Chapter 7 : Diculik





Enjoy reading! Hope you find it useful as well asa entertaining! (Semoga bermanfaat dan juga menghibur)



Attention To All Readers 

Saya, sebagai author, akan sangat senang jika kalian mau memberikan komentar kalian mengenai chapter kali ini. Terimakasih atas kunjungan kalian ke blog saya. Jangan lupa di vote, share, dan comment di Wattpad ya, it'll be very helpful...


That's all for now, 
Çok teşekkür ederim! Hadı Görüşürüz!
(Thanks a lot, see you later)





******************************************



Sherry Birkin's Point Of View






Setelah mandi dengan air panas, aku merasa tubuhku sangat segar. Tubuhku terasa nyaman dan wangi.


Aku mengambil handuk yang menggantung di atas gantungan dan memakaikannya, tapi handuknya hanya mencapai tengah-tengah pahaku.



      ( Kamar mandi mewah milik Alfred )


Aku keluar dari kamar mandi dan berjalan memasuki ruangan yang didalamnya terdapat lemari pakaiannya yang tak sengaja kulihat tadi. Sejenak aku menatapnya. Awalnya aku tidak berani memakainya karena itu bukan milikku. Tapi kalau aku tidak memakainya.......



Tidak ada pilihan lain.
Aku tidak mau telanjang!



Aku memutuskan untuk memakainya dan segera meminta maaf kepada pemiliknya.



Kau harus berterima kasih kepada pemiliknya Sherry!


Gumamku dalam hati.
Ketika aku hendak melepas handukku dan melemparnya, aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku. Saat aku berbalik, aku terkejut melihat seorang laki-laki yang dengan sengaja sedang mengintipku dari belakang. Aku langsung menjerit sekencang-kencangnya.


Tiba-tiba tangan yang besar menutupi mulutku dan mendorongku hingga punggungku menyentuh lemari.
Dia mencengkram tanganku dengan kuat sehingga aku tak bisa bergerak. Aku sangat ketakutan dan langsung menutup mataku.


Aku akan mati sekarang!


"Buka matamu sayang! Aku ingin melihat matamu yang indah itu!!" bisiknya kedalan telingaku.


"Siapa kau? Tolang lepaskan aku!"


"Kau akan tahu saat kau membukanya."


Perlahan aku membuka mataku dan melihat sepasang mata yang berwarna biru berkilauan sedang menatapku. Dia adalah pria tertampan dari yang pernah kulihat. Matanya yang berwarna biru terang, berhidung mancung dan berbadan tinggi serta berotot itu menatapku dengan seksama. Jujur saja, aku takut terhadap pria yang berotot, mereka identik melakukan hal-hal yang berbau kriminal. Saat melihatnyapun aku benar-benar ketakutan. Dia menatapku dengan tajam seolah-olah aku ini mangsanya yang akan ia lahap.
Sebagian tangannya menutupi mulutku dan sebagiannya lagi menekan pinggangku pada tubuhnya dengan erat hingga kami saling berdempetan. Aku bisa merasakan dadanya yang keras menyentuhku. Kepalaku hanya mencapai dadanya karena dia terlalu tinggi. Air mata mulai mengalir di pipiku, karena saking takutnya aku saat itu.


Aku benar-benar terjebak diantara tubuhnya dan tembok. Tidak ada celah sedikitpun. Tubuhku tidak bisa digerakan karena cengkramannya yang sangat kuat.
Dia melepaskan tangannya yang menutupi mulutku, dan mulai mengelus-elus rambutku yang basah sambil menatapku, kemudian turun ke pipiku, mengelus-elusnya dengan lembut. Dia menyentuh bibirku dan perlahan menghapus air mataku. Nafasku tersentak dan mulutku menjadi kering.


Aku melihat dadanya yang mendekap tubuhku, sangat dekat. Ingin sekali aku mendorongnya agar menjauh dariku, tapi lelaki itu terlalu kuat. Aku bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun. Dia benar-benar kuat.


Matanya yang mulai menghitam dipenuhi dengan nafsu itu, beralih menatap bibir keringku.


Perlahan, dia mulai mencondongkan kepalanya ke arahku. Oh tidak.


Dia akan menciumku!
Ohh....tidak, tidak, tidak, jangan lakukan itu! Kumohon....
Sial!! Aku tidak mau menciumnya!!
Seseorang tolong aku!


Ketika dia hendak menyentuh bibirku, aku mendorongnya dengan sekuat tenaga. Ternyata berhasil.


Bagus!! Rasakan itu!


Dia tersungkur kebelakang. Matanya terkejut dan nafasnya terengah-engah. Nampak ekspresi kecewa di wajahnya.


"Sialan!!" umpatnya, kesal.


"Beraninya kau masuk ke kamar seorang gadis yang sedang telanjang!!" teriakku marah namun suaraku tersentak.


"Pria mana yang tahan melihat seorang gadis cantik dan seksi berjalan tanpa busana!?" jawabnya menyeringai.


"Tapi itu tidak sopan! Dan kau hampir saja mencuimku! Apa kau sudah gila?" terikaku lagi, kesal,


"Aku tidak peduli. Dan aku pasti sudah menciummu sekarang kalau kau tidak mendorongku"


"Aku yakin sesuatu telah terjadi pada otakmu. Kau gila!"


"Ya, kau benar. Aku gila, dan orang yang telah membuatku gila adalah kau."


"Aku? Aku sama sekali tidak mengenalmu dan aku tidak pernah melakukan apapun kepadamu!"


"Kau memang tidak melakukan apapun, tapi mata indahmu dan wajah cantikmu yang melakukannya" ujarnya, tersenyum menyeringai,


Orang ini benar-benar sudah tidak waras!!


"Ya, terserah kau saja. Ngomong-ngomong, s-siapa kau sebenarnya?" tanyaku,


"Kau tidak ingat?" jawabnya, mengerutkan bulu matanya padaku, aku menggelengkan kepala.


Dia tersenyum menyeringai melihatku. Seketika tubuhku menggetar ketakutan.
Menyeramkan.


"Dimana aku?" tanyaku, tidak sabar,


"Kau di rumahku" jawabnya.


"Kenapa aku ada di rumahmu? Dan siapa yang menolongku?"


"Tentu saja aku! Kau terluka dan aku membawamu ke rumahku" jawabnya, dengan bangga,


"Ow, amm......terima kasih banyak. M-maaf sudah berbicara kasar dan mendorong anda. Saya tidak tahu kalau anda telah menolong saya." ucapku, sedikit menyesal karena telah berlaku kasar.


Dia mengkerutkan bulu alisnya tanpa menghiraukan permintaan maafku dan berkata, "Segera berpakaian dan temui aku di bawah!!" perintahnya, tegas. Matanya masih hitam dipenuhi dengan nafsu.
Dia berjalan mendekatiku. Aku mencoba mundur beberapa langkah hingga punggungku menyentuh tembok. Lagi-lagi aku terjebak!


"Kau tahu? Aku tidak tahan melihatmu berteriak padaku tanpa busana melainkan secuir handuk yang menyelimuti tubuhmu. Dan sekarang, jika kau berbicara padaku seperti itu lagi, kurasa aku tidak akan bisa menahan diri!" bisiknya ke dalam telingaku, lalu berbalik dan berlalu dari hadapanku.


Aku masih terdiam membeku. Aku mulai merasa takut dan bingung. Siapa orang itu sebenarnya?



Apakah dia akan menyakitiku?
Apa dia akan membunuhku?



        **********************************


Aku berdiri menghadap tembok dan masih terdiam membisu. Otakku sedang dalam proses memahami semua yang baru saja menimpaku. Pikiranku tidak bisa menahan beban seberat ini seolah-olah aku belum siap menghadapi kenyataan yang sekarang aku hadapi.


Seharusnya tadi aku menampar pria itu karena telah berani mengintipku dari belakang bahkan ia hampir menciumku. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memang tampan, tapi itu bukan berarti aku menyukainya. Aku menilai orang bukan dari tampangnya, tapi aku terbiasa melihat mereka dari sikap dan hati mereka.
Perutku kembali bersuara. Setelah menggenakan pakian, aku keluar dari kamar dan bergegas menuruni tangga.
Saat aku berjalan melewati ruang makan, aku melihat pria tadi sedang berbicara dengan seseorang di dalam telefon.


"Ya, bagus Chris. Bawa dia ke rumahku secepatnya! Aku tidak sabar ingin menghukumnya!" perintahnya, lalu menganggukan kepalanya sambil melirik ke arahku, setelah menyadari kehadiranku kemudian melanjutkan kembali pembicaraannya,


"Ya, dia sudah bangun"


Aku? Apakah mereka sedang membicarakanku?


"Ya, kau bisa bertemu dengannya saat kau berada di sini" jawabnya, mengusap rambutnya dengan kedua tangannya.


"Bawa dia langsung ke dalam Basement! Dan segera siapkan semuanya!" perintahnya dengan kejam, "Aku sendiri yang akan mengurusnya" dia mematikan telefonnya.


Basement? Mengurusnya? Apa yang akan dilakukannya kepada orang itu?


Aku berdiri dibelakangnya menunggu dia bereaksi saat mengetahui kehadiranku, namun dia malah terdiam. Aku mengeluarkan suara eraman. Kemudian dia melirik ke arahku dan berjalan mendekatiku.


"Amm.....Baiklah.... S-saya...."


"Pergi ke dapur dan makan! Sudah dua hari perutmu belum terisi" selanya dengan keras,


"Apa?" tanyaku dengan nada naik, tak percaya "S-saya tidak sadarkan diri selama dua hari?" seruku, kaget "Oh tuhan....! Ibu saya pasti sangat marah dan dia pasti sedang mencari-cari saya. Oh tidak, bisa mati aku! Saya harus pulang sekarang juga kalau tidak dia......" seruku, tergesa-gesa.
"Setidaknya makan dulu! Kau harus mengisi perutmu terlebih dahulu. Kita akan bicarakan mengenai hal ini nanti" dia menyelaku lagi.


"B-baiklah" jawabku, mengalah.


Aku berjalan menuju dapur dengan mengikutinya dari belakang. Dia menyuruhku duduk lalu seorang pelayan datang dengan sepiring sandwhich di tangannya. Dia meletakannya ke dalam piring lalu diserahkannya kepadaku.
Ingin rasanya aku membuka mulut dan memprotes karena aku tidak suka makan di rumah orang lain, tapi saat aku melihat dia menatapku dengan tatapan yang sangat serius, aku menundukan kepalaku dan fokus pada piringku. Kupikir itu hal terbaik yang harus kulakun karena setelah aku mengunyah sandwhich itu, perutku langsung menggerutu karena kekurangam makanan. Sandwhich-nya benar-benar enak. Aku merintih karena rasanya yang luar biasa.


Setelah mengeluarkan suara rintihan, aku menoleh ke arah laki-laki yang sedang duduk di seberang meja. Dia tidak mendengarnya karena saat itu perhatiannya terfokus pada handphone yang sedang ia pegang. Dia terlihat sedang sibuk mengirim pesan pada seseorang. Setelah selesai memakan sandwhich, aku menggeser piring kosong itu dan mulai memakan Pancake. Lagi-lagi aku merintih karena rasanya yang enak.


"Berhenti mengeluarkan suara itu!!" perintahnya. Suaranya yang kasar membuatku takut dan segera berhenti mengunyah. Aku cepat-cepat menelan Pancake yang sedang kukunyah dengan gugup.


"Maaf" dia melirikku sambil mengkerutkan bulu alisnya, kemudian kembali mengetik handphone-nya.


"Amm...terima kasih untuk makananya" aku meletakan piring-piring kotor itu ke dalam pencuci lalu kucucinya sampai bersih, dia hanya menatapku "Dan juga....terima kasih telah menyelamatkanku!" ucapku, dengan tulus. Dia kembali melirikku dan hanya mengaggukan kepala.


Aku menunggunya bicara tapi dia terlalu sibuk mengetik di Handphone-nya. Aku memutuskan untuk mengawali pembicaraan, berpamitan dan segera pergi dari sini.


"Baiklah. Saya rasa, sekarang saya sudah sembuh dan perut saya sudah kenyang amm.....sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak untuk semuanya! Ibu saya pasti sedang menunggu saya. Saya harus pergi sekarang!" ucapku sambil bangkit dari tempat duduku.


Setelah kata-kata itu keluar dari mulutku, dia mengalihkan pandangannya padaku dan tersenyum sadis padaku, "Memangnya kau pikir kau akan pergi kemana, sayang?"
"Ke rumah" jawabku dengan jelas.
Dia mengeluarkan senyuman yang benar-benar membuatku takut.


"Sekarang ini adalah tempatmu, sayang. Kau harus mulai membiasakan diri untuk tinggal disini!"


Apa? Apa yang baru saja dia katakan?


"Tunggu, apa maksudmu saya tidak boleh pulang? Maaf, saya harus pulang sekarang juga! Terima kasih telah menolong saya, tapi sekarang saya baik baik saja, jadi, biarkan saya pulang!" jawabku, sambil berdiri karena kesal.


"Kurasa aku sudah bicara dengan jelas, Sherry! Aku tidak suka mengulanginya!" ujarnya dengan nada yang serius.


Ya ampun dia benar benar gila!


"Apa kau sudah gila? Aku harus pulang! Kau tidak berhak mengurungku disini!" jawabku dengan kasar lalu berjalan ke depan, "Aku tetap akan pergi tanpa perlu ijin darimu!!" aku sangat kesal dan marah.
Dalam bebera saat, dia sudah berada di hadapanku. Matanya memerah dipenuhi dengan kemarahan.


"Cukup sialan!!" bentaknya, membuatku kaget.


Aku tersentak oleh suara bentakannya yang keras dan mundur kebelakang dengan gemetar. Aku mulai takut karena dia benar-benar marah. Dia memukul meja yang ada di depanku dan mendaratkan kedua tangannya pada tembok dimana aku berada dalam dekapannya. Mataku mulai berair tapi tidak menangis. Aku menatapnya dengan gemetar.


"Dua hal yang harus kau patuhi!" bentaknya sambil mencondongkan kepalanya ke arahku hingga jaraknya tinggal beberapa inchi lagi dariku.


"Pertama, jangan pernah menaikan suaramu ketika kau berbicara padaku dan jangan pernah mengabaikan perintahku atau kata-kataku!! Dan yang kedua, ini adalah yang paling penting, kau tidak akan pergi kemanapun, tidak hari ini, ataupun besok, tidak akan pernah selamanya!! Paham!" ujarnya sembari menggertakan giginya, suaranya serak dan matanya merah penuh dengan kemarahan.
Wajahku pucat mendengar kata-katanya dan jantungku berdetak kencang ketakutan.



Ini tidak benar! Ini tidak mungkin terjadi! Tega sekali dia mengurungku!



"Maksudmu a-aku.....kau...telah....." ujarku gugup.


"Menculikmu?" tanyanya tersenyum sadis saat aku hendak mengutarakan kata itu.

"Ya, sayang. Aku telah menculikmu" tiba-tiba sekujur tubuku menggetar dan air mata mulai mengalir di pipiku.


"Aku akan memanggil polisi dan memenjarakanmu!" aku mencoba mengancamnya dengan harapan agar ia terpengaruh dan segera melepaskanku, namun dia sama sekali tidak terpengaruhi oleh ucapanku. Dia malah mengerlingkan matanya.


"Oh silahkan lakukan, sayang! Aku sama sekali tidak takut" dia menantangku sambil mendekatkan telefonnya kepadaku, "Kau tahu? Terakhir kali polisi yang datang kemari menghilang tanpa jejak seperti ditelan bumi, dan aku yakin kau tahu apa yang terjadi padanya" Ucapnya, menakut-nakutiku. Tangannya meraih bahuku, menyentuhnya dengan lembut, lalu menarik tubuhku hingga menabrak dadanya yang keras. Matanya menatapku seakan-akan aku ini makanan yang akan ia lahap dan tangannya mencegahku untuk menjauh hingga aku terperangkap diantara kedua tangannya yang besar. Kulihat kepalanya mulai condong, mendekati wajahku. Jantungku berdebar tak karuan dan tubuhku gemetar seperti mesin yang menyala. Keringat mulai bercucuran dan.....aku sadar, aku benar-benar ketakutan sampai-sampai air mata yang mengalir di pipiku pun tak terasa. Tiba-tiba tangannya menarik kepalaku dan kurasakan daun bibirnya menyentuh bibirku.


Apa....... D-dia m-menciumku? Tidak, tidak, tidak, tidak.......



Aku mencoba melepaskan pelukannaya dan membuat jarak dintara kami, namun tangannya mencengkramku dengan kuat.
Aku sangat kesal, benar-benar kesal dan aku juga sangat takut. Namun sepertinya rasa kesalku lebih besar dari pada rasa takutku. Seketika, aku melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kulakukan.
Aku menampar wajahnya dengan keras.



                                    To be continued..........



******************************************


Author's Note



Bagaimana menurut kalian kelanjutan ceritanya? Baca terus dan nantikan kisah-kisah yang menarik lainnya ya! karena saya juga sedang menulis seri-seri cerita yang lainnya, jadi mohon maaf mulai sekarang update ceritanya agak lambat. Saya minta bantuannya kepada kalian semua, jangan lupa di share, di komen dan di voting ya ceritanya.....biar banyak referensi lagi🙏🙏 Salam pemuda penuh imajinasi, tangan terkepal mari berkreasi👊👊✌😎

Comments

Popular Posts