Chapter 9 : Ternyata Dia Penculiknya!





Warm Sayings From Author


Selamat datang kembali di blog saya readers, semoga kali ini kalian bisa lebih terhibur. Hanya satu pinta saya, jangan lupa di Vote, Comment dan Share ceritanya. Saya sangat menerima kritikan yang membangun.


Well, guess that's all I'd like to tell you for now. Thanks for your supports. Stay still and enjoy reading the story!




*****************************************


Sherry Birkin's Point Of View







Aku terbangun dari tidurku saat cahaya mentari pagi menyambutku dari balik gordeng kamar. Saat itu aku masih mengantuk dan mataku masih dalam keadaan tertutup. Samar-samar terdengar suara detak jantung yang terasa sangat dekat dengan telingaku. Kudengarkan detak jantung itu. Detaknya sangat teratur. Entah mengapa, aku merasa seperti sedang bersandar pada sebuah bantal persegi yang keras. Bantal itu terasa sangat nyaman dan hangat. Sesaat kemudian, bantal itu pun mengempis dan mengembung secara otomatis.


Ada rasa penasaran yang membuatku ingin beranjak dan mencari tahu benda itu. Namun karena aku masih mengantuk, aku enggan membuka mataku. Alih-alih bangkit, aku malah kembali menutup mataku dan mulai melanjutkan tidurku.


Saat sedang tertidur pulas, tiba-tiba sepasang tangan besar memeluk tubuhku dengan erat. Tangan itu mengelus-elus pundakku sehingga membuatku terjaga. Ketika aku membuka mata, betapa paniknya saat kulihat ternyata aku sedang bersandar diatas tubuh Alfred.


Apa? Tunggu, J-jadi yang tadi itu bukan bantal, tapi.........

Kulihat dia sedang tertidur pulas tanpa menggenakan baju dan tangannya tengah memelukku.


Tidak, tudak, tidak, tidak...........ini tidak benar!


Panik, aku langsung melepaskan pelukan pria itu dan menghindar jauh-jauh darinya. Tapi pelukannya erat sekali. Perasaanku mulai gelisah saat aku menyadari kalau aku telah tidur bersamanya. Terlebih lagi, aku tidur diatas tubuhnya. Aku sangat takut kalau-kalau dia berbuat sesuatu padaku. Segera kuperiksa sekujur tubuhku. Syukurlah, aku masih menggenakan pakaian. Kulakukan berbagai cara untuk melepaskan diri dari cengkeramannya, naman sayang, dia begitu kuat. Kucoba untuk membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipinya beberapa kali, namun dia seolah olah tak menghiraukanku. Semua usahaku sia sia. Karena kesal, akhirnya aku menggigit tangannya dan kudengar dia berteriak kesakitan.


Yes, berhasil!!


"Akhh.....! Sialan! Kenapaka kau menggigitku?!" teriaknya, yang akhirnya bangun dan melepaskan pelukannya.


"Apa yang kau.....lakukan?" tanyaku panik.


"Hhm...coba tebak. Aku, kau, tidur seranjang tanpa busana, kau sendiri pasti sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya" ujarnya sambil tersenyum puas.


"Hah...t-tidak....Jangan coba-coba menyentuhku!" teriakku, menjauh darinya.
"Sayangnya aku sudah menyentuhmu. Semalaman"


"S-semalaman. T-tidak, tidak mungkin! K-kau.....jangan bilang kau...."


"Menyetubuhimu? Oh, tentu saja, sayang. Hhmmm....aku suka bau tubuhmu. Harum dan lembut. Terima kasih untuk semalam sayang" ujarnya, sambil tersenyum menyeringai.


Mendengar perkataanya membuatku tak tahan ingin menagis sekencang-kencangnya. Tega sekali dia menodai kesuciaanku. Dia telah menculikku, menyeretku ke dalam dunianya, mengurungku di dalam rumahnya, merampas kebebasanku, harapanku dan sekarang, dia telah merenggut keperawananku. Dia benar benar berniat mengambil segalanya dariku. Dasar pria menyebalkan....!


"K-k-kau...tega sekali kau...? APA YANG TELAH AKU LAKUKAN PADAMU !!?" aku menjerit histeris dan tak berhenti mengeluarkan air mata. Kulihat Alfred mulai menatapku dan berjalan mendekat. Aku berlari menuju guci yang terletak di atas meja, mengambilnya dan melemparnya. Kuambil pecahan guci yang tajam dan kuarahkan padanya.



