Chapter 8 : Monster Berwujud Manusia
There is only one word I'd like to tell, that is Enjoy reading! Hope you guys find it useful as well asa entertaining! (Saya hanya mau bilang Selamat membaca! Semoga bermanfaat dan dapat menghibur)
Attention To All Readers
Saya menerima dengan senang hati atas kritik dan komentar yang kalian ajukan. Karena yang demikian itu dapat Meningkatkan kualitas blog saya. Jangan lupa di share, comment, vote Di wattpad.
******************************************
Sherry Birkin's Point Of View
Aku menampar wajahnya dengan keras.
Seketika dia mengepalkan tangannya dan menghantam guci yang berada di sampingku. Kulihat urat leher dan otot lengannya mulai menegang, pertanda bahwa dia sedang marah. Matanya menatapku dengan tajam dan aku merasa tanganku berkeringat karena tatapannya yang terlihat sangat membara itu. Dia menghela nafas lebar-lebar sambil memelototiku lalu berjalan mendekatiku dan tepat sebelum aku menyadarinya, dia sudah mengangkat tubuhku keatas bahunya dan mulai berjalan. Aku berusaha melepaskan diri dari cengkraman orang itu dengan memukul-mukul punggungnya sekuat tenaga sambil berteriak-teriak minta tolong. Tiba-tiba bokongku tersentak karena pukulannya yang kencang, membuat pinggangku kesakitan. Aku pun berhenti memberontak dan mulai menyucurkan air mata.
Tidak, tidak, lepaskan!
Dia membawaku ke dalam sebuah kamar dan melemparku ke atas kasur. Beberapa menit kemudian, tubuhnya talah berada di atasku, mendekapku dengan kedua tangannya yang berotot. Aku menangis ketakutan saat berpikir bahwa dia akan menyakitiku dan bahkan membunuhku dengan sadis.
Dia mencondongkan kepalanya ke arahku hingga jarak kami tinggal beberapa inchi lagi.
Aku kembali mengingat kejadian di kamar mandi tadi, dimana dia hampir menciumku. Namun kali ini, mata yang hitam dipenuhi nafsu itu berubah menjadi tatapan kemarahan.
"Lain kali, jika kau berani bermain tangan padaku!" ancamnya serius, "Akan kuperkosa kau dengan kasar dan tanpa ampun sampai kau tidak bisa berjalan selama seminggu!!!" aku menggigil mendengar ancamannya yang terdengar sangat keji itu, "Aku akan meng****t mulutmu dengan kasar hingga kau bisa merasakan p***s ku yang sangat besar didam mulutmu setiap kali kau berbicara kasar!! Ini merupakan yang pertama sekaligus yang terakhirkalinya aku memperingatimu. Kedepannya tidak akan ada peringatan lagi!!" Pekiknya, penuh emosi. Matanya membara, mengancamku.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Wajahku benar-benar pucat dan aku sangat ketakutan sekali. Aku menatapnya sambil tak berhenti menangis.
"Apa aku sudah jelas, sayang?" tanyanya,
Dengan lemas, aku terpaksa menganggukan kepala.
"Kehabisan suara? Aku ingin kau mengucapkannya sayang!" perintahnya, dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
"I-iya" jawabku, gugup, diikuti dengan tetesan air mata yang membuat mataku membengkak.
"Bagus!" dia mencondongkan kepalanya hingga kami saling bertatapan kemudian mencium keningku, "Berhentilah menangis seperti itu, sayang! Hatiku terluka setiap kali kau menangis" ujarnya, lalu berjalan ke luar kamar meninggalkanku terkapar di atas kasur.
Aku terbaring lesu, tak tahu apa yang harus kuperbuat. Mataku bengkak dan sekujur tubuhku terasa mati rasa. Pikiranku masih tidak bisa menerima kenyataan kalau aku telah diculik oleh orang yang awalnya kukira adalah penyelamat.
Ini hanya mimpi, ini tidak nyata. Aku mencubit tanganku berkali-kali namun tak ada yang berubah. Semuanya masih terlihat sama, dan aku tidak bangun sama sekali. Berarti aku tidak sedang bermimpi.
Ini nyata...
Ya tuhan aku diculik!
Ibu pasti sangat mengkhawatirkanku. Dia pasti sedang mencari-cariku. Dia pasti mencemaskanku. Mungkinkah ini adalah akhir dari hidupku? Mungkinkah aku tidak akan melihatnya lagi? Air mata kembali menetes. Ibu pasti sangat mencemaskanku.
