Chapter 5 : Iblis Penyelamat
(Warning, konten untuk cerita part ini mengandung unsur kekerasan. Jika kamu tidak begitu suka, lebih baik part ini di skip saja)
******************************************
Sherry Birkin's Point Of View
Aku menelan ludah dan terkejut saat melihat kata-kata itu. Jantungku berdetak kencang dan tanganku mulai berkeringat. Aku melirik ke sekitarku untuk mencari sang pengirim surat kalau-kalau dia sedang mengawasiku sekarang, tapi dia tidak terlihat. Kurasa orang yang mengirim surat ini sedang bersembunyi di suatu tempat dan mengawasi setiap gerak-gerikku.
"Ada apa, Sherry? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Liam, melirik padaku.
"Y-ya, semuanya baik-baik saja, Liam, Terima kasih!" jawabku, tergesa gesa.
Baik apanya!
Tiba-tiba Neil mendekatiku lalu memegang kedua bahuku dengan tangannya dan menatapku dengan serius. Seketika aku meresa sekujur tubuhku gemetar dan jantungku berdetak kencang.
Oh......!!
"Kalau begitu akan kuantar kau pulang!" ujar Niel, mempererat genggamannya.
"Bro! Dia akan pulang bersamaku!" sela Liam, melepaskan tangan Niel dari bahuku dan menariknya ke belakang.
"Bung, memangnya kau siapa? aku yang mengajaknya duluan! Jadi dia akan pulang bersamaku" seru Niel, menarik Liam menjauh dariku menggantikan posisinya.
"Dan kau sendiri siapanya dia? Aku temannya dia!" teriaknya, kesal.
"Aku juga tema....!"
"Teman-teman.....!! Kumohon hentikan! Terima kasih atas tawarannya. Tapi maaf, aku tidak bisa. Aku akan pulang naik Taxi saja! Sampai ketemu besok!!" ucapku dengan tergesa-gesa lalu berlari menuju halte.
Aku memberhentikan Taxi dan memberitahu sang supir alamat yang kutuju.
Aku benar-benar takut saat membaca surat itu. Aku harus berbohong pada Liam dan Niel guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Orang yang mengirim surat itu pasti akan memukul mereka kalau aku tidak segera menyingkir. Surat itu masih kupegang dan aku mulai di kelilingi rasa takut akan hal buruk yang mungkin terjadi padaku. Aku tak berhenti melihat surat itu.
Sayangku.
Kata kata itu membuatku merinding!
Siapa dia?
Merasa selalu dibuntuti membuatku gila. Mengucapkannya saja sudah cukup membuatku takut, apalagi mengalaminya seperti sekarang. Instingku mengatakan kalau itu bukanlah perbuatan orang jahil biasa seperti Prank, tapi itu merupakan pesan yang mengancam dari seseorang yang sangat berbahaya, seseorang yang dengan sengaja melakukannya. Aku menggigil ngeri saat mengingatnya dan memutuskan untuk segera memberitahu Candice besok pagi.
Mungkin sebaiknya aku melapor ke polisi terkait hal ini?
Aku berhenti di depan Cafe dan keluar dari Taxi setelah membayarnya.
Hari ini aku harus lembur di Cafe karena malam ini adalah akhir pekan. Diperkirakan akan ada banyak pengunjung yang berdatangan.
( Cafe tempat Sherry bekerja )

Tuan Anderson benar. Malam ini sangat sibuk. Bukan karena menjelang akhir pekan, melainkan ada sebuah acara perayaan hari jadi sepasangan suami-istri. Walaupun mereka sudah lama menikah, namun mereka terlihat seperti pasangan sejati yang saling mencintai.

Aku suka memperhatikan pasangan tersebut saat mereka mulai mencuri-curi pandang dan menatap satu sama lain dengan penuh cinta. Belum pernah aku melihat cinta semacam itu didalam keluargaku, karena di keluargaku hanya ada Ibu, Kelsey dan aku. Untuk itu, Aku sangat berharap, saat aku menikah nanti, suamiku akan mencintaiku dengan tulus dan penuh cinta. Seperti pasangan itu, walaupun sudah bertahun-tahun, namun cinta mereka tidak pernah pudar.