"Jangan mendekat! Kumohon...! Aku tidak ingin menyakiti siapapun!" perintahku, berharap agar dia berhenti mendekat.
Lagi lagi dia terus berjalan tanpa menghiraukanku.



"Mundur! Menjauh dariku!! Kumohon atau...." Dia kembali mendekat dan aku mundur kebelang hingga punggungku menyentuh tembok.



"Atau...?" alisnya berkerut, seolah- olah dia tak terpengaruh sama sekali.
Ketika aku hendak menusuk tanganku dengan pecahan guci tajam yang kupegang itu, Alfred berlari ke arahku dan mencoba menghentikanku.



"Sherry, Jangan.....! Dengarkan aku! jangan melakukan hal bodoh, Oke? Kau bisa menyakiti dirimu sendiri" ujarnya mencoba menenangkanku. Karena tak mau aku terluka, dia menjaga jarak.


Aku mundur beberapa langkah.


"Aku tidak peduli. K-kau.....kau telah menodaiku. Lebih baik aku mati dari pada aku harus bersamamu!!"


"Sherry, sialan! Baiklah.....dengar, aku berbohong padamu! Aku tidak menyetubuhimu. Semalam aku hanya memelukmu karena kau terlihat sangat ketakutan. Jadi kumohon, tenanglah!"


"K-kau tidak sedang bergurau kan?"


"Tidak, aku serius. Aku hanya menakut-nakutimu. Sekarang buang jauh-jauh benda itu dari hadapanku!!" perintahnya cemas.


"Aku tahu kau akan terluka jika aku melakukannya. Dengar, aku tidak ingin menyakitimu, Sherry" ucapnya terus terang. Matanya yang biru berkilauan memancarkan ketulusan. Dia mengangkat daguku dan meletakkan tangannya di kedua pipiku. Tangannya yang kasar dan besar itu mengelus-elus pipiku dengan lembut.


Saat hendak kuletakkan pecahan guci itu dihadapannya, kakiku terpeleset dan tanganku tergores benda tajam. Alfred yang berada di sisiku langsung meraih tanganku dan memeriksa lukaku. Darah mengalir dari jariku dengan derasnya.


"Dasar bodoh! Aku menyuruhmu untuk membuangnya!" Alfred mengambil tanganku.


"M-maaf, aku...."


Dia menekan jariku yang terluka dan mengulumnya. Jariku terasa hangat saat dia mulai menghisapnya. Aku menatapnya beberapa saat. Matanya menatapku dengan penuh kasih.


Alfred mengoleskan alkohol dan membaluti jariku dengan perban kecil dan berkata, "Sekarang lukanya tidak akan sakit."


"Terima kasih"


"Jangan lakukan hal bodoh itu lagi, paham!"


Aku menganggukan kepala.


"Sekarang makan ini!" dia mengambil makanan yang ada di baki dan memeberikannya padaku,
"Kau tidak makan?" tanyaku, aku tidak bermaksud menawarkannya tapi aku tidak biasa makan dihadapan orang lain.


"Tidak. Aku tidak lapar. Kau saja yang makan" jawabnya, menggelengkan kepala. Terlintas senyum kecil di bibirnyanya.


Kenapa juga aku harus memperdulikannya?
Biarkan saja dia, Sherry!


"Baiklah."


Aku melanjutkan makan sampai semua makanan yang ada di piring habis. Tangan Alfred meraih segelas jus yang ada di atas nampan dan memberikannya padaku. Aku mengambilnya lalu meneguknya. Saat aku melirik ke arahnya, kulihat dia sedang menatapku dengan seksama. Sesekali dia tersenyum sambil melihatku.


"K-kenapa....semua yang ada di kamar ini persis seperti yang kuinginkan selama ini? Lemari pakain, kamar mandi, dinding dan rak buku yang tersusun rapi." tanyaku dengan ragu.


"B-bagaimana mungkin itu bisa terjadi?"


"Aku punya cara tersendiri. Aku memiliki segalanya. Dan itu tidaklah sulit bagiku" jawabnya dengan angkuh.


Cara apa? Ini benar benar mustahil. Aku tidak habis pikir kenapa orang ini bisa melakukan hal semacam itu? Atau....! Oh tidak....


Aku terkejut saat mengingat sebuah mobil yang selalu membuntutiku kemanapun akau pergi. Jangan jangan, dia adalah.....


"Kau....jangan jangan kau....kau adalah orang yang selama ini selalu membuntutiku?" jantungku berdetak kencang.