Aku membayangkan segala kemungkinan buruk yang akan menimpa diriku selama aku bersama orang sadis itu. Aku menggelengkan kepala dan kembali tersedu karena tak kuasa menghadapi kenyataan pahit yang sedang kualami ini.
******************************************
Mataku terbuka saat mendengar pintu kamarku diketuk. Penasaran, aku langsung bangkit dan menoleh jam yang berada di atas dinding, ternyata aku telah tertidur selama 2 jam. Aku kembali mendengar suara ketukan pintu itu, kemudian seorang pria dengan nampan yang berisi makanan berjalan mendekatiku. Dia berdiri di hadapanku dan berkata, "Permisi nona, Tuan Alfred Muller menyuruh anda untuk menghabiskan makanan ini!"
Aku menganggukan kepala.
"Simpan saja di sana" dia menuruti apa yang aku katakan, lalu pergi keluar kamar.
Mataku beralih pada Pizza berukuran besar dengan topping keju di atasnya tertera di atas meja tepat di sebelah sampingku. Aku tidak sudi melihatnya apalagi memakannya. Selera makanku hilang saat tahu orang yang membelinya adalah Alfred.
Sepanjang hari, kuhabiskan waktuku menangis tersedu sampai-sampai mataku bengkak, bibirku kering, dan rambutku berantakan. Aku benar-benar kacau. Sesekali perutku berbunyi mungkin karena dari pagi aku belum makan. Aku menoleh pitza yang ada diatas meja itu. Kulihat tutup kemasannya tergeletak di atas lantai. Kulihat pula pitza itu tampak masih utuh dan kini aromanya tercium menusuk hidungku, membuat perutku semakin memberontak.
Sekitar jam 9 malam, aku mendengar kenop pintu berputar dan seorang pelayan yang sama berdiri di depan pintu. Aku tidak memiliki tenaga lagi untuk menyuruhnya pergi, aku hanya diam dan membiarkannya berbicara.
"Maaf Nona, Tuan Alfred Muller menyuruh anda untuk makan malam di bawah!" ujarnya.
Aku langsung marah saat pelayan itu mengucapkan nama bosnya, "Katakan padanya, aku tidak lapar!"
"Tuan sudah mengingatkan anda sejelas mungkin agar anda menuruti perintahnya, nona" dia memberitahuku. Darahku memanas saat mendengarnya berbicara seperti itu.
"Katakan pada boss anda yang menyebalkan itu, makan saja sendiri karena aku sudah kehilangan nafsu makanku begitu mendengar namanya. Dan katakan juga padanya, lupakan tentang peringatan! Karena aku tidak peduli dengan peringatannya!" teriakku dengan lantang. Aku sengaja berteriak agar terdengar olehnya dari bawah.
"Nona, k-kami tidak diperbolehkan untuk membantah p-perintahnya. Tuan Alfred Muller akan sangat marah dan dia tidak akan senang terhadap jawaban anda. H-harap ikuti....." tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu seseorang yang berjalan mendekati pintu kamar. Seketika pelayan tersebut terdiam dan menunduk seolah-olah sedang memberi penghormatan kepada sang raja.
"Tidak apa-apa, Robert. Kau boleh pergi. Siapkan saja makan malamnya dalam waktu 15 menit. Aku akan segera kesana." ujarnya dengan suara pelan. Matanya tak sedikitpun teralihkan dariku.
Tamatlah aku!
Pelayan itu menganggukan kepala lalu bergegas keluar dari kamar meninggalkanku dan penculikku. Alfred yang sedang berdiri menatapku, perlahan menutup pintunya lalu kembali menatapku. Dia menyingsingkan lengan bajunya dan berjalan mendekatiku. Jantungku tiba-tiba berdetak sangat kencang tak terkendali dan mataku kembali berair. Tubuhku bergetar dan keringat mulai membasahi tanganku. Segera aku menutup mataku.
Oh dia marah!
Bersiaplah untuk mati Sherry!
Saat kubuka mataku, Alfred telah berada dihadapanku, "Kurasa aku telah memperingatimu dengan jelas tadi pagi." dia memegang daguku. "Aku sudah bilang padamu, jangan membantahku!!!" bentaknya, dengan keras.
Aku mundur sedikit demi sedikit hingga punggungku menyentuh ujung ranjang. Dengan sigap, tangannya menangkap kedua tanganku lalu medekapku hingga tidak ada lagi ruang diantara kita.
"Sekarang, kau tidak akan bisa lari dariku." ujarnya, dengan suara yang serak.