Sip malamku berakhir tengah malam, lebih lama dari yang kubayangkan. Setelah merapikan semua piring, aku pamit pulang. Kukira aku membawa mobil, ternyata tadi pagi aku diantar oleh Candice.
Sial!
Aku harus naik taxi, Malam-malam begini?
Tanpa basa-basi lagi, aku langsung mencharter Taxi online. Sambil duduk menunggu Taxi di kursi halte, sesekali aku melirik ke sekitar. Kulihat di sekelilingku sangat gelap gulita dan jalanan mulai sepi. Aku menoleh ke belakangku, kemudian melihat tiga orang laki-laki sedang menatapku. Kucoba untuk tidak menghiraukannya dan kembali berdiri menunggu Taxi. Setelah beberapa menit menunggu, aku membalikan badanku ke arah mereka dan kulihat mereka masih berada di posisi semula, menatapku dengan serius. Karena merasa takut, aku mulai berjalan menjauhi orang-orang itu. Pada saat di persimpangan jalan, aku menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya aku melihat mereka mengikutiku.
Ya tuhan....!
Ini tidak nyata! Sherry, kau pasti sedang bermimpi!
Aku panik, kemudian berlari menuju jalan raya, berharap ada orang yang dapat menolongku. Karena saat itu jam menunjukan pukul 12.00 malam, jalanan sudah sepi.
Aku melirik ke belakang dengan gugup dan kudapati jumlah mereka semakin bertambah.
Sampai di ujung blok perumahan, aku berlari sekencang mungkin. Saat aku hendak berbelok, seseorang menyekam mulutku dengan tangannya yang kuat dan menyeretku ke dalam gang. Aku ketakutan setengah mati dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman lelaki itu. Nafasku tersentak saat melihat lelaki itu berdiri di hadapanku.
Seseorang tolong aku!
Aku berada dalam bahaya.
Mereka akan menculiku, memperkosaku, bahkan lebih buruk dari itu.....membunuhku.
Ya tuhan, tolong aku!
Aku akan segera mati!
Aku akan segera mati!
Jantungku berdetak kencang saat berpikiran seperti itu, dan aku melakukan apa yang terlintas di benakku. Berteriak. Aku berteriak sekencang mungkin agar orang dapat mendengarku.
"Aaaakkkkhhhh.......! Seseorang tolooooong! Toloooong aku!!" teriakku, sekencang mungkin.
Dengan sigap, lelaki itu memukulku tepat di bagian pipiku hingga membuatku terdampar ke atas permukaan tanah. Aku merintih kesakitan dan merasakan aliran darah mengalir dari mulutku. Dia menarik rambutku dan membuatku menghadap wajahnya yang jelek itu.
"Dasar jalang! Beraninya kau berteriak!!" umpatnya, mengencam.
"Tugas kami hanya membawa dan menyerahkanmu pada boss, tapi sekarang," dia tersenyum licik, "Karena kau sudah memperlambat kami, mungkin kita bisa menambahkan sedikit petualangan yang takan pernah terlupakan dalam perjalananmu?"
Tidak, tidak, tolong!
"Tolong jangan sakiti aku! Kumohon!"
Pintaku, memelas sambil merangkak kebelakang karena takut. Yang lainnya hanya tertawa setuju mendengar ajakan lelaki bajingan itu. Aku menjerit dan tak kuasa menahan tangis.
Pintaku, memelas sambil merangkak kebelakang karena takut. Yang lainnya hanya tertawa setuju mendengar ajakan lelaki bajingan itu. Aku menjerit dan tak kuasa menahan tangis.
"Jangan mendekat! Kumohon jangan!" teriakku, menangis histeris,
Saat aku berlari, seseorang menangkapku disusul oleh rekan-rekannya. Kali ini dia memegang pisau di tangannya dan mengarahkannya pada leherku. Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana rasa takut mengelilingiku saat itu, seakan-akan aku sedang mengalami mimpi buruk. Keringat bercucuran dari wajahku dan mulutku berdarah karena pukulan tadi.
"Diam, dasar jalang! Berteriak sekali lagi, maka kau akan merasakan pisau ini memotong kerongkonganmu!!"
