingkan mata padaku.


Barulah aku sadar ternyata dia telah memparkirkan mobilnya di depan gerbang kampus.


"Ohh, sudah sampai...? Maaf, barusan aku sedang asyik melamun." ucapku, menyesali perbuatanku.


"Sherry, jika ada sesuatu yang mengganggumu, aku akan selalu ada untuk membantumu kapanpun, dan kau tahu itu kan?" tanyanya, dengan penuh perhatian.
Aku tersenyum padanya "Ya, aku tahu betul itu, sayang. Tapi tidak ada sesuatu yang menggangguku, terima kasih!!"


kami pergi menuju kelas masing-masing.
Aku mengikuti pelajaran seperti biasanya dan akhirnya tibalah saatnya pelajaran terakhir yang paling kunanti-nanti, salah satu mata pelajaran favoritku....

Musik.

Aku suka sekali bermain gitar walaupun aku sama sekali tidak bisa memainkannya. Aku hanya melihat dan mendengarkan mereka. Aku suka mendengarkan suara genjrengan gitar yang nyaring. Rasanya seperti terbawa pindah ke dunia lain karena alunan musiknya yang berbunyi nyaring saat senarnya di petik.


Setelah beres istirahat, aku kembali ke kelas. Ketika aku memasuki kelas, kulihat semua bangku sudah terisi penuh dan satu-satunya yang tersisa adalah bangku yang berada diantara......


Oh sial...!


Niel dan Liam.


Ohh Niel Rayment....




( Niel Rayment. 21 tahun Teman sekelas Sherry dari SD yang sangat populer )


Aku sempat menyukainya ketika aku masih di bangku SMP, namun sepertinya perasaan itu sudah lama hilang sejak aku mendengar kabar bahwa dia telah memiliki kekasih. Dia berambut hitam dengan matanya yang biru berkilauan dan senyumanya yang mempesona. Semua wanita mengagumi ketampanannya, termasuk aku. Namun aku tidak pernah menyatakan perasaanku ataupun memberitahukan pada siapapun kecuali Candice. Karena aku tidak bisa berbohong padanya. Setiap kali aku berbohong, dia pasti sudah menyadarinya.
Saat Dosenku masuk ke kelas, aku bergegas menuju kursiku dan duduk di sampingnya. Dia sibuk mengirim pesan pada seseorang dengan Handphonenya sampai dia tidak menyadari aku duduk disampingnya.
Aku tidak berani menyapanya jadi aku hanya terdiam dan pura-pura membaca buku.


"Hallo semuanya! Hari ini kita tidak akan belajar memainkan nada yang baru. Justru kalian yang akan mencoba membuatnya sendiri. Cobalah tutup mata kalian dan biarkan hati dan pikiran berkerja sama menuntun kalian untuk menghasilkan rangkaian nada yang merdu, ciptaan kalian sendiri" ujar Dosenku,


Aku mengambil gitarku lalu mulai menutup mata dan membiarkan pikiran dan hatiku bekerja persis seperti apa yang guruku katakan.


Namun segera setelah itu, sosok mobil hitam yang misterius itu terlintas di benakku. Aku kembali memikirkannya. Membayangkan sesuatu yang buruk akan menimpaku. Sebenarnya aku penasaran siapa orang yang ada di dalam mobil itu.
Pikiranku terhenti saat mendengar suara Liam.


"Hey, kau tidak akan bisa bermain gitar kalau hanya memegangnya saja?" tanyanya, tiba tiba,


"Oww....ya, aku tidak tahu bagaimana cara memetik gitar. Jadi dari tadi aku hanya diam" jawabku,


"Mau kuajari bagaimana cara memetiknya?" tanyanya, tersenyum,
"Kau bisa bermain gitar?" jawabku, balik bertanya,


"Tentu saja, aku dan ayahku adalah penggemar musik. Kami selau bermain gitar jika ada waktu luang"


"Baiklah, terima kasih!" ucapku, dengan lembut, kemudian memberikan gitar yang kupegang.