Melihatku menangis ketakutan, tangannya beralih maraih pipiku. Perlahan, dia menghapus air mataku, "Hhmmm.....jangan menangis, sayangku." bisiknya kedalam telingaku.
Kulihat dia mulai mencondongkan kepalanya ke arahku lalu mendaratkan kedua tangannya disamping kanan dan kiriku, membuatku terjebak diantara kedua tangannya yang besar itu. Kupalingkan wajahku ke samping, namun tangannya menangkap daguku hingga kepalaku tak bisa kugerakan lagi. Wajahnya semakin mendekat hingga kini kami saling berhadapan. Tiba-tiba saja bibirnya menghantam bibirku, gerakannya menuntutku untuk membuka mulut. Kurapatkan bibirku sambil menahan tangis agar dia berhenti menciumiku. Alih-alih berhenti, dia malah melakukannya dengan kasar dan mulai menggigit bibirku sampai kurasakan cairan matalik mengalir.
"Buka mulutmu, sayang." pintanya.
Aku terdiam. Hanya air matalah yang mampu mengekpresikan duka disaat birbirku tak mampu bersua lagi.
"Buka mulutmu!!!!" bentaknya,
Lagi-lagi aku hanya terdiam tanpa menghiraukan perintahnya.
"Kenapa kau selalu membantahku, Huh?" tanyanya sambil menekan kedua lututnya ke atas kasur dan merapatkan keningnya ke arahku, "Apa kau tidak tahu siapa aku sebenarnya?"
Aku masih tetap terdiam.
"Bicara."
Aku menggelengkan kepala.
"Aku bilang, bicara sialan!" kini suaranya agak membentak.
"T-tidak t-tahu" aku menggelengkan kepala dan menghapus air mataku.
"Kau pernah mendengar nama Alfred Muller?"
"Aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu."
"Hemm... Tak ada yang pernah berkata seperti itu sebelumnya. Aku tidak habis pikir kemampuan seperti apa yang kau miliki sehingga kau berani berkata seperti itu padaku. Kau sudah siap mati?" ucapnya mengancam sambil mengangkat daguku dengan tangannya.
"K-kurasa....m-mati.... l-lebih baik."
"Sherry!!" teriaknya, geram. Tangannya mencengkram leherku dan kulihat dia berusaha mengontrol emosinya sekuat tenaga.
"Cukup! Kali ini aku tidak main-main denganmu. Jangan mengetes kesabaranku, paham!" tegasnya, mempererat cengkramannya. Suaranya yang geram benar-benar membuatku takut,
Aku mengaggukan kepala dan saat itulah cengkramannya terlepas dari leherku. Sesaat kemudian, dia mulai memelukku, mengelus-elus rambutku.
"Gadis baik. Sekarang jawab pertanyaanku. Apa nama Alfred Muller mengingatkanmu pada seseorang?" tanyanya,
Aku berpikir sejenak untuk mengingatnya.
Alfred Muller......
Ketika dia melihat ekspresi wajahku yang tidak meyakinkan, dia mengambil Handphone dari dalam sakunya. Dia membuka kunci layarnya dan men-serching sesuatu di google lalu menunjukannya padaku. Kulihat layar Handphone itu dan disana tertulis daftar nama-nama orang. Alisku berkerut saat mengamati nama orang-orang tersebut. Ohh ternyata itu sebuah berita. Disana tertulis,"Orang Hilang Lebih Dari 5 Tahun" semuanya berjumlah 50 orang. Aku mulai bingung dan penasaran apa yang terjadi dengan orang-orang hilang itu.
Aku menoleh Alfred. Kutatapnya dengan wajah penasaran seolah menuntut penjelasan yang komplit.
"Kau tahu kenapa polisi tidak bisa menemukan mereka?" tanyanya padaku. Aku hanya terdiam. Dia memberiku waktu untuk menebaknya. Namun tiba-tiba dia menekan layar Handphone-nya dan.....
Oh ya tuhan.... itu tubuh manusia
Aku melihat potongan tubuh manusia berserakan di dalam sebuah sell yang dipenuhi bercakan darah, sangat mengerikan. Bagian tubuhnya tergeletak secara terpisah dan organ tubuhnya berhamburan dimana-mana menghiasi cairan merah yang memenuhi sel. Kepala, kaki, tangan, mata, dan.....ohh ya tuhan.... aku tidak sanggup melihatnya lagi. Dan yang paling aku takutkan adalah seseorang yang berdiri di dekat tumpukan potongan tubuh itu dengan baju yang berlumur darah serta tangannya yang menggenggam organ tubuh, O-orang itu....... D-Dia....dia adalah orang yang sekarang berada di hadapanku.
