Chapter 2 : Siapa Dia?
***********************************
Sherry Birkin's Point Of View
Dua minggu yang lalu.....
(Flash back)
Aku pulang dari kampus sore hari di antar oleh Candice. Saat itu ibuku belum pulang dan Kelsey pergi mengikuti kegiatan study tour bersama teman sekolahannya tadi pagi. Aku dan Candice berpamitan ketika mobilnya sudah berada di halaman depan rumahku. Setelah mobilnya meluncur jauh, aku berjalan memasuki rumahku dan langsung menuju dapur untuk mencari makanan. Karena tidak ada makanan sedikitpun di atas meja, aku memutuskan untuk makan di sebuah cafe yang terletak tak jauh dari rumahku.
Setelah selesai makan, aku mampir dulu ke sebuah toko Minimarket yang berada di sebrang jalan. Aku membeli beberapa perlengkapan kuliah dan makanan untuk ibuku. Sebelum aku mencapai kasir, tiba-tiba saja aku mau buang air kecil.
Aku berlari menuju kamar mandi dan langsung menutup pintunya keras-keras. Saat kubuka kembali, tiba-tiba saja pintunya terkunci. Aku tidak bisa membukanya.
Sial...!!! Kenapa pintunya terkunci?
Ya, ampun....seseorang buka pintunya!
Tolong aku!
Ya, ampun....seseorang buka pintunya!
Tolong aku!
Aku berteriak minta tolong berharap ada orang yang mendengar, namun tak seorang pun menyahut. Aku telah mencoba mendobraknya berkali-kali namun usahaku sia-sia.
Aku terkejut saat melihat arlojiku telah menunjukan pukul 18.00.
Sial....! Kenapa ini terjadi padaku?
Berapa lama aku akan terjebak disini?
Aku tidak mau menginap disini!
Berapa lama aku akan terjebak disini?
Aku tidak mau menginap disini!
**********************************
(Alfred Muller. 26 tahun. Boss Mafia kaya raya yang jahat dan sadis )
(Alfred Muller. 26 tahun. Boss Mafia kaya raya yang jahat dan sadis )

Alfred Muller's Point Of View
Satu jam kemudian setelah Sherry terjebak di dalam kamar mandi......
"Tuan Alfred Muller, ini makanan anda, Tuan." ujar salah satu pelayanku. Dia meletakan makanan di atas meja.
Tanganku menjangkau sandwhich yang ada di atas meja itu, kemudian memakannya. Saat kutahu rasanya tidak sesuai dengan yang kuinginkan, aku membanting makanan itu kearahnya.
"Sialan kau babu tak berguna!! Kau sebut ini makanan!?" bentakku, melemparkan makanan itu ke arahnya.
Sontak, pelayanku kaget dan segera bersimpuh di hadapanku untuk memelas ampunan. Aku memang suka melihat orang mengemis di bawah lututku.
"Ampun tuan! Ampunilah saya! Saya tidak bermaksud menghilangkan selera makan anda, Tuan!" dia memelas padaku sambil berlutut di bawah kakiku.
Sebenarnya makanan yang disajikan oleh pelayanku tidaklah buruk, melainkan itu hanya keisengan belaka yang kubuat-buat untuk dijadikan alasan sebagai bahan cacianku. Entahlah, aku suka melihat pemandangan seperti itu. Rasanya tidak puas jika tidak memaki ataupun membunuh orang sehari saja.
"Sampah sialan!! Nafsu makanku hilang gara-gara kau!! Aku ingin ruanganku bersih dalam waktu 1 menit. Kalau tidak, aku tidak hanya akan memecatmu, kau tahu..... Aku akan membunuhmu, paham!!"
teriakku, mengancamnya kemudian berlalu dari hadapannya.
"B-baik T-tuan..." jawabnya, dengan gugup dan ketakutan. Tangannya gemetar saat memegang sapu.
Aku tahu dia sangat ketakutan saat aku mengencamnya. Semua pekerja termasuk anak buahku pernah mengalami hal semacam itu. Dan itu merupakan sebuah keharusan. Aku senang melihat semua orang tunduk dan patuh karena mereka takut padaku. Aku bahagia mereka ketakutan karena aku.
Tentu saja, mereka harus takut padaku, kecuali kalau mereka sudah siap untuk mati.
Aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan, tak peduli apapun itu. Aku mempunyai segalanya. Uang, rumah mewah, mobil, kapal, tampang, tahta, orang, semuanya sudah ada dalam genggamanku. Aku memiliki cabang perusahaan hampir diseluruh dunia. Aku juga memiliki pulau pribadi serta segudang emas dan berlian. Setiap hari kujalani hidupku dengan bahagia serasa disurga karena aku memiliki segalanya. Hanya satu hal yang tidak kumiliki, cinta. Dan aku tidak membutuhkannya.
Hari ini aku pergi mengunjungi seorang pemilik toko yang enggan memberikan setoran bulanan kepada anak buahku. Dia tidak mau membayarnya saat ditagih oleh anak buahku. Hanya ada satu cara untuk menyelesaikannya, dan itu adalah bagian yang paling kusukai.
Membunuhnya....
Ya, benar, aku suka membunuh orang. Aku senang melihat mereka ketakutan saat nyawanya sudah berada di tanganku. Rasanya seperti menaikan kehormatan dan harga diriku. Itu membuatku benar-benar hidup dan puas.
Karena tak ingin membuang-buang waktu lagi, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dia tidak pantas hidup karena sudah berani bermain-main denganku.
Aku akan membunuhnya saat keadaan sekitar mulai sepi guna mengindari tindakan kriminal yang tidak perlu. Aku tidak ingin orang orang tahu urusanku ataupun membuat mereka takut. Jadi aku menunggu diluar sampai mereka semua pergi.
Setelah pengunjung terakhir keluar, aku berjalan memasuki toko itu dan langsung menemuinya.
"Waktunya untuk mati, kawan. Kau sudah hidup cukup lama." seruku, mengacungkan pistol ke arahnya lalu menembaknya. Saat itu juga, laki-laki itu jatuh tersungkur ke lantai dan tewas seketika. Aku tersenyum puas melihat darahnya mengalir di rahangnya.
Saat aku melirik ke kanan dan kekiriku memastikan tidak ada saksi mata yang melihat aksiku, aku mendesah lega karena toko itu sudah sepi. Aku mengisyaratkan anak buahku untuk masuk ke kabin dan merampas semua uangnya. Saat aku sudah berada di dalam kabin, aku mendengar suara ketukan dan teriakan perempuan didalam kamar mandi yang terletak di ujung kabin. Aku memegang pistolku namun tidak menariknya. Perlahan aku menghampiri kamar mandi itu. Aku memberitahu anak buahku agar mereka membuntutiku dari belakang, untuk berjaga-jaga kalau itu adalah musuh. Ketika sudah mencapai pintu kamar mandi tersebut, kulihat pintunya terkunci. Aku mengarahkan pistolku pada lubang kunci pintu tersebut dan menembaknya lalu menendangnya sekuat tenaga. Seketika pintu itu terbuka dan....
Setelah pintu itu terbuka, nafasku tersentak.
Aku melihat seorang gadis cantik berambut coklat, berkulit putih dan mulus dengan tubuh mungil, berbibir tipis berwarna pink dan matanya berwarna hitam keemasan sedang berdiri dihadapanku. Dia terlihat sangat ketakutan saat pertama kali melihatku namun berubah begitu tahu aku hanya berdiri mematung didepannya.
Cantik sekali....!
Aku sibuk mengamati kecantikan gadis itu kemudian dia melakukan sesuatu yang membuatku terdiam tak berdaya. Dia berteriak kegirangan dan memeluku.
Astaga...!
"Terima kasih, terima kasih banyak telah membukakan pintunya, pak. Pintunya terkunci, dan saya terjebak disini selama dua jam. Saya kira saya akan menginap di dalam kamar mandi ini." ucapnya, sambil mempererat pelukannya.
Aku sama sekali tidak bersuara ataupun membalas pelukannya karena saat itu aku benar-benar salting. Aku malah terdiam membeku dan membiarkan tubuhku merasakan setiap inci tubuhnya yang menyentuh dadaku saat dia memelukku. Tapi itu tidak berlangsung lama karena tak lama setelah itu, dia melepaskan pelukannya dengan tiba-tiba.
Aku mendesah kecewa dan mengalihkan pandanganku ke samping saat dia melepaskan genggamannya dari bahuku. Dia menatapku dan pipinya langsung memerah. Dia tersipu malu.