"B-baik" ucapku, gugup
Dia menarik tubuhku dan menyandarkanku ke tembok disusul oleh rekannya yang mulai memegang tangan dan kakiku. Aku merintih dan menjerit. Aku tidak bisa melawan karena mereka terlalu kuat.
Inikah akhir hidupku?
Akankah aku berakhir seperti ini?
Di tangan para lelaki hidung belang ini?
Akankah aku berakhir seperti ini?
Di tangan para lelaki hidung belang ini?
"Sayang sekali, gadis secantikmu harus berakhir seperti ini!!" sindirnya, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum puas seperti ada yang lucu denganku.
"Dimana pahlawan penyelamatmu sekarang, huh?? Akankah dia datang menyelamatkanmu layaknya super hero?" dia tertawa puas dengan matanya yang dipenuhi kebencian.
K-kenapa dia begitu membenciku?
Apa salahku?
Apa salahku?
Ibu, Kelsey, maaf....Sherry pergi tanpa pamit!
Mungkin ini akhir hidupku?
Aku terdiam pasrah saat lelaki bajingan itu mulai menyobek bajuku dengan pisau tajam. Badanku kaku tak bisa digerakan dan penglihatanku mulai kacau.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan Handgun di sampingku. Kulihat lima orang yang berada di belakangku telah tewas mengenaskan dengan luka tembakan di bagian kepala. Kini tinggallah tiga orang tersisa yang masih menahanku.
"Kau punya 5 detik untuk menjauh dari gadis itu kalau tidak, akan kupotong tanganmu itu!!" teriak seseorang dari arah belakangku.
Mereka melepaskan genggamanku dan mendorong tubuhku ke tembok lalu berlari menghampiri segerombolan orang dan mulai bertarung. Kepalaku membentur tembok dan penglihatanku mulai gelap. Darah mengalir dari kepalaku, tapi aku tidak merasakan sakit sedikitpun karena aku tidak dapat merasakan apapun lagi kecuali....
Kegelapan.
"Sherry, sayang, kumohon!! Bertahanlah! Jangan tinggalkan aku!!"
Siapa orang itu?
Mengapa dia menangis? Darimana dia tahu namaku?
Dan mengapa dia memanggilku sayang?
Aku membuka mataku ketika seorang pria memanggil-manggil namaku dan mengangkatku dengan kedua tangannya yang besar. Penglihatanku tidak terlalu jelas, jadi kupikir dia itu temanku atau warga sekitar yang melihatku kemudian menolongku.
"Oh tuhan, dia terluka!!" seru pria itu.
"Seseorang ambilkan kotak obat dan baju hangat di mobil!!" teriaknya panik.
"Bung, lebih baik kita bawa dia ke dokter sekarang!! Nampaknya dia memerlukan perawatan medis!"
"Kau benar!!"
"Sherry, sayangku, Bertahanlah!!" dia menangis.
Aku mencoba untuk mendengarkan kata-katanya dan membuka mataku Namun, aku tidak bisa. Mataku berat dan tubuhku terasa kaku seakan-akan tak bisa digerakan sama sekali. Aku tidak bisa melihat wajah lelaki itu. Akhirnya aku memutuskan untuk diam.
Dia melepas baju yang ia genakan lalu memakaikannya padaku. Seketika aku merasakan tubuhku mulai hangat. Dia terus bergumam padaku tapi aku tidak bisa mendengarnya. Tubuhku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Kemudian aku tidak sadarkan diri dan hal terakhir yang kudengar yang keluar dari mulutnya adalah....
"Jangan khawatir, Sherry! Kau akan baik-baik saja!! Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu! Aku berjanji! Tapi kumohon, jangan tinggalkan aku!! Bertahanlah untukku, sayang!"
******************************************
Author's Note
Oke readers itu tadi part 5 dari sekuel ini. Bagaimana menurut kalian terkait nasib Sherry? Akankah dia baik-baik saja? Saya minta bantuannya kepada kalian semua, jangan lupa di share, di komen dan di voting ya ceritanya.....biar banyak referensi lagi🙏🙏




Comments
Post a Comment