Alih-alih menjawabku, dia malah tersenyum.


Jadi selama ini dia.....


Melihatnya tersenyum membuat kemarahanku memuncak. Aku tidak tahan lagi, "Kau sakit! Kau sudah tidak waras!" teriakku dengan kasar, "Tega sekali kau melakukan ini padaku?! Dasar kau monster berandal!!" teriakku.


Mendengarku berteriak, Alfred mendongak dan membelalak kepadaku.


"Diam !!!" teriaknya dengan keras membuatku tercengang seketika. Dia memukul tembok di sampingku dengan keras hingga kulihat tangannya berlumur darah. Melihatnya mengamuk, jantungku berdetak sangat kencang tak karuan dan darahku seakan berhenti mengalir karena ketakutan. Ternyata dia adalah orang yang selama ini selalu membuntutiku, yang berarti dia mengetahui segalanya tentang aku, dia tahu dimana aku tinggal, dengan siapa aku duduk dikelas, siapa saja yang berbicara denganku, termasuk tempat yang biasa aku kunjungi. Dia mengetahui alamat rumahku. Dia selalu mengawasiku didalam mobil dari kejauhan. Itu adalah mobilnya. Mobil hitam yang selalu mengikutiku dan terparkir tak jauh dari rumahku, itu adalah dia. Sebulan lebih, aku benar benar bodoh karena membiarkan orang jahat dan berbahaya seperti dia membuntutiku.
Saat itu pikiranku benar-benar kacau. Aku merasakan aura jahat dan dingin saat melihat caranya menatapku. Dari tampangnya yang sadis, sepertinya dia sudah terbiasa membunuh orang. Dia suka membuat orang ketakutan seperti yang dia lakukan padaku sekarang.


Sherry, dia hanya akan menggunakanmu selama dia menginginkannya, ketika dia sudah bosan, dia pasti akan membunuhmu dengan sadis....


Aku hanya bisa menangis saat mengingat akan hal itu. Betapa malangnya nasibku ini. Aku tidak percaya apa yang telah terjadi padaku dan aku tidak ingin mempercayai kenyataan kalau aku telah diculik. Ya tuhan, apa yang salah denganku? Apa yang telah aku lakukan di masa lampau sehingga aku harus berakhir seperti ini?


Mataku memerah dan bengkak karena terlalu lama menangis, wajahku dipenuhi dengan air mata.


Penculikku tidak berbicara sepatah katapun. Tak satupun dari kami yang berbicara. Hanya suara isak tangisku yang terdengar di kamar. Dia hanya terdiam membisu di atas sofa dekat jendela. Pandangannya tertuju ke luar jendela. Setelah beberapa menit dia kembali menatapku. Terlintas expressi menyesal di wajahnya saat melihat wajahku kemudian dia tersenyum. Aku mengabaikannya solah-olah dia tak ada di kamar.


Abaikan saja dia, Sherry!


Tak lama kemudian, dia bangkit dan keluar meninggalkan aku sendiri di kamar. Lega rasanya dia tidak ada di kamarku karena aku bisa bebas istirahat tanpa harus khuatir dia akan menyentuhku. Berdua dengannya hanya membuatku semakin ketakutan.


Setelah itu aku tertidur pulas.....


Saat aku terbangun, kudapati sepasang mata sedang menatapku.


Dia....


"Sedang apa....kau disini?" tanyaku, dengan nafas terengah-engah karena panik.


"Bukankah sudah sewajarnya aku berada di kamarku....sendiri?" Dia tersenyum sambil menekan kata 'sendiri' saat mengucapkannya.


".......B-berapa lama aku tertidur?" aku balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaannya.


"Seharian penuh. Lebih tepatnya, kau tidur sepanjang hari" dia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiriku.


"Kau...kau tidak...melakukan sesuatu...saat aku tertidur, kan?"


"Jangan khawatir, aku hanya menatapmu seharian" jawabnya, sambil duduk di sampingku.


"Kenapa kau lakukan itu?"


"Entahlah. Aku suka memandangmu saat kau tidur. Bagiku, kau seperti pemandangan indah yang tak ingin aku lewatkan" jawabnya, tersenyum manis.
Kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu kamar.


"Masuk!"


Aku tersentak mendengar suaranya.
Seorang pelayan wanita masuk ke kamar dengan nampan yang dipenuhi makanan di tangannya.


"Tuan Alfred, makan malam anda, Tuan."


"Simpan disana dan keluar!" perintahnya dengan tegas sambil tak mengalihkan pandangnnya sedikitpun dariku,
Dia mengambil sepiring sandwhich dan menyerahkannya padaku.


"Makan."


"Aku tidak lapar."


"Aku tidak bertanya," ucapnya dengan kasar "aku bilang makan!" kali ini suaranya agak naik.


Kemarahanku memuncak mengingat dia telah menculikku, mengurungku di kamar dan sekarang dia memerintahku seenaknya....


"Dan aku bukan budakmu yang selalu menuruti semua perintahmu!" Bantahku, kesal, "Aku tidak lapar dan aku tidak mau makan!"


Kulihat otot rahangnya menegang dan tangannnya yang memegang piring mengeras. Aku mundur karena takut namun dia segera menghampiriku dan mengepal rambutku agar aku melihat wajahnya, lalu dia mendorongku ke tembok.


"Apa kau bilang? Apa kau tidak sadar apa yang baru saja kau katakan, huh?"


"Justru karena aku sangat sadar, maka dari itu aku mengatakannya" timpalku.


Dia melepaskan tangannya yang mencengkram rambutku lalu tersenyum.


"Baiklah, jika itu maumu. Aku sudah memperingatkanmu" jawabnya dingin.


Aku memperhatikan gerak geriknya menunggu konsekuensi apa yang akan aku hadapi setelah kubuatnya kesal. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku hitamnya lalu meletakan alat tersebut pada telinganya.


"Portami una corda ora!" ( bawakan aku tali sekarang ) ucapnya sambil menatapku dengan dingin. Karena dia menggunakan bahasa asing, aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Entah itu bahasa perancis, spanyol, atau itali aku tidak yakin. Aku tahu dia sedang merencanakan sesuatu dan aku sudah siap menghadapinya.


Aku terdiam dan mencoba untuk tegar dan tidak panik guna mengatasi rasa takutku. Aku tidak ingin terlihat lemah dihadapannya. Namun tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan rasa takutku. Rasa takut kalau-kalau dia menyakitiku atau bahkan membunuhku dengan sadis. Aku hanya berharap dia tidak terlalu kejam saat menyiksaku.


Semoga saja tuhan melindungiku.


Seseorang tolong aku.....


Dia tidak melirikku sedikitpun. Pandangannya tertuju pada pintu kamar ini.


Tiba tiba seseorang mengetuk pintu dan munculah pria berbadan tegap dengan tato di sekujur tubuhnya. Kepalanya botak dan dia menggenakan pakain hitam dengan seuntai tali di tangannya. Saat itulah aku mulai gelisah.


"Questa è la corda che hai richiesto, signore." ( Ini dia tali yang kau minta Tuan ) ujar pria itu sambil memberikan seuntai tali pada Alfred.


Sekarang aku benar benar menyesal karena aku tidak mengambil kursus bahasa asing di kampus.


Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka katakan.


Aku terdiam dan terus memperhatikan percakapan mereka meskipun aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Aku tahu mereka akan melakukan sesuatu padaku.


"Bene, legalo....!!" ( Bagus, ikat dia...! ) ujarnya, tegas.


Lelaki itu mulai berjalan mendekat ke arahku dan mencengkram kedua tanganku. Dia mengikat erat tanganku dengan tali yang ia bawa.


"Tidak, tidak, tidak.... Jangan....." teriakku, ketakutan.


"Tolong lepaskan aku...! Kumohon jangan sakiti aku...!"


"Hai fatto un grosso errore perché hai reso il nostro capo arrabbiato." ( Kau telah membuat kesalahan besar karena sudah membuat boss kami marah )


"Portalo nella cella!" ( Bawa dia kedalam sel !) gumamnya, lalu keluar dari kamar.


"Bene, signore." ( dimengerti Tuan )
Aku mencoba melepaskan tali yang mengikatku dengan erat, namun laki laki itu datang dan membopongku ke atas pundaknya. Karena aku tak berhenti menangis dan berteriak, dia menyumpal mulutku dengan kain hingga aku tak bisa berbicara dan menepuk pundakku.


"ora, stai zitto e goditi il ​​tuo spettacolo ...!" ( sekarang diamlah dan nikamati pertunjukanmu....! ) kudengar di bergumam padaku sebelum semuanya berubah menjadi gelap.


Saat itulah aku sadar kalau.... aku dalam masalah!


******************************************


Author's Note



Jangan lupa dishare, Follow, komment dan votting ya....
Until then,
Break a leg!!!


Comments

Popular Posts