Ya tuhan.....
Orang itu bukan manusia!
Dia benar-benar bukan manusia!
Dia benar-benar bukan manusia!
Dia adalah monster sadis yang berwujud manusia!
"K-k-kau m-mem...b-bunuh m-mereka?" Jawabku, terbata-bata. Aku benar-benar takut kalau-kalau dia menyakitiku setelah aku melihat gambar itu.
Dia tersenyum menyeringai dan berkata dengan bahagia, "Hemm....Sekarang bayangkan apa yang bisa kuperbuat padamu? Jadi sayang, kau lihat, Aku bisa saja mematahkan lehermu yang lembut ini sampai kau mati dalam sekejap dan takan ada seorang yang tahu. Jika aku mau, aku bisa saja membunuhmu dan menyetubuhimu tanpa ampun saat ini juga dan tidak akan ada orang yang datang menolongmu, sayang." bisiknya kedalam telingaku, membuat sekujur tubuhku terlunglai lesu, kemudian suaranya berubah menjadi geram,
"Untuk itu, kuperingatkan kau untuk yang terakhirkalinya, Jangan coba-coba mengetes kesabaranku karena selama ini aku sudah berusaha bersikap baik padamu dan kau selalu membuatku marah! Jadi, lain kali saat kau berbicara padaku, berpikirlah terlebih dahulu sebelum kau membuka mulut pintarmu itu! ya sayang?"
"Untuk itu, kuperingatkan kau untuk yang terakhirkalinya, Jangan coba-coba mengetes kesabaranku karena selama ini aku sudah berusaha bersikap baik padamu dan kau selalu membuatku marah! Jadi, lain kali saat kau berbicara padaku, berpikirlah terlebih dahulu sebelum kau membuka mulut pintarmu itu! ya sayang?"
Apa? Perlakuan kasar yang selama ini dia tunjukan padaku menurutnya adalah cukup baik?
Orang ini memang tidak tahu apa itu artinya baik. Baik menurutnya adalah menganiaya orang tanpa membunuhnya....
"Y-ya" air mata mengalir di pipiku dengan derasnya, tak kuasa menahan takut.
"A-apa aku b-boleh bertanya sesuatu?" tanyaku, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Tentu saja, sayang. Aku akan menjawabnya dengan senang hati"
"Apakah kau anggota gang Mafia?" sebenarnya aku sudah yakin dia bahwa adalah anggota gang mafia, karena mereka identik jahat dan misterius persis seperti Alfred.
"Kurang lebih seperti itu." jawabnya menatapku. Setelah beberapa saat terdiam sejenak, dilanjutnya lagi, "Lebih tepatnya, aku boss mereka."
"J-jadi, m-maksudmu aku.....aku telah...." aku sangat takut dan tidak berani mengucapkannya,
"Ya, sayang, kau benar. Kau telah diculik oleh boss Mafia."
Aku sudah tidak bisa menahan tangis lagi. Kubiarkan air mata mengalir dengan derasnya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi. Aku hanya bisa terdiam membisu, menangis tersedu, dan terbaring lesu di atas kasur. Tiada lagi harapan yang ceria bagiku. Mungkin aku akan berakhir seperti ini. Tubuhku seakan tak kuasa lagi menahan bebanku hingga.......aku pun tak sadarkan diri.
Aku bangun tengah malam karena perutku meronta-ronta kelaparan. Kulihat Alfred sedang duduk di kursi dekat ranjang memandangiku. Dia langsung berdiri saat melihatku terjaga.
Sedang apa dia?
"Kenapa kau ada disini?" tanyaku.
"Apa aku salah berada di rumahku sendiri?" jawabnya, bertanya balik.
Oh ya dia benar.
Tapi kenapa harus di kamarku? Maksudku Dikamar ini......
"Yaa a-aku tahu. Tapi kenapa kau tidak tidur di kamarmu sendiri?"
"Aku tidak tidur. Aku sengaja menunggumu. Aku tahu kau pasti akan bangun tengah malam karena kau belum memakan apapun dari tadi pagi" dia mengambil sepiring sandwhich yang ada di atas meja, "Dan sekarang, kau harus makan."
"Aku tidak lapar" aku berbohong dengan sangat tidak efisien karena setalah aku mengutarakan kalimat itu, tiba-tiba suara keroncong terdengar dengan nyaringnya dari dalam perutku.
"Sherry, jangan paksa aku untuk melakukan hal yang tidak kau inginkan. Aku tidak ingin menyakitimu."
Aku tidak mendengarkan perkataannya. Aku tetap terdiam. Dia mendesah kesal dan menaptaku.
"Kau mau aku melakukannya dengan cara kasar atau dengan cara lembut? Kau yang memilih." dia memperingatkanku. Matanya mulai memerah dan suaranya berubah menjadi geram,
"Baiklah. Aku sangat yakin kau akan menyesal." gumamnya. Aku menundukan kepalaku dan menunggu konsekuensi dari perkataanku tadi.
Tiba-tiba dia melepaskan baju yang dia genakan dan melemparnya ke lantai. Aku langsung terkejut melihatnya dan mulai membayangkan hal-hal yang tidak kuinginkan. Kemudian dia melepas celana jeansnya dan kini dia hanya memakai celana boxer kecil yang tipis. Dia telanjang bulat di hadapanku. Aku menjerit dan menutup mataku saat dia datang mendekatiku. Dia memegang kedua tanganku dan mencium leherku, kemudian beralih ke pipiku dan akhirnya berhenti saat menatapku. Aku menatapnya berharap agar dia segera melepaskanku. Kali ini aku tidak bisa menangis lagi, mungkin karena air mataku sudah terkuras habis.
"Kau tahu? Jika kau tak mau makan, aku akan memperkosamu dengan kasar, sangat kasar hingga kau akan menghabiskan waktu di kasur seharian."
"Tolong jangan lakukan itu! Aku mohon! Aku akan makan, aku akan makan, aku janji." pintaku, panik dan ketakutan.
"Sekarang sudah terlambat, sayang. Tiada ampun bagimu." bisiknya kedalam telingaku.
Kuletakan tanganku di pipinya dan kutatap matanya agar aku mendapat perhatiannya. Dia menatapku dengan iba dan berkata, "Sialan! Jangan menatapku seperti itu! Aku tidak akan tahan!" kini aku menyentuh kedua pipinya dengan tanganku dan menangis dihadapannya. Mungkin ini satu-satunya cara untuk menghentikannya. Kulihat dia mulai terpengaruh dan menatapku dengan iba, "Baiklah. Sialan! Kau memelas dengan wajah cantik seperti itu, Aku tidak tahan!"
Berhasil!
Sial, Aku benci melakukannya tapi aku tidak punya pilihan lain.
Dia melepaskan genggamannya dan mengambil sepiring sandwhich yang ada di atas meja kemudian menyerahkannya padaku. Aku memakannya dengan lahap karena dari pagi aku belum makan apapun.
Saat sedang menyantap sandwhich, sesekali aku menolehnya. Kulihat matanya tertuju padaku, menatapku dengan penuh perhatian. Aku tidak pernah melihat orang yang menatapku seserius itu seakan-akan aku ini panorama indah yang baru pertama kali dia lihat. Aku tak habis pikir apakah dia tidak merasa bosan menatapku seharian penuh. Pria aneh.
Setelah selesai makan, kuletakan kembali piring tersebut di atas meja lalu kemabali merebahkan badan. "Beristirahatlah senyaman mungkin! petualanganmu yang sesungguhnya baru akan dimulai besok. Aku ada di luar jika kau membutuhkanku. Selamat malam, sayang!" ucapnya, sembari menyelimutiku dengan selimut tebal yang berwarna abu. Alffred menempelkan bibirnya pada keningku, menahannya beberapa saat, kemudian berlalu dari hadapanku.
Tanpa menghiraukannya, aku langsung menutup mata.
To be continued.........
To be continued.........
******************************************
Author's Note
Sungguh cinta yang tragis, atau mungkin seharusnya ini Cruel Love Aja ya? Tapi udah banyak yang pake si, jadi males mendingan bikin yang lain aja.
Thanks for visiting and reading my blog! Steak around, 'cause I'm not done yet publishing the story......
Jangan lupa di vote di Wattpad ya!
Until then, Ciao!
Author's Note
Sungguh cinta yang tragis, atau mungkin seharusnya ini Cruel Love Aja ya? Tapi udah banyak yang pake si, jadi males mendingan bikin yang lain aja.
Thanks for visiting and reading my blog! Steak around, 'cause I'm not done yet publishing the story......
Jangan lupa di vote di Wattpad ya!
Until then, Ciao!



Comments
Post a Comment