"Pertama-tama, kau harus mengetahui kuncinya terlebih dahulu. Lalu, posisikan jarimu pada salah satu senar sesuai dengan kuncinya, misalnya, kuncia A, pegang ujung senar dengan jari kelingking dan jari tengahmu lalu tekan erat erat. Dan tangan kananmu mulai memetik di sekitar lingkaran senar. Seperti ini...."


Dia mulai memainkan senarnya. Suara genjrengan gitarnya terdengar merdu. Seketika aku tersenyum melihat Liam memainkan gitarnya dengan cakap. Dia menatapku saat aku tersenyum padanya. Segera kuhentikan senyuman itu lalu menundukan kepalaku.


Aku memperhatikan penjelasannya dengan seksama karena dari dulu aku ingin sekali bisa bermain gitar. Aku mencoba memainkannya setelah Liam bersikeras memintaku untuk melakannya. Kucoba untuk menerapkan instruksinya, namun suara yang kuhasilkan terdengar aneh dan tak beraturan.


"Ingat......, Tutup matamu terlebih dahulu dan biarkan hati dan pikiranmu mengambil alih untuk menuntunmu menciptakan nadamu sendiri." paparnya mengingatkanku.


"Oke" Aku menjawab.


Sesisanya, kuhabiskan waktuku belajar bermain gitar dengan Liam sampai pelajaran terakhir selesai. Aku keluar dari kelas dan menunggu Candice di depan gerbang. Saat aku hendak menyusul Candice, seseorang datang menyapaku dari belakang.


"Hai, Sherry! Mau pulang bareng?" aku menoleh ke belakang kemudian mendapati Niel didepanku. Aku terkejut dan nafasku tersentak.


Ow....ini tidak nyata!


"Niel..?"


"Ya ini aku. Hey, kau belum menjawab pertanyaanku!" gumamnya tersenyum.


"Oh, am....maaf, aku pulang bareng Candice."


Terlihat expresi kecewa di wajahnya.
"Hmm...bagaimana kalau aku ijin dulu pada Candice untuk mengantarmu pulang?" bujuknya,


Kedengarannya itu ide yang bagus!
Tidak! Kau harus berhati-hati terhadap laki-laki, Sherry!


"Maaf, Sepertinya aku tidak bisa! Mungkin lain kali"


Dia mengajakmu pulang bareng, dan kau malah menolaknya.
Dasar bodoh!


"Ohh begitu, baiklah aku mengerti. Ngomong ngomong, kalau kau mau belajar gitar, aku bisa mengajarimu jika kau mau"
"Ya, tentu aku mau. Terima ka....." ucapanku terpotong....


Tiba-tiba Liam datang menghampiri kami.
"Hai, Sherry! kau mau pulang barengku? Aku bisa mengantarmu pulang." bujuknya, kemudian menyudutkan bulu alisnya saat melihat Niel Rayment.


Ya ampun...kenapa dia ada disini?


"Hai, Liam. Terima kasih banyak, tapi aku tidak bisa, aku akan pulang bareng Candice" jawabku.


"Tapi dia tid....." belum sempat dia menyelsaikannya, tiba-tiba seorang anak kecil datang menghampiriku dan menyerahkan sepucuk surat padaku.


"Maaf dek, siapa yang memberimu surat ini?" tanyaku, anak itu hanya menggelengkan kepala lalu berlari dengan cepat.


Aku membuka surat itu dan di dalamnya tertulis....


(Kau punya 30 detik untuk menyuruh para bajingan itu menyingkir!! Karena kalau tidak, aku sendiri yang akan melakukannya dan aku yakin sekali kau akan menyesalinya. Untuk itu, jadilah gadis baik dan katakan pada bajingan-bajingan itu untuk menyingkir! Oke, sayang?)


Apa....!!? Siapa orang ini?


Aku menelan ludah dan terkejut saat melihat kata-kata itu. Jantungku berdetak kencang dan tanganku mulai berkeringat. Aku menoleh kesekitar untuk mencari orang tersebut tapi dia tidak terlihat. Kurasa orang yang mengirim surat ini sedang bersembunyi di suatu tempat dan mengawasiku.


Ini tidak nyata!


                                     

                                             To be continued......

******************************************


Author's Note


Jangan lupa di vote di Wattpad nya ya sob. Comment, Share dan enjoy.....! Bye bye for now!

Comments

Popular Posts