Ya tuhan....
Pikiranku berubah menjadi liar lalu membayangkan aku menyentuh setiap inci tubuhnya dengan lembut. Merasakan kehangatan tubuhnya. Bagaimana rasanya jika aku merapatkan tubuhnya padaku, menyandarkannya pada tembok dan.......
Sial!! apa yang sedang aku pirkan?
Tahan Alfred, tahan....!!
Gumamku dalam hati.
Sentuh dia Alfred! Cepat kau sudah tidak tahan!
Argh....!!! Sial. Kenapa aku ini?
Pikiranku teralihkan saat Christopher Funary, partnerku mengeluarkan suara erangan yang keluar dari kerongkongannya dan berkata "Boss! Tugas kita belum selesai!"
Tugas?
Ohh, ya sial aku lupa!
Aku memalingkan wajahku dari gadis itu dan mengerlingkan mataku padanya. Kuliahat pipinya semakin memerah. Dia lalu menundukan wajahnya karena malu dan berkata, "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas bantuannya dan, ammm...... S-saya harus pergi sekarang!" Ucapnya, gugup lalu blerlari menuju pintu keluar dengan cepat.
Kakiku melangkah secara otomatis mengikuti jejaknya namun gadis itu sudah pergi jauh. Aku mengutus beberapa kacungku, Phoenix, George dan Paul untuk mencari tahu sekaligus melacak keberadaan gadis itu.


Mereka semua menganggukan kepala kemudian berlalu dari hadapanku. Setelah mereka pergi, aku mengalihkan perhatianku pada beberapa anak buahku yang sedang berdiri menatapku seolah-olah ada yang aneh dariku.
"Apa?" tanyaku, dengan mata yang membelalak.
"Tanganmu, Boss!" jawabnya, sambil menunjuk ke arah tanganku yang tengah bercucuran darah.
Aku melirik tangan kananku dan kulihat serpihan kaca menancap di atas pergelangan tanganku. Aku mencabutnya dan melemparnya jauh-jauh.
"Hah? K-kapan aku mendapatkannya?" sahutku, tak percaya.
Sejak kapan tanganku terluka?
Mungkinkah aku sangat terpesona oleh gadis itu hingga aku tidak merasakan sakit sedikitpun ketika serpihan itu menancabku...?
"Saat kau mendobrak pintu tadi, Boss. Tanganmu terkena pecahan kaca Tuan."
"Oh....y-yah" jawabku, pura pura mengingatnya padahal aku tidak ingat betul kapan aku terkena pecahan kaca itu.
"Cepat...!" bentakku.
Sialan!
Salah seorang anak buahku berlari menuju mobil dan kembali dengan membawa sekotak obat. Aku mengambilnya dan segera mengobati lukaku kemudian berjalan keluar dari dalam toko karena aku tak ingin mereka menyadari bahwa boss mereka yang galak dan sadis itu ternyata telah terpesona oleh seorang gadis.
Memalukan!!!
Aku duduk dikursiku dan menghela nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Setalah berhasil mengalihkan pikiranku dari gadis itu, aku melihat Christopher Funary berjalan mendekatiku sambil tersenyum.
( Christopher Funary. 26 tahun, teman dekatnya Alfred )

Aku mebelalak pada senyumannya karena sudah tahu apa yang akan ia katakan.
"Apa yang terjadi disana?" dia bertanya.
"Tidak ada apa-apa." jawabku, singkat.
"Jangan menghindari pertanyaanku, Alfred. Aku tahu apa yang terjadi padamu. Kau tampak sangat terpesona oleh gadis itu sampai-sampai kau lupa kalau tanganmu terluka." ujarnya, lalu dia melanjutkan, "Aku sudah melihat bagaimana expresimu saat gadis itu memelukmu" serunya,
"Oh...ayolah bung! Ini bukan pertama kalinya kau melihat perempuan keluar dari kamar mandi. Bro, kau bahkan telah melihat ribuan gadis cantik telanjang. Lalu apa yang membuat gadis itu berbeda sehingga kau begitu tertarik padanya?" Tanyanya lagi.
Aku hanya mengangkat bahuku dan menggelengkan kepala karena tidak tahu apa yang harus kukatakan untuk menjawab pertanyaannya. Dia meghela nafas.
"Ingat Alfred! Jangan sampai kau jatuh cinta pada gadis itu. Kita tidak boleh terjun kedalam hal-hal yang berbau cinta. Dan menurutku, gadis itu terlalu suci untukmu. Jadi, jangan menyeretnya masuk kedalam dunia kita!!" paparnya, lalu masuk ke dalam mobil.
Aku hanya terdiam, tak bersuara. Aku mendengar dia tertawa padaku, lalu aku meliriknya.
"Kau mau yang enak-enak? Ada banyak di club. Ayo kita cari gadis manis disana!" sahutnya, disertai dengan tawa.
Aku tak menghiraukannya. Aku kembali memikirkan apa yang dikatakannya. Dia benar, aku tidak boleh jatuh hati padi gadis itu. Tapi walaupun begitu, aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku tidak bisa melupakan bagaimana matanya yang hitam keemasan itu menatapku, badan mungilnya yang putih dan mulus menyentuhku, rambut panjangnya yang terurai menutupi pipinya, dan sialan! Semua yang ada padanya tampak sempurna.
Aku harus menemukannya! Ya!
Aku ingin melihat mata mata itu!
Aku ingin merasakan tubuhnnya, mendekapnya, dan.....memilikinya.
AKU MENGINGINKANNYA!
************************************
Seminggu Kemudian....
Anak buahku berhasil menemukan informasi tentang gadis itu selama seminggu. Aku menghela nafas, dan melihat catatan yang dibawa anak buahku.
Nama : Sherry Birkin
Usia : 18 tahun
Nama Ibu : Ethany Birkin
Nama Ayah : ------
Saudara kandung : Kelsey Birkin
Teman : Candice Parker McGrillen
Sekolah : (IUM) International University of Michigan
"Bagus. Kau boleh pergi sekarang!"
Pujiku kepada beberapa orang yang tengah berdiri di hadapanku.
Tanpa basa basi lagi mereka langsung pergi setelah melihat mataku sedikit membelalak.
Jadi namanya Sherry Birkin....?
Aku suka ketika nama itu keluar dari bibirku!
Sherry....
"Hmm...tak lama lagi kau akan menjadi milikku! Cepat atau lambat!"
Sejak saat itu, aku selalu mengawasinya dari jauh kemanapun ia pergi. Kedengarannya memang menyedihkan. Kau boleh memanggilku gila, psychopath, atau apapun terserah. Tapi aku harus menemuinya setidaknya satu kali dalam sehari. Aku suka memandangnya dari jauh terutama, saat dia tertawa. Pipinya yang memerah ketika tersipu membuatku tak bisa berpaling darinya.
Sial, kau sudah tidak waras Alfred!!
************************************
Back to present (kembali ke masa sekarang).......
Back to present (kembali ke masa sekarang).......
Sudah dua minggu lebih aku membuntuti gadis itu. Aku belum pernah berbicara dengannya langsung, aku hanya mengawasinya dari jauh dan itu telah membuatku tergila-gila terhadapnya.
Selama dua minggu lebih aku selalu pergi ke Cafe tempat dia makan bersama temannya. Untungnya dia tidak menyadari bahwa aku selalu mengawasinya setiap saat. Aku mengagumi setiap gerak geriknya. Bagaimana saat dia menggigit jarinya, saat sedang memikirkan sesuatu, bagaimana dia meneguk minuman dengan bibir pinknya yang tipis, gerakan tangannya, senyumanya dan semua yang ada padanya aku menyukainya.
Aku tidak tahan lagi, ingin rasanya aku menghampirinya dan mencium bibirnya yang tipis itu, merasakan setiap inci tubuhnya.
Ohh...Sherry.....!
Kau telah membuatku gila!
Kalau begini terus, aku tidak bisa menuggu lebih lama lagi. Aku harus mendapatkannya dengan segala cara.
Tunggu aku, Sherry......!
***********************************
Author's Note
Hello? How are things going on?
I hope you'll all right...
I hope you'll all right...
Jangan lupa divote di wa ya, dan update terus ceritanya dengan mem-follow account Wattpad saya. Comment, vote, share and enjoy it, Bye bye for now!
Ciao!





Comments
Post